
Pada sore hari, ditengah perjalanan menuju Wilayah Suku Beruang,
Warphan, "sepertinya kita tersesat, teman-teman."
aku tidak melihat ada tanda kehidupan sejak kita keluar dari Hutan Gelap tadi."
Nial, "kita sudah kelelahan. Wajar jika kita ceroboh dan tersesat. Lebih baik kita istirahat dan bermalam disini. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan kita."
Pota lalu menyindir Warphan, "payah. Kau memang penunjuk jalan yang buruk dan tak bisa di andalkan."
Warphan lalu membalas, "setidaknya aku bukan bocah kecil yang hanya dikurung didalam kandang. Hahahaha."
Pota yang mendengar itu langsung kesal, "apa maksudmu Warphan? Kau perlu tongkat sebagai penunjuk jalan, orang buta. Hahahahaha." membalas ejekan Warphan.
Bullan, "sudah-sudah. Mendengar perdebatan kalian tak akan ada habisnya."
Khar, "aku sangat lapar. Aku lelah." lalu bersandar pada pohon yang besar.
Nial lalu membagi tugas masing-masing pada temannya, "Bullan dan Pota, kalian cari air untuk minum dan persediaan kita. Powerbull dan Khar, kalian kumpulkan kayu untuk membuat api unggun. Aku dan Warphan akan menyiapkan tenda untuk tempat kita istirahat malam ini."
Bullan, "baiklah Nial. Ayo bocah, kita cari air ajaib untuk menumbuhkan badanmu. Hahahaha."
Lalu mulai berjalan ke arah sungai.
Pota, " diam kau, Bullan!" berkata dengan kesal. Lalu mengikuti Bullan untuk mencari air.
Khar, " ayo Powerbull. Siapa paling banyak mendapat kayu, jatah makan malam nanti pasti ditambah. Hahaha."
Powerbull kemudian berkata, "hahaha. Ayo, siapa takut." kemudian mereka berdua berjalan mencari kayu bakar.
Setelah agak lama, mereka berenam sudah siap melakukan tugasnya masing-masing, dan telah selesai makan malam. Lalu mereka sedang duduk menikmati malam hari di tengah hutan, dihiasi oleh cahaya bintang dilangit.
Warphan sedang asyik memperhatikan sekeliling mereka, lalu tiba-tiba dia tersentak dan berlari menuju salah satu pohon besar yang berada didekat mereka, kemudian diam dan memperhatikan batang pohon besar tersebut.
Bullan, "ada apa, Warphan? Apa kau sedang berkhayal dan menganggap pohon besar didepanmu adalah Azuna? aku yakin sekali, kau pasti berlatih cara merayu Azuna dengan pohon besar itu. Hahahahaha."
__ADS_1
Khar, "sudahi mimpimu, Warphan. Kau itu tak akan bisa membuat dia untuk melirikmu bahkan walau sekejab. Hahaha."
Pota lalu bertanya pada Powerbull, "siapa Azuna yang dimaksud mereka, Powerbull? sepertinya dia cantik."
Powerbull, "dia memang sangat cantik. Azuna adalah pimpinan Suku Merak. Dia terkenal dengan kecantikannya serta pasukannya pun cantik dan tangguh."
Pota, "kalau begitu, kalian harus menyingkir. Karena aku akan melamar Azuna."
Powerbull lalu mengetok kepala Pota sambil berkata, "kau harus sadar diri. Kita semua itu bukan kriteria pria idaman dia. ditambah lagi, kau masih bocah, tapi berpikir sejauh itu."
Warphan yang sedari tadi diam lalu mengeluarkan 1 kata dengan pelan, "gawat. Kita masuk kedalam wilayah yang salah." langsung berkeringat dingin.
Nial langsung berdiri dan mendekati Warphan, "gawat kenapa Warphan? Ada apa?"
Warphan kemudian menunjuk ke arah batang pohon besar dihadapan mereka, "lihat lubang pada batang pohon ini, Nial. Perhatikan baik-baik."
Nial lalu memperhatikan dengan teliti, "seperti bekas pukulan. siapa gerangan yang bisa memukul pohon besar ini sampai berlubang?"
Pota, " Nial, Warphan, kalian berdua sedang apa? apa kalian berdua termasuk dalam golongan kelainan jenis?"
Warphan, "akan kugantung kau nanti di pohon besar, Pota. tunggu saja."
Nial kemudian berkata, "ayo kita duduk dekat mereka. Dan jelaskan pada kami, apa yang kau ketahui soal lubang bekas pukulan tersebut."
Warphan, "baiklah, Nial."
lalu mereka berdua bergabung dengan yang lain, lalu duduk mengelilingi api unggun.
