
Hembusan angin dari pegunungan terasa
semakin menderu. Suaranya mirip erangan raksasa kelaparan. Gumpalan awan di langit
bergerak cepat, seolah-olah digusur tanpa
pesangon.
Hutan menjadi gusar, pohon-pohonnya gelisah, karena hembusan angin terasa ingin mendongkel akar pohon secara paksa. Anak-anak pohon terpental tunggang langgang tanpa bisa berteriak karena memang tak punya mulut.
Semakin lama angin pun mengubah dirinya menjadi badai. Kata orang, badai lebih Jahat dari angin, karena badai dapat menggulingkan batu besar dari atas gunung atau menerbangkan rumah-rumah penduduk tanpa pandang bulu siapapun pemilik rumah itu. Bahkan bendungan dan waduk pun dapat dijungkir balikkan jika sang badai sedang mengamuk.
Begitulah perangai si badai. Jahat dan sadis. Karenanya, para sesepuh desa di Durian Runtuh berpendapat, lebih baik masuk angin daripada masuk badai.
"Ah, kalau menurutku daripada masuk angin lebih baik masuk kedai, bisa makan minum dan ngobrol!" ujar seorang penduduk desa yang sedang berteduh di dalam kedai.
Hari itu badai datang bukan sendirian, tapi ditumpangi oleh hujan yang kadangkala sering ngelunjak, menurut pendapat teman orang yang bicara tadi.
__ADS_1
"Bagaimana tidak ngelunjak? Ketika ia datang rintik-rintik kita menyukainya, karena sawah ladang kita tidak dilanda kekeringan. Tapi setelah kita menyenanginya, eeh... dia datang bersama rombongan hujan lainnya. Akibatnya desa kita kebanjiran. Itu kan namanya ngelunjak?!"
Deru hujan bercampur badai sempat menyiram bagian dalam kedai tersebut. Maklum, kedai itu mempunyai dinding hanya separuh bagian. Si pemilik kedai yang berkumis abu-abu dan berbadan kurus itu menggerutu keras-keras.
"Sial! Kalau begini caranya kerak nasiku tak bisa kering-kering!"
"Nasinya dibikin lem sandal saja, Ki!" celetuk pengunjung kedai yang lain. Si pemilik kedai jadi dongkol.
"Mulutmu itu yang dilem pakai kerak nasi."
Orang yang dicela itu tertawa. Si pemilik kedai berkata lagi, entah ditujukan kepada siapa.
"Lho, apakah si Atok Dalang masih bersemayam di puncak gunung, Ki? Bukannya tempo hari ada kabar si Atok Dalang telah
ditangkap oleh Ratu Cikgu Besar?!"
"Mana kutahu?! Aku tidak ikut menangkapnya!" jawab si pemilik kedai agak
__ADS_1
ketus karena masih dongkol memikirkan kerak nasinya yang sudah tiga hari tak kering-kering itu.
"Sejak kapan Ratu Cikgu Besar
menangkap si Atok Dalang?! Apa benar si
Atok Dalang telah berhasil ditangkap oleh
Ratu Cikgu Besar?!"
Pertanyaan seperti itu sering terucap dari mulut ke mulut. Kadang ada yang hanya membatin pertanyaan seperti itu. Agaknya nama Atok Dalang sudah dikenal di daerah sekitar Durian Runtuh. Juga, nama Ratu Cikgu Besar banyak dikenal oleh para penduduk desa, padahal wilayah kekuasaan Ratu Cikgu Besar ada di pesisir kulon.
Hampir semua orang tahu, bahwa di pesisir kulon atau di pantai sebelah barat, terdapat sebuah bangunan megah yang sering disebut-sebut sebagai istana. Bangunan megah itu mempunyai benteng batu kokoh yang luasnya sama dengan tiga kali luas pedesaan. Di sanalah seorang perempuan cantik bermata sayu memegang tampuk pimpinan dan menobatkan diri sebagai Ratu yang kemudian dikenal dengan nama Ratu Cikgu Besar.
Perempuan cantik itu mempunyai bentuk tubuh yang elok sekali. Pinggangnya ramping, pinggulnya bikin pusing. Pakaiannya seronok, dadanya montok. Bibirnya ranum, hobinya mesum.Ia bukan saja seorang ratu cantik yang gemar digelitik, tapi juga seorang perempuan yang berilmu tinggi.
Persekutuannya dengan Iblis membuat sang
__ADS_1
Ratu sukar dltumbangkan oleh lawan-lawannya. Selama menjadi pengabdi iblis, ia akan tetap awet muda dan kecantikannya tak pernah luntur. Pancaran daya pikatnya begitu tinggi, sehingga setiap lelaki mampu ditundukkan olehnya, baik ditundukkan dengan ilmu kanuragannya maupun dengan aji kemesraannya.