
Jia Xu hanya acuh menikmati ayam bakar dan beberapa daging binatang spiritual di depan matanya.
Ekspresinya terlalu dingin, bahkan terkesan benci pada Yuan Shi.
Bagaimana tidak, ayahnya telah menyuruh jendral Dong Zhuo untuk menghancurkan sekte Bulan Darah dan menghabisi murid-muridnya.
Feng Xin menunjukan wajah imutnya ke arah Jia Xu dan berkedip cepat untuk meluluhkan hati gurunya tersebut yang dilanda dendam.
"Aiih, jijik sekali mukamu itu!" Jia Xu melempar satu potong ayam bakar ke muka Feng Xin dan membuat Meng Yi, Meng Qi serta Yuan Shi tertawa lepas.
"Ha-ha ...."
"Ha-ha ...."
"Ha-ha ...."
"Ya lagian guru, sudah kaya kakek muka beku saja, hmph!" Feng Xin menyebikan bibir dengan membuang muka.
"Baik, aku akan akan memaafkan putri Yun Shi. Tapi tidak dengan kaisar sialan itu. Aku harus ...." Jia Xu meremas tangannya dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Meng Yi, Meng Qi, Feng Xin, dan Yuan Shi, bahkan seluruh pengunjung tertekan hingga nafasnya sesak.
Kekuatan Nirwana bintang sembilan memang sangat kuat dan tak diragukan.
"Gu-guru, berhenti," pinta Feng Xin lirih.
Jia Xu pun sadar dan menarik kembali hawa membunuhnya.
Mereka kembali makan, Meng Yi merasakan Dantiannya bergejolak, sepertinya ia akan menerobos.
"Aku pinjam kamarmu, sepertinya aku akan menerobos," bisik Meng Yi pada Feng Xin dan langsung berlari ke arah kamar Feng Xin di lantai paling atas.
Meng Qi pun mengikutinya dari belakang
Beberapa saat kemudian, Yuan Shi pun merasakan Dantiannya juga bergejolak setelah memakan daging binatang spiritual tingkat emas yang khusus disajikan untuk kawanan Feng Xin.
Ia pun bergegas lari ke kamarnya untuk melakukan terobosan.
Jia Xu mengernyit, "Kenapa mereka? Meneroboskah?"
__ADS_1
"Aiih ...." Feng Xin menepuk jidatnya sendiri dan melanjutkan, "Apa guru tidak tahu jika daging binatang spiritual bisa menaikan level kultivasi?"
"Tentu saja tahu. Tapi semu masakan ini ---"
"Ya, guru. Itu adalah daging binatang spiritual dan merupakan makanan utama di restorab Hao Ling ini. Itu juga daging binatang spiritual tingkat emas yang aku buru dan kujual pada paman Jia. Dan ini ...."
Feng Xin menjelaskan sembari mengeluarkan uang 10 juta mutiara Qi dari cincin semesta dan memberikannya pada Jia Xu.
"Apa ini?"
"Hutangku pada sekte."
"Tidak perlu, kan sektenya sudah hancur." Jia Xu mendorong tumpukan mutiara Qi ke arah Feng Xin.
"Tidak apa-apa, anggap saja baktiku pada guru. Mungkin bisa untuk membangun sekte Bulan Darah disini," usul Feng Xin.
"Kita tidak akan tenang jika pedang Qinglong masih berada di tangan kaisar sialan itu," jawab Jia Xu menggeleng dengan raut muka kesal.
"Kita curi saja bagaimana? Lalu kita rebut kerajaan ini," bisik Feng Xin.
"Baik, idemu bagus. Tapi tingkat kultivasimu?" tanya Jia Xu dengan nada berbisik dan bersiap minum arak.
"Oh, itu? Aku sekarang di fase Golden Core bintang sembilan ---"
"Tidak apa-apa guru, sudah biasa," balas Feng Xin datar dan melanjutkan dengan berbisik, "Kutukanku sedang hilang. Aku akan berkultivasi untuk meningkatkan kekuatanku setinggi mungkin guru. Waktuku masih tersisa 14 hari lagi, jadi aku izin pamit."
"Baik." Jia Xu mengacungkan jempol ke arah Feng Xin yang sudah memungguninya dan melesat jauh ke arah hutan.
