
Pagi harinya,
Pota, "kalian semua memang brengsek. badanku sakit karena kalian mengikatku sampai larut malam." berkata dengan jengkel.
Powerbull, "makanya kau jangan sesuka hati berkata sembarangan. Sudahlah. Ayo kita bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan kita masih jauh." lalu mulai membereskan barang-barang.
Goran, "kita harus menemui suku-suku lain jika ingin mengajak mereka untuk menghancurkan Suku Harimau dan suku-suku yang mendukungnya." memberi saran pada Nial.
Nial, "aku tahu soal itu, Goran. Tapi aku ragu akan banyak suku lain yang mau mengulurkan tangan untuk membantu kita. Aku tak tahu bagaimana ayahku melakukan hal itu, hingga bisa membuat banyak suku didalam aturannya."
Bullan, "kau tak perlu berpikir jauh, Nial. Cukup pikirkan bagaimana mengatur suku-suku lainnya tanpa harus merugikan salah satu suku tersebut."
Pota, "kalau perbuatan semudah omonganmu, Bullan, pasti semua orang bisa jadi Sang Raja. Kau kira menjadi Sang Raja segampang itu." membantah omongan Bullan.
Rilia, "semua orang bisa terpanggil menjadi Pimpinan dalam sukunya masing-masing. Tapi hanya satu orang yang terpilih untuk menjadi Sang Raja. karena tanggung jawab Sang Raja yang sejati itu sungguh berat." mengutarakan pemikirannya.
Warphan, "kalian terlalu jauh berpikir. Untuk sekarang, kita fokuskan tujuan kita saja. Jangan bebani pikiran kita dengan hal-hal lain." acuh tak acuh mengenai pembahasan soal Sang Raja.
Khar, "semua sudah beres. Ayo kita berangkat lagi. Perjalanan kita masih jauh, rekan-rekan."
Lalu mereka berdelapan pun mulai melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju Wilayah Suku Beruang. Sepanjang perjalanan, mereka tidak pernah bosan. Itu karena ada Pota yang suka berkata sembarangan, Goran yang gampang kesal, Bullan dan Powerbull yang suka menjahili Pota, Khar dan Nial yang hanya tertawa melihat tingkah mereka semua. Sampai pada malam harinya, mereka pun beristirahat dan mempersiapkan peralatan untuk istirahat mereka dimalam hari.
Pada malam hari,
Bullan, Powerbull, Khar, Warphan, Goran, dan Pota susah tertidur dengan nyenyak. Sementara itu, Nial dan Rilia masih berbicara didepan api unggun.
Rilia berkata dengan pelan pada Nial, "aku sudah mendengar soal kematian ayah dan ibumu ketika kalian belum tiba di Wilayah Suku Gorila. Aku turut berduka untukmu dan Khar."
__ADS_1
Nial, "tak apa, Rilia. Terima kasih atas simpatimu. Aku hanya sering berpikir, bagaimana jika aku gagal?
aku sudah kehilangan ayahku, ibuku, dan dua saudara. Aku hanya punya Khar sekarang dan aku tak mau lagi kehilangan. Kadang aku bingung dengan jalan yang ku ambil." mengeluarkan isi hatinya yang penuh kebimbangan.
Rilia lalu menggenggam tangan Nial seraya berkata, "kau tak hanya punya Khar. Ada kami berenam selain Khar disini. Kita akan saling membantu. Kau bisa lihat, walaupun kadang kita punya keras kepala masing-masing, tapi kita melalui hal bersama-sama sekarang dan kedepannya akan tetap seperti itu. Kau jangan khawatir lagi, Nial."
Nial lalu berkata, "terima kasih, Rilia. Kau sudah membuka pikiranku."
Rilia, "tak apa, Nial. Aku sudah berjanji pada ayahku, bahwa kami akan mengikutimu kemanapun kau melangkah." berkata pada Nial.
Nial lalu menatap mata Rilia dan begitu juga sebaliknya. Ketika pandangan mereka bertemu, Nial lalu mencium kening Rilia. Seketika itu juga Rilia terkejut dan tak berkata apapun. Rilia hanya tersipu dengan wajah yang mulai memerah.
Nial, "itu sebagai bukti bahwa aku akan menjagamu mulai sekarang, Rilia." berkata dengan tulus.
Rilia, "terima kasih, Nial." lalu Rilia menatap wajah Nial dengan pandangan lembut. Kemudian mereka saling berpelukan dengan erat.
