
Beberapa hari sebelumnya, pada pagi hari,
Goran dan Rilia memulai perjalanannya untuk bergabung dengan Nial dan temannya.
Ditengah perjalanan untuk menyusul Nial dan teman-temannya, Goran berkata, "aku heran dengan sikap ayah yang berubah-ubah, kak. Kemarin dengan semangat menggebu-gebu dia ingin membantai Nial beserta temannya. Lalu dia membebaskan mereka semua tanpa syarat."
Rilia lantas menanggapi perkataan adiknya itu, "kau harusnya tahu sikap ayah seperti apa, adikku. Ayah hanya menyukai pertarungan yang seimbang. Lagian ayah tak akan pernah bersungguh-sungguh ingin menghabisi mereka. Kau lihat saja, mereka memang sengaja diletakkan ayah di penjara gua agar tak bisa kabur. Tapi ayah memanggil tabib untuk mengobati dan memberi mereka makanan. Penjara gua itu untuk menguji mental dan semangat mereka. Lihatlah Nial ketika keluar dari penjara gua, dia tetap tak menyerah dan langsung mengajak ayah bertarung. tekad seperti itu yang ayah ingin lihat dari Nial dan temannya."
Goran berpikir tentang perkataan kakaknya, lalu berkata, "benar juga ya, kak. Aku yang salah dan masuk dalam permainan ayah kita. Tapi, apakah kakak tahu soal ayahnya Nial, Helion? Apakah ayahnya Nial sekuat itu sampai bisa mengalahkan ayah kita, kak?"
Rilia, "aku hanya pernah melihat pertarungan mereka sekali saja, adik. Aku pernah di ajak ayah ketika masih kecil. ayah dan aku berjalan menuju padang rumput yang luas. Rupanya disana Helion sudah menunggu. kemudian, ayah langsung memulai pertarungan dengan Helion. Pertarungan ayah dan Helion berlangsung lama. Sampai pada akhirnya, ayah yang kalah. dan yang membuatku bingung, ayah hanya tertawa ketika kalah. Lalu mereka bersalaman, kemudian ayah mengajak kakak pulang."
Goran dengan antusias bertanya lagi, "sehebat itu kah Helion, kak?"
Rilia dengan sabar menjawab pertanyaan Goran, "tekadnya yang pantang menyerah itu yang tidak tergoyahkan, adikku. Beberapa kali dalam pertarungan itu, Helion hampir tersudut dan kalah. Tapi Helion selalu punya cara untuk membalikkan keadaan. Itu yang dilihat ayah dari diri Nial. ayah seperti melihat Helion dalam diri Nial. Makanya ayah membebaskan Nial dan teman-temannya untuk melihat, apakah Nial bisa menjadi lebih baik dari Helion. Kalau ayah tidak bersimpati pada Nial, ayah tak akan menyuruh kita untuk menyusul mereka."
Goran terkagum-kagum mendengar orang-orang yang disebutkan kakaknya, "iya, kak. Aku selalu mengira, kuat itu berarti kita bisa menguasai semua hal dan tak ada yang melawan kita. Pemikiranku salah. Justru kita harus banyak belajar dari Nial. Ketika tangannya telah dipatahkan ayah, dia tetap tidak menyerah. Menjadi kuat tidak selamanya benar. Ada hal yang tidak bisa diraih hanya dengan kekuatan, melainkan hati dan pikiran. Aku sekarang mulai memahaminya, kak. kita harus belajar banyak dari dia, kak."
Rilia tersenyum mendengar perkataan adiknya tersebut, "iya adikku. Ayo kita percepat langkah kita. Biar kita cepat bertemu dengan mereka."
Goran, "baik, kak." lalu mereka pun melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan Nial dan teman-temannya.
__ADS_1
POV Nial dan teman-temannya
Pada sore hari,
Nial berkata pada teman-temannya, "kita istirahat disini saja. ayo kita bagi tugas untuk persiapan istirahat kita malam nanti." lalu Nial pun membagi tugas pada teman-temannya untuk persiapan istirahat mereka. Ada yang mencari kayu untuk api unggun, ada yang mencari buruan disekitar sungai, dan ada yang memasang tenda.
pada malam harinya, Nial dan teman-temannya yang selesai makan malam sedang duduk menikmati api unggun.
Nial, "untung saja Gori membebaskan kita. Jika tidak, aku bisa memastikan, jika kita semua bergabung, belum tentu kita bisa mengalahkan paman itu." berkata dengan kekaguman atas kekuatan Gori.
