Pembalasan Pangeran Hutan

Pembalasan Pangeran Hutan
Bab 30. Rekan Satu Tim #4


__ADS_3

Deerar lalu berkata, "sebelumnya, terima kasih karena kau dan temanmu sudah menyelamatkan nyawaku dan sepupuku. Aku tahu bahwa kau adalah Nial, anak dari Sang Raja Helion. Aku pernah melihat mu ketika di acara Perayaan Tahunan dulu. Mungkin kau tidak mengenalku. Tapi aku tahu bahwa ayahmu adalah Sang Raja yang bijaksana. Aku turut berduka soal kematian ayah dan ibumu."


Rilia kemudian bertanya pada Deerar, "dari mana kau tahu soal kabar kematian Sang Raja?"


Dere lantas langsung menjawab pertanyaan Rilia, "sebagian suku sudah mengetahui berita itu, termasuk suku kami. Dan Suku kami dihancurkan karena kami tidak mau mengakui Tigerly sebagai Sang Raja. Lalu ayah dan ibuku mengorbankan dirinya agar kami bisa selamat sampai saat ini." lalu meneteskan air mata karena tahu bahwa ayah dan ibunya tak akan selamat.


Pota tiba-tiba melangkah kehadapan Dere dan berkata, "percayakan dirimu padaku, sang Putri. Takkan kubiarkan para orang bodoh ini mengganggumu." dengan gaya sombong dan sok berwibawa.


Bullan langsung kesal dengan perkataan Pota, "sepertinya kita harus menutup mulut bocah kecil ini untuk selamanya."


Goran, "aku sependapat denganmu, Bullan. Lebih baik kita singkirkan Pota sebelum perkataannya semakin tidak masuk akal."


Pota, "diam kalian!" berpura-pura tegas. "sekarang aku mau bertanya, kalian berdua dari Suku Rusa, apakah kalian mempunyai tujuan?"


Deerar lalu menjawab, "kami tidak mempunyai tujuan. Kami hanya ingin melarikan diri dari kejaran Suku Hyena. Apakah kalian mempunyai tujuan hendak pergi kemana?"


Nial berpikir sejenak dan kemudian berkata, "kalau begitu, kalian bisa bergabung bersama kami. kami hendak pergi ke Wilayah Suku Beruang. Kami ingin menjalin aliansi dengan Suku tersebut. Semakin banyak teman seperjuangan, semakin besar peluang kita menang."


Rilia, "itu ide yang bagus, Nial. Aku setuju."


Pota juga menanggapi kata-kata Nial tersebut, "aku setuju saja. semakin banyak orang bodoh, semakin baik. Hahahah."


Khar dan Warphan kemudian serentak mengajak Bullan, Powerbull, dan Goran untuk mengikat kembali Pota. Setelah beberapa lama, Pota selesai di ikat dan di sandarkan dipohon besar. Deerar dan Dere yang awalnya ketakutan karena kejaran pasukan Suku Hyena, perlahan tersenyum melihat tingkah mereka semua. Nial hanya geleng-geleng kepala melihat Pota diperlakukan seperti itu. Lain hal, Rilia tersenyum dan berkata dalam hati, "mungkin ini salah satu yang dimaksud ayahku. ternyata semenyenangkan ini bersama mereka. Aku jadi ingin menghabiskan waktu selama mungkin bersama mereka ini, ayah."


Pota dengan kesal berkata, "lepaskan aku, para orang bodoh. Aku benci jika harus terus menerus di ikat seperti ini."


Khar lalu berkata, "itu akibat salahmu sendiri, tolol. Hahahaha."


Sementara itu, Nial kembali menggunakan teknik Suku Elang untuk melihat sekeliling mereka dari udara. lalu tiba-tiba saja,


Nial dengan tergesa-gesa berkata, "Arsyhe sedang menuju kesini."

__ADS_1


Goran, "Pimpinan Suku Hyena kah? Biar saja dia datang. Agar kita bisa menyiksanya perlahan."


Nial lalu memberi perintah, "ayo kita bersembunyi dan menyergap mereka disaat mereka lengah."


Bullan kemudian bertanya, "bagaimana dengan Pota?"


Warphan seolah tak peduli, "biarkan saja dia dipohon itu. Kita harus cepat bersembunyi."


Kemudian mereka bersembilan telah bersembunyi disekitar, dan hanya menyisakan Pota yang dalam kondisi terikat dan bersandar dipohon besar.


Pota dengan kesal berkata, "dasar kalian semua brengsek. Beraninya kalian menjadikan ku umpan. Awas saja kalian."


Lalu perlahan, Arsyhe mulai mendekat bersama pasukannya, mencari keberadaan lima orang pasukannya termasuk putri Suku Rusa beserta sepupunya. Tiba-tiba Arsyhe dan pasukannya melihat keberadaan Pota yang tengah terikat dan bersandar dipohon. Melihat hal itu, pasukan Suju Hyena tentu saja terheran-heran. kemudian Arsyhe berjalan kearah Pota. Dan setibanya dihadapan Pota, Arsyhe berkata, "kenapa kau sendirian disini? Dan siapa yang melakukan ini padamu?"


