
Feng Xin keluar dari kamar dan mendapati Yuan Shi sedang berdiri dengan tatapan kosong. Ia masih berjaga, padahal proses pembentukan Dantian An Lin cukup lama.
Jia Ling dan para pegawainya terutama Hua Xin tidak berani mengganggu Feng Xin dan An Lin yang sedang bekerja keras selama 10 hari di dalam kamarnya.
"Apa dia tidak lelah? Selama 10 hari ini berdiri di depan pintu?" pikir Feng Xin lalu memeluk Yuan Shi.
Wanita dingin tersebut sama sekali tidak bereaksi, namun kedua pipinya memerah. Sepertinya masih ada perasaan terpendam Yuan Shi pada Feng Xin.
[Witwiiw! Misi sampingan berhasil]
----------------¤----------------
[An Lin merupakan pangeran ketujuh dan putra mahkota yang sah kerajaan Nanjing. Tapi karena Dantiannya cacat, raja, ratu, dan keluarga kerajaan berencana untuk membunuhnya]
[Misi: Sembuhkan Dantiannya yang cacat]
[Status: Berhasil]
Hadiah: (Petunjuk pelaku pemberi roh jahat pada Yuan Shi) (Dewa Serigala Petir menetas) (Misi lanjutan terbuka)]
----------------¤----------------
[Hadiah: Petunjuk pelaku pemberi roh jahat pada Yuan Shi. Pelaku berada di kerajaan Nanjing]
Setelah muncul panel hologram disertai suara mekanis, selanjutnya dari dalam Dantian Feng Xin keluar terlur berwarna biru pekat dengan retakan lava biru terang.
Telur itu melayang di depan Feng Xin dan retak perlahan. Tapi ada yang tak biasa dengan telur tersebut, ada fluktuasi energi yang menyelimuti kelahiran dewa serigala yang lain.
Feng Xin melapisi 10.000 pelindung naga darah pada telur tersebut dan benar saja, telur tersebut meledak dahsyat.
BOOM!
9.999 pelindung Naga Darah hancur berkeping-keping, Feng Xin bersama Yuan Shi terpundur sejauh 5 meter dengan berlutut satu kaki
Feng Xin melebarkan mata, "Benar-benar telur yang gila?!"
Nampak Serigala berwarna biru sepanjang satu meter berwarna biru dengan bulu-bulu berdiri tapi terkesan lembut, memiliki tanduk biru kehitaman seperti bilah pedang yang melengkung sepanjang 15 cm, dan kedua sayap malaikat berwarna biru dengan bulu-bulu rapi melebihi lebar badannya.
"Grrr ... grrr ..." Dewa serigala petir tersebut melayang perlahan turun ke permukaan lantai dengan menggeram. Tatapan matanya tajam dengan manik mata berwarna biru menatap lekat ke arah Yuan Shi.
__ADS_1
Feng Xin mendekatinya tanpa ada rasa takut, ia sangat paham jika menganggap Yuan Shi adalah ancaman karena mengeluarkan hawa membunuh yang pekat.
"Tenanglah, dia temanku. Aku akan memperlihatkannya padamu."
Feng Xin mengelus lembut kepala Serigala Deza dan membawanya dalam gendongan berbalik arah ke arah Yuan Shi.
Feng Xin lalu melepas topeng Harimau Belang yang menutupi muka Yuan Shi dan seketika itu juga gadis berambut pirang tersebut ambruk.
Feng menangkapnya dengan lengan kiri, Serigala Deza menunjukan tatapan mata berkaca-kaca menunjukan keimutannya dan berubah menjadi bola cahaya untuk masuk ke dalam Dantian Feng Xin.
Serigala Deza mengerti jika Yuan Shi memang teman Feng Xin dan bukan ancaman atau musuh Feng Xin.
Maka dari itu Serigala Deza masuk kembali ke dalam Dantian Feng Xin.
Setelah topeng Harimau Belang dilepas, tubuh Yuan Shi seperti sebelum memakai topeng, yakni tubuh tanpa sehelai benang.
Tanpa basa-basi, Feng Xin menggendongnya masuk ke dalam kamar satunya lagi yang sudah disediakan untuk Yuan Shi.
Awalnya, Yuan Shi memesan 1 kamar di penginapan Hao Ling. Tapi Feng Xin meminta pada Jia Ling dari hak khusus miliknya sebagai tamu penting restoran Hao Ling untuk memesan 3 kamar.
