
"Oh, hanya pasukan elit kerajaan. Mari main bersamaku." An Lin memainkan telapak tangannya untuk memprovokasi pasukan elit kerajaan.
Merasa pasukan elit kerajaan bukan tandingan ketiga wanita tersebut, Meng Qi, Meng Yi dan Yuan Shi merapat ke arah An Lin.
An Lin melepaskan gelombang petir dari kedua telapak tangannya ke arah pasukan elit yang mengepungnya, "Kalian merunduk! Gelombang petir Deza!"
DUAR!
15 anggota pasukan elit terpental dan menabrak dinding hingga pingsan. 5 anggota lain menyusul untuk menyergap Meng Yi, Meng Qi dan Yuan Shi.
"Cepat menyerah! Atau ---"
"Atau apa? Berani kau memperlakukan putri kaisar seperti ini? Apa kau tidak takut aku adukan ke ayah kaisar?" potong Yuan Shi yang lehernya ditodong oleh bilah pedang yang dihunuskan oleh salah satu anggota pasukan elit kerajaan.
"Kalian kira aku masih pangeran sampah? Aku akan perlihatkan kekuatan kultivator Ensoulment bintang 5."
Tubuh An Lin sudah hilang dari pandangan, 5 anggota pasukan elit matanya berkeliling mencari keberadaan An Lin.
"Aaakh ...!" Satu persatu anggota pasukan elit tumbang dengan memekik keras terkena pukulan petir Naga emas milik An Lin.
Kecepatan An Lin tak bisa dilihat oleh mata biasa, bahkan seni kesadaran ilahi pun tak mampu mendeteksi keberadaannya.
"Ayo kita pergi, urusan disini kita serahkan pada guru besar!" seru An Lin panik karena melalui persepsi kesadaran ilahi miliknya, sudah ada 30 anggota pasukan elit lagi yang mengarah ke lantai atas.
"Tidak secepat itu pangeran An Lin." Tiba-tiba salah satu pasukan elit kekaisaran Han di fase Ensoulment bintang 5 bernama Wan Feng menghadang, "Serahkan tuan putri Yuan Shi dan aku akan membiarkan kalian pergi."
"Baik, aku akan pergi dengan kalian. Tapi jangan sakiti mereka." Yuan Shi mendekat ke arah Wan Feng untuk ikut dengannya.
"Putri, tapi ---"
"Sudah, aku tidak apa-apa. Aku hanya akan pulang ke pusat kekaisaran." Yuan Shi memotong perkataan Meng Yi. "Ayo, kita pergi!"
__ADS_1
Wan Feng menunduk hormat dan membuka jalan pasukan elit kerajaan Nanzong yang sudah mengepung mereka di lantai atas.
"Pangeran, lebih baik anda pulang," pinta Fung She, salah satu pasukan elit dan komandan yang setia pada An Lin.
"Baik, aku akan pulang. Tolon jangan sakiti nyonya guru." An Lin menunduk hormat pada Meng Yi dan Meng Qi lalu melangkah ke arah Fung She serta pasukannya dengan menyunggingkan senyum.
"Nona, lebih baik kita pulang ke kerajaan Xiaolan. Masalah ini sangat rumit, tuan muda merupakan buronan kekaisaran Han. Untuk sementara ini, kita harus menjauhi masalah daripada akan bertambah runyam," pinta Meng Qi dan di anggukan oleh Meng Yi.
Sementara di luar restoran Hao Ling, Jia Xu sedang bertatap tajam dengan Zuo Ci.
Dengan menyunggingkan senyum ia berkata, "Halo teman lama. Kenapa kau datang dengan banyak orang? Apakah ini khusus untuk menjemputku menjadi Jendral nomor satu di kekaisaran Han lagi?"
"Cih, masih saja bermimpi di siang bolong. Justru aku disini akan menangkapmu, kelelawar merah. Lebih baik kau menyerah!" ancam Zuo Ci dengan mengeluarkan jimat-jimat yang melayang di sekeliling tubuhnya.
"Ha-ha ... hanya sebuah jimat lusuh mana mungkin bisa melukaiku. Bagaimana bisa melawan senjataku ini?" Jia Xu teryawa jahat dan mengeluarkan sarung tangan besi yang sangat tajam pada bagian kukunya.