Pota lalu menjawab, "ini hanya bentuk rasa isengku. Aku bisa menebak, pasti kau mencari lima orang pasukanmu kan?"


Arsyhe yang mendengar Pota berkata soal pasukannya lantas bertanya lagi, "apa kau melihat pasukanku yang berjumlah lima orang?"


Pota, "aku yang membunuh mereka. Hahahaha." tertawa dengan keras.


Lalu dengan mudahnya, Pota berkata, "itu karena pasukanmu hanya orang lemah. Tapi jika menghadapimu, aku harus lepas dari ikatan ini. Tolong lepaskan ikatanku, agar aku bisa membunuhmu dengan mudah."


Arsyhe kesal dengan perkataan Pota tersebut, "kau benar-benar membodohiku. Lebih baik kau mati saja." lalu mengeluarkan pedang dari sarungnya.


Pota yang melihat Arsyhe mengeluarkan pedangnya, seketika itu juga langsung berteriak, "APA KALIAN INGAT MELIHATKU TERBUNUH DULU, BARU KALIAN KELUAR, PARA ORANG BODOH? CEPAT TOLONG AKU!"


Seketika itu juga Nial dan temannya langsung keluar dari persembunyian dan menyerang pasukan Suku Hyena yang tidak waspada dengan mereka. Arsyhe yang melihat hal tersebut, langsung tersulut emosi melihat pasukannya berteriak dan menjerit kesakitan. Arsyhe lalu berkata, "hadapi aku, Nial. Kita bertarung secara jantan."


Nial mendengar hal tersebut, lalu berkata, "baiklah Arsyhe brengsek. Aku terima tantanganmu. Aku akan menusuk jantungmu dan memenggal kepalamu. Siapkan dirimu." lalu berlari dengan pedangnya dan menyerang ke arah Arsyhe.


Arsyhe tersenyum sinis mendengar perkataan Nial, lalu berkata, "buktikan jika kau mampu, bocah busuk." lalu memulai pertarungan dengan Nial.

__ADS_1


Sementara itu, pasukan Suku Hyena telah habis dibantai oleh teman-teman Nial. Lalu mereka menonton pertarungan tersebut dan tak mau mencampuri karena larangan oleh Nial.


Rilia melihat pertarungan tersebut dan khawatir, "sepertinya Nial terdesak melawan Arsyhe."


Warphan, "wajar saja. Arsyhe adalah pimpinan Suku, sedangkan Nial hanya pangeran. Dari pengalaman, tentu saja jauh berbeda."


Bullan juga memberikan pendapatnya, "tapi disini lah pentingnya Nial mengasah kemampuannya, melalui pertarungan. Aku yakin dia akan semakin kuat dimasa yang akan datang."


Khar, "aku yakin kakakku mampu mengalahkannya. Kita lihat saja."


Pota lalu berkata dengan kesal, "lepaskan ikatanku, brengsek. Kalian mau mengikatku sampai kapan?"


Goran lalu mengambil inisiatif, "maaf lah. Tapi sandiwaramu tadi bagus juga, Pota." sambil melepas ikatan Pota.


lalu setelah ikatan Pota terlepas, seketika itu juga Pota langsung memukul kepala Goran.


Goran mengadu kesakitan, "itu menyakitkan, bajingan. Kenapa kau memukul kepalaku?"


Pota, "kau masih berani bertanya lagi?" dalam suasana hati kesal karena di ikat tadi.


Powerbull, "Nial sudah mulai terluka, teman-teman. Lihat lah!" berkata sambil menunjuk ke arah pertarungan Nial dan Arsyhe.


Dan benar saja, Nial telah terluka dibagian lengan kanan dan paha kiri akibat sabetan pedang Arsyhe.


melihat keadaan Nial, Rilia mulai khawatir. Tapi sebaliknya, Khar malah tersenyum melihat kondisi kakaknya yang seperti itu.


Bullan dengan heran bertanya pada khar, "kenapa kau tersenyum melihat kakakmu sedang terdesak?"


Khar lalu menjawab, "karena aku tahu bahwa kak Nial akan menang. Jika kalian beranggapan bahwa dia akan kalah, berarti kalian belum mengenalnya lebih dalam. Tunggu dan lihat saja."


Warphan yang juga khawatir melihat Nial, kemudian berkata, "semoga saja Nial menang."

__ADS_1


Kemudian, beberapa saat kemudian, keadaan telah berbalik. Nial berhasil membuat luka yang dalam diperut Arsyhe. Arsyhe pun berlutut dengan memegang pedangnya sebagai tumpuan, sambil meringis kesakitan.


Nial, "aku sudah muak mendengar perkataanmu, Arsyhe. Dengan kematianmu, Suku Hyena akan lenyap selamanya." lalu menusuk jantung Arsyhe. dan seketika itu juga, Arsyhe, Pimpinan Suku Hyena akhirnya tewas ditangan Nial.


__ADS_2