Tiba-tiba saja,
Goran yang kesal dengan Pota yang berbicara seperti itu langsung saja mengetok kepala Pota.
Pota langsung meringis kesakitan, "argghh. Sialan kau, Goran. Kenapa kau memukul kepalaku?"
Goran, "kau benar-benar bodoh. Lebih baik kau diam saja tadi. Kita pasti akan melihat adegan yang lebih romantis dari ini. Kau membuat kita berdua ketahuan, brengsek."
Sementara itu, Rilia dan Nial hanya menanggapi itu dengan tertawa pelan.
Nial, "aku tak menyangka kalian berdua belum tertidur dan sedari tadi mengintip kami berdua. Ahahahaha."
__ADS_1
Rilia juga berkata, "dasar kau adik yang brengsek, Goran. Kau juga sama saja, Pota. Hahaha."
Goran, "Pota yang mengajak duluan, kak. Dia yang mengatakan bahwa akan ada adegan romantis yang bisa kami saksikan." berkata alibi pada kakaknya.
Pota, "enak saja kau, Goran brengsek. Karena ketahuan, kau melimpahkan kesalahan hanya padaku. Padahal tadi itu adalah kesepakatan kita bersama." tidak terima sendirian disalahkan.
Goran membalas tak terima, "kan memang kau yang awalnya mengajak aku untuk melihat kakakku dan Nial melakukan adegan romantis. Kau melarikan diri dari kesalahanmu, brengsek."
Pota semakin kesal dengan perkataan Goran yang menyalahkan dirinya secara sepihak, "kau memang busuk, Goran. Ayo kita bertarung, bajingan." menantang Goran bertarung.
Goran, "ayo kita mulai. Jangan menangis ketika kalah, bocah kecil." membuat sikap bertarung.
Rilia, "sudah-sudah. Ayo kita tidur. Aku akan kedalam tenda. Aku sudah ngantuk. Besok kita harus melanjutkan perjalanan kita lagi." lalu Rilia pun masuk kedalam tenda dan beristirahat.
Nial, "ayo tidur, Goran, Pota. Aku juga sudah ngantuk." lalu mengambil posisi tidur didekat api unggun agar merasa hangat. Kemudian tak lama, Pota dan Goran pun kembali beristirahat bersama Nial dan teman-temannya.
POV Suku Hyena
Arsyhe sedang berbincang pada pasukannya ketika pengantar pesan dari Suku Harimau datang menemuinya.
Pengantar pesan, "izin, pimpinan Suku Hyena. Saya membawa berita terbaru. Sang Raja Tigerly meminta agar anda dan pasukan anda berangkat untuk mencari putri Suku Rusa yang kabur bersama penjaganya. Sang Raja Tigerly khawatir, pencarian yang lama tidak membuahkan hasil. Ditambah dengan jika putri Suku Rusa pergi ke wilayah Suku lain, itu akan berdampak buruk bagi kita. Mereka bisa membangun aliansi untuk menjatuhkan Suku Harimau nantinya. Jadi, mohon secepatnya temukan putri Suku Rusa tersebut sebelum dia tiba di wilayah suku lain untuk meminta bantuan."
Arsyhe lalu menjawab, "tanpa disuruh pun, kami sudah melakukan pencarian untuk menangkap Putri Suku Rusa tersebut. Sampaikanlah pesanku pada Sang Raja Tigerly. Katakan seperti ini, aku sudah mengutus lima orang pasukan ku untuk mengejar putri Suku Rusa tersebut. Dan aku juga akan menyusul lima orang pasukanku itu, untuk ikut serta menangkap putri Suku Rusa itu."
Pengantar pesan, "baik, Pimpinan Suku Hyena. Saya permisi untuk kembali ke wilayah Suku Harimau." lalu pengantar pesan tersebut pun segera pamit undur diri untuk kembali ke Wilayah Tigerly.
Lalu, sepeninggal pengantar pesan Suku Harimau,
__ADS_1
Arsyhe, "Suku Harimau keparat. Aku dan pasukanku hanya jadi tukang suruhannya. Jika seperti ini terus, maka secara tak langsung aku hanya jadi budak Tigerly bajingan itu. Lebih baik aku pergi sekarang untuk mencari Putri Suku Rusa tersebut.
Kemudian Arsyhe bersama pasukan Suku Hyena pun menyusul lima orang pasukannya yang di utus untuk mengejar Deerar dan Dere yang melarikan diri.