Satu untuk dirinya sendiri, satu untuk Yuan Shi dan satu untuk An Lin.
"Oh, tidak. Kenapa anuku berdiri? Sialan, tidak boleh mengambil kesempitan di dalam kesempatan. Eh, salah ... maksudnya kesempatan di dalam kesempitan."
Feng Xin langsung menyelimuti tubuh tersebut yang membuatnya meneguk saliva dalam-dalam lalu membalikan badan.
"Eh, cepatlah dimakan saja. Lagipula dia sudah menerimamu. Lihatlah, apakah tidak enak kulit seputih itu seperti susu beruang kutub?"
"Berisik ...!"
Feng Xin mengacak-acak rambut karena selalu saja digoda oleh pikiran jahatnya itu.
"Tapi aku juga butuh." Feng Xin membalikan badan dan menatap lekat wajah Yuan Shi yang sangat imut juga cantik.
Ingin rasanya ia mencium bibir ranum yang sangat menggoda, walau tanpa gincu namun tetap merah merekah.
"Ah, sudahlah. Aku tak tahan lagi." Feng Xin melucuti pakaiannya sendiri.
Namun baru saja ia membuka selimut yang menutupi tubuh molek Yuan Shi, sang putri berambut pirang tersebut siuman."
__ADS_1
"Tidak," gumam Feng Xin buru-guru mengambil artefak rubah putih yang biasa ia pakai.
Namun nahas, Yuan Shi keburu bangkit duduk dan melihat Feng Xin yang akan mengenakan celana.
"Eeeh ... apa yang akan kamu lakukan?" Yuan Shi menyipitkan mata tapi langsung berubah matanya membola begitu menyadari tubuhnya tidak memakai sehelai benang, "Jangan-jangan, kamu?!"
"Ti-tidak, i-ini salah paham. Bukan begitu maksudku, anu, aduh, bagaimana menjelaskannya?" Feng Xin gugup dan canggung dengan menggeleng-geleng cepat.
Ia bingung menjelaskannya pada Yuan Shi, perihal masalah tersebut.
"Aneh, tapi aku merasa tidak apa-apa. Jika bagian keintimanku dimasuki terong sebesar itu pasti akan sangat sakit, tapi ini tidak apa-apa," gumam Yuan Shi meraba bagian vitalnya yang baik-baik saja.
Kemudian bangkit berdiri dan langsung memeluk Feng Xin dengan berbisik manja, "Jika kamu sudah melakukannya berarti kita sudah menjadi sepasang kekasih."
"Tapi, aku ---"
"Sssst ...." Yuan Shi membungkam Feng Xin dengan menaruh telunjuknya di tengah bibir pemuda berambut putih tersebut.
Kedua insan yang dimabuk cinta tersebut, ritme jantungnya tak beraturan dengan pipi merah merona.
Saling pandang penuh cinta dan sayang. Bersamaan itu pula kedua wajah mereka mendekat dan saling menautkan bibir.
Pergolakan panas pun terjadi begitu bergairah, sampai-sampai ranjang kasur itu berderit.
"Kumohon pelan-pelan sayang memasukannya. Aku sangat grogi dan juga takut."
Yuan Shi menuntun terong XXXL itu ke lembah surgawi miliknya yang sedikit rimbun.
"Aaakh ... uuukh!" Yuan Shi dan Feng Xin serentak melenguh nikmat ketika dua benda vital itu bersentuhan dan saling memberikan rasa yang amat susah digambarkan.
Bulir-bulir cairan membasahi kedua tubuh mereka dan membuat mereka semakin panas.
"Aaakh ... uukh ...." Kamar itu ramai oleh suara mereka berdua yang bergonta-ganti posisi seperti tidak ada puasnya.
Setelah 1 jam akhirnya mereka selesai, Feng Xin menembakan cairan surgawinya ke dalam lembah surgawi milik Yuan Shi.
Keduanya saling berpelukan dengan penuh kasih sayang, ketika mereka sedang menormalkan ritme jantung dan ritme nafas.
Tiba-tiba ....
__ADS_1
BOOM! BOOM!
Energi Qi di dalam Dantian Shi bergejolak dan menimbulkan ledakan beruntun. Dengan sigap, Yuan Shi segera bersila dan bermeditasi untuk menguatkan pondasi kultivasinya.