Sarung tangan tersebut dibuat oleh Tao Wu dan dinamakan Cakar Merah senjata level 6.
"Mari kita menari dengan darah sebagai persembahannya. Tarian Angin Darah!"
"Aaakh ...!" Darah memuncrat ke udara disertai alunan suara pekikan keras dari kepala-kepala yang terbang ke udara.
Zuo Ci tidak tinggal diam menembakan bola-bola api dari jimat yang ia keluarkan. Namun sayang serangannya tak mampu mengimbangi kecepatan Jia Xu.
Pria dengan kedua taring menjulur panjang itu telah berada tepat di atas kepala kuda yang ditunggangi Zuo Ci, "Apakah kamu tahu perbedaan orang bodoh dan orang tolol?"
Zuo Ci langsung membeku tubuhnya dan bergetar ketakutan setelah serangannya gagal dan 100 anggota prajurit kekaisaran Han yang dibawa olehnya dibantai habis tak tersisa oleh Jia Xu.
Jia Xu tanpa sungkan lagi mencengkram leher Zuo Ci dan membawanya melayang ke udara, "Biar aku beritahu, orang bodoh akan berhenti mengejar sesuatu jika yang dikejarnya tidak bisa ia gapai. Tapi orang tolol itu seperti ...."
Jia Xu dengan menyeringai tajam meremas leher Zuo Ci dan menjadikan kepalanya kabut darah.
__ADS_1
BOOM!
Jia Xu menoleh ke kiri dan ke kanan menatap tajam prajurit lain yang masih tersisa, dan berteriak, "Kalian pulang! Katakan pada kaisar aku yang akan mengunjunginya setelah pedang Qinglong berada ditanganku, ha-ha ...."
Pasukan kerajaan Nanzong, kerajaan An Wu, kerajaan Xiaolan, kerajaan Zan Shi dan pasukan anggota kekaisaran yang tersisa lari kocar-kacir.
Mereka tahu Jia Xu terkenal sangat kejam dan bengis. Tapi ada beberapa pasukan dari keempat kerajaan yang tidak kabur malah langsung berlutut satu kaki dan menunduk hormat dengan menyatakan sumpah setia padanya.
"Hormat pada Jendral Jia Xu!" ucapnya serentak.
Total prajurit tersebut hanya 150 orang dari keempat kerajaan dan kekaisaran. Pasukan yang setia pada Jia Xu di kekaisaran Ham sudah dihabisi oleh Kaisar Yuan Shao dan dicap sebagai pengkhianat kekaisaran.
"Kalian beristirahatlah di penginapan ini dan jaga kemanannya. Jika ada muridku bernama Feng Xin kalian harus tunduk pada perintahnya," titah Jia Xu turun perlahan dengan menautkan tangan di pinggang belakang.
"Baik, Jendral," sahut serentak 150 anggota prajurit masih dalam keadaan yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Desa Suijin....
Feng Xin turun perlahan ke arah rumah Lin Hua untuk memeriksa keadaa mereka.
Setelah mendarat, Feng Xin mengetuk pintu yang sudah lapuk tersebut, "Permisi nyonya, aku Feng Xin!"
Tidak ada suara sahutan dari dalam rumah Lin Hu, "Apakah mereka sedang mencari kayu bakar?" pikirnya.
Feng Xin mencoba mengetuk kembali pintu rumah Lin Hua dan masih tidak ada sahutan dari Lin Mei maupun Lin Hua.
Sosok pria dan wanita yang merupakan tetangga Lin Hua mendekat Feng Xin dengan tatapan sinis, "Semua ini gara-gara kamu, Lin Hua dan Lin Mei ditangkap oleh pangeran An Zong."
"Dasar pembawa sial, jangan ke desa kami lagi sialan!" timpal sosok wanita mengambil batu dan melemparkannya ke arah Feng Xin.
__ADS_1
Sebelum batu itu sampai ke dahi Feng Xin, batu seukuran bola baseball tersebut luruh menjadi debu dan membuat takut pria dan wanita tersebut.
"Beraninya mereka menangkap nyonya dan nona," gumam Feng Xin menggertakan gigi.