"Dasar anak itu, ternyata lebih kuat dari yang kubayangkan. Keempat kaisar iblis memang hebat memiliki cucu seperti dia. Lebih baik aku akan terus disisinya, aku juga ingin meninggalkan alam bawah jika masalah ini selesai," gumam Jia Xu.
Kembali ke Feng Xin yang terbang memijak satu lembar daun ke lembar daun yang lain, tujuannya tentu saja hutan Han Ku.
Baginya tempat itu adalah tempat teraman untuk berkultivasi, walau sering kali hutan itu dirusak oleh kenaikan levelnya.
"Oh, dewa! Tolonglah anakku ini!" Sosok perempuan paruh baya berteriak, sedang memangku putrinya yang sudah pingsan oleh racun ular hijau.
Feng Xin yang sedang terbang, tertarik untuk turun, ia perlahan turun dan mengamati dari balik batang pohon.
Jika ia langsung menuju ke arah perempuan paruh baya tersebut, takut membuatnya terkejut dan ketakutan.
__ADS_1
Feng Xin mengaktifkan Mata Naga Darah untuk mengidentifikasi penyakit apa yang ada di dalam tubuh putrinya tersebut, "Gawat, racun ular hijau. Jika segera ditangani, anak perempuan itu akan mati."
"Siapa itu?"
Perempuan paruh baya mengengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan suara Feng Xin yang tertangkap oleh telinganya.
"Maaf, nyonya. Ini aku!"
Feng Xin mengangkat kedua tangannya dan berjalan ke arah perempuan paruh baya tersebut dengan tatapan waspada.
"Siapa kamu? Pergi!"
"Tenang nyonya, aku akan menyembuhkan putrimu. Aku bukan orang jahat."
"Ya, meski aku perusak kesucian perempuan, he-he ...."
Perempuan paruh baya tersebut mereda emosinya dan menghela nafas panjang dengan tatapan sendu, "Tolong tuan, sembuhkan anakku."
"Seni 9 bintang: Jarum Mata Erlang!"
Feng Xin menciptakan 10 siluet jarum perak yang melayang di sekitar tubuhnya. Lalu menggerakan kedua jari kanannya untuk mengarahkan jarum tersebut untuk menusuk beberapa bagian tubuh pemudi tersebut.
Ruam hijau yang menonjol di sekujur tubuh pemudi tersebut mulai mereda dan dari pori-pori kulitnya keluar asap juga cairan kental berwarna hijau.
"Uhuk ..." Pemudi berambut biru tersebut siuman dan memuntahkan darah hijau.
Raut wajahnya masih pucat, Feng Xin kasihan melihatnya dan menggendong pemudi tersebut, "Nyonya, kita bawa pulang dahulu. Apakah rumah nyonya jauh dari sini?"
"Kami dari desa Suijin, sangat dekat dari ini. Tapi bagaimana dengan kondisi putriku?" tanya Lin Nua khawatir.
"Tidak apa-apa nyonya, hanya perlu istirahat saja. Namun kita harus bergegas, aku harus meramu obat untuknya. Aku sama sekali tidak membawa tanaman obat, aku akan mencarinya di kota Yio Shan," jawab Feng Xin.
"Tapi kami tidak punya uang, tuan ---"
"Tidak masalah, yang penting nona ini sehat dan pulih dahulu."
Lin Mei masih sayu tatapan matanya dan lidahnya masih kelu untuk berbicara. Efek racun ular hijau memang sudah hilang, tapi tubuhnya, bahkan sel sarafnya masih lemas.
Setelah 15 menit berjalan cepat, Feng Xin yang dituntun Lin Hua tiba di sebuah perkampungan yang bisa dikatakan jauh dari kata layak di sebelah timur kerajaan Nanjing dan sangat dekat dengan hutan Han Ku.
__ADS_1
Lin Hua dan Lin Mei awalnya ke hutan untuk mencari kayu bakar. Namun nahas, Lin Mei malah dipatuk ular hijau dan pingsan.
Feng Xin dituntun oleh Lin Hua masuk ke kamar Lin Mei dan menaruh tubuh perempuan mungil tersebut ke kasurnya.