Warphan lalu berkata, "aku pernah mendengar mitos.
bahkan itu selalu dijadikan ayahku sebagai cerita pengantar tidur. Diwaktu ayah kita masih menyandang status sebagai pangeran di Suku masing-masing, ada salah satu pangeran yang terkenal kejam dan menyeramkan. Dia berperawakan tinggi besar dan berotot kekar, lalu dia mempunyai jambang dibagian rahangnya, dia tidak pernah memakai jubahnya dan kelihatan seperti orang biasa,"
Pota tiba-tiba saja menyela perkataan Wolfbang, "sekarang aku percaya bahwa kau benar-benar kelainan jenis dan menyukai sesama laki-laki, Wolfbang. Dari yang kau ceritakan, kau hanya menjelaskan tentang fisiknya saja. Lebih baik kau menjauh dari kami, Wolfbang."
Bullan yang jengkel karena Pota yang tiba-tiba menyela cerita itu, lalu berkata, "sepertinya kita ada tugas mendadak."kemudian berbisik pada Khar dan Powerbull. lalu mereka bertiga melakukan sesuatu pada Pota. Nial dan Warphan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa lama,
Bullan, "tugas kami sudah selesai, Warphan. Silahkan lanjutkan ceritamu." sembari duduk mengelilingi api unggun, dengan Pota yang berada ditengah Bullan dan Powerbull.
Pota, "eeeehhhhhhmmmmmm." tak bisa berkata-kata karena tangan dan kakinya di ikat, lalu mulutnya juga di ikat pake tali agar dia tidak sembarangan lagi menyela pembicaraan.
Warphan melihat sejenak ke Pota, lalu melanjutkan ceritanya, " pangeran tersebut ahli nya dalam bergerak cepat diantara pepohonan. Dia melatih dirinya di alam liar. Dia selalu mencari pohon besar yang tumbuh, lalu memukuli batang pohon tersebut sebagai hiburannya sampai pohon tersebut hancur. Jika Suku Kuda Nil membanggakan dirinya sebagai ahli beladiri cengkeraman tangan, maka pangeran tersebut punya fisik yang kuat dan dewanya dalam pertarungan tangan kosong. Aku pernah mendengar bahwa dia dan Sang Raja Helion sering melakukan pertarungan dan hasilnya hampir seimbang. Aku sering dibacakan cerita itu oleh ayahku dulu. Jika kita berbuat jahat, dia akan datang pada malam hari untuk menangkap kita."
Bullan kemudian bertanya, "jika dia setara dengan ayah kita diwaktu muda, maka seharusnya dia sudah menjadi Pimpinan di Sukunya saat ini."
Warphan lalu menjawab, "benar, Bullan. Tapi dia bukan seperti sosok pimpinan lain yang sudah pernah kita temui. Intinya lebih baik kita hindari bertemu dengannya.
Powerbull, "dari Suku mana kah dia dan siapa namanya, Warphan?
Warphan lalu berkata dengan pelan, " dia adalah Pimpinan dari Suku Gorila, dan namanya adalah Gori."
Pota hendak berkata sesuatu tapi tertahan oleh tali dimulutnya. Nial melihatnya lalu menyuruh Bullan melepas tali dimulutnya. Setelah tali itu dilepaskan,
Pota berkata dengan ketakutan, "aku tahu siapa dia. Dia pernah bertarung dengan ayahku, dan ayahku kalah telak. julukannya sebagai manusia terkuat itu bukan sekedar omongan. Dia lebih pantas disebut monster hutan."
Nial, "kita akan pergi kewilayah Suku Gorila. Kita akan membuat aliansi dengannya. Kita akan memiliki pendukung kuat untuk membantu kita menyingkirkan Tigerly beserta pengikutnya."
Pota, "kau jangan berkhayal, Nial. Dia itu tidak tunduk dengan siapapun." berkata dengan pesimis.
Warphan juga berkata, " Pota benar, Nial. Aku juga pernah mendengar ayahku berkata, Gori adalah salah satu Pimpinan yang tidak menuruti perintah ayahmu, Helion. Dia berbuat semaunya sendiri dan tak peduli soal aturan dari Sang Raja. Dan kau tak perlu repot-repot untuk mencari wilayah Suku Gorila.
pasukannya yang akan mencari kita, karena ini adalah wilayahnya."
Pota, " ini wilayah Suku Gorila?" seketika itu juga Pota langsung merinding.
POV Suku Gorila,
diwaktu yang sama,
Wilayah Suku Gorila adalah wilayah yang tinggal di atas pohon. Mereka membuat rumah dan pos penjagaan di perbatasan wilayah di antara pohon-pohon yang besar. Disitulah mereka bertempat tinggal. Lalu ada rumah besar ditengah wilayah tersebut. dirumah besar itu lah manusia terkuat tinggal.
__ADS_1
Gori tiba-tiba mengalami bersin, "bajingan mana lagi yang berani mengatai aku?"