Pota, "kan sudah kubilang. Ayahku saja kalah dengan telak melawan tua bangka itu. Apalagi kalian yang hanya para bocah. Bullan saja kalah telak melawan si Goran itu. Hahaha." menertawai Bullan.
Bullan, "persiapkan tali, Powerbull. Kita akan mengikat dan menggantung Pota di pohon semalaman." berkata dengan kesal karena di ejek Pota.
Powerbull, Warphan, dan Khar sudah mengambil ancang-ancang untuk menangkap Pota. Melihat hal itu, Pota seketika panik, "itu tak akan terjadi lagi, brengsek. Aku kabur saja." lalu mencoba lari menghindar kearah hutan.
Tiba-tiba saja muncul Goran dan Rilia yang keluar dari hutan tersebut. Pota tentu saja langsung terkejut dan heran dengan kemunculan Goran dan Rilia.
Goran mengetok kepala Pota lalu berkata, "enak saja kau mengatakan ayahku tua bangka. aku akan bergabung bersama mereka untuk mengikatmu, bocah nakal."
Pota terkejut dan berkata dengan kuat, "sakit sekali, brengsek. kenapa kalian ada disini? Dan apakah kalian sudah mengintip kami dari tadi disini?"
__ADS_1
Rilia kemudian menjawab pertanyaan Pota, "kami baru saja sampai. kami mendengar perkataanmu karena suara mu yang terlalu kuat dan itu bisa mengundang bahaya nantinya."
Sementara itu, Nial, Khar, Bullan, Powerbull, dan Warphan juga terkejut melihat kedatangan mereka berdua. Bullan yang masih kesal dengan Goran mengingat kekalahannya kemarin, mulai bersiap sekiranya Goran hendak melakukan serangan. Goran menyadari pergerakan yang dilakukan oleh Bullan tersebut, lalu berkata, "santai saja, kawan. Kami kesini bukan untuk bertarung. Kami datang kesini dengan niat baik dan tanpa ada maksud apapun yang tersembunyi."
Bullan tidak langsung percaya dengan perkataan Goran tersebut, "aku tidak percaya. Apa tujuan kalian kesini mengikuti kami?" mencoba menginterogasi Goran dan Rilia.
Rilia kemudian menjawab pertanyaan Bullan, "kami kesini untuk mengikuti Nial dan bergabung bersama kalian sebagai bawahan. Ayah kami yang memerintahkan kami berdua agar mengikuti kalian."
Nial langsung menanggapi perkataan Rilia tersebut, "aku tak menerima bawahan. Hanya ada sahabat dalam suka duka. Kami adalah rekan 1 tim yang akan saling mengulurkan tangan jika salah satu dari kami membutuhkan bantuan. Jika kalian berkenan, kalian bisa bergabung bersama kami. Jika tidak, tak apa. aku dan rekanku disini tak akan memaksa kalian. Karena kami punya tujuan tersendiri."
Goran lantas berkata, "aku tahu tujuan kalian. Kalian mau balas dendam kan? ikut sertakan kami berdua. Kami akan membantu kalian dalam cara apapun."
Pota, "semakin banyak orang gila berkumpul, semakin baik. Hahahahah." menyindir 7 orang tersebut.
Powerbull, "kau benar-benar harus di ikat, brengsek."
penuh kekesalan pada Pota. Lalu mengajak Khar dan Bullan untuk menangkap Pota.
Tak lama kemudian,
Pota, "aku berjanji tak akan berkata sembarangan lagi, rekan. Tolong bebaskan aku." dengan memelas, dalam posisi di ikat tangan dan kaki lalu digantung di atas pohon.
__ADS_1
Rilia dan Goran hanya tertawa melihat keadaan Pota yang seperti itu. Sementara itu, Nial geleng-geleng kepala melihat keadaan Pota. Sedangkan Bullan, Powerbull, Khar, dan Warphan hanya diam dan tak menghiraukan keadaan Pota. Warphan lalu berkata pada Goran dan Rilia, "baiklah. Jika itu mau kalian berdua. Silahkan bergabung bersama kami disini."
Goran dan Rilia serentak menjawab, "baik. Terima kasih, rekan." lalu mereka mulai berbincang-bincang sambil bercanda satu sama lain sampai larut malam. Setelah mereka bertujuh hendak istirahat, baru ikatan Pota dilepas.