
"******* kalian semuaaa...!" teriak Ratu Cikgu Besar, lalu melepaskan serangan balasan yang tak pernah mengenai sasaran.
Jegaaar, blaar, blarrr, jegaaar...!
"Aaaow...!" pekik Ratu Cikgu Besar.
Tangan kirinya menjadi hangus seketika begitu sinar hijau Resi Sapy mengenai pundaknya.
Jgaaar...!
Kini sinar kuning dari Pendeta Saleh menyerempet pinggang kanannya. Pinggang itu langsung terkelupas dan menghangus dengan asap putih mengepul samar-samar.
"Aaaakh...!" Ratu Cikgu Besar memekik lagi.
Kini ia mulai sadar, kekuatannya telah menurun pesat. Tak akan mampu jika tetap terus melawan dua tokoh tua itu.
Maka ia pun segera memutar tubuhnya dengan cepat dan,
Blaaap...!
Tubuh itu menghilang lenyap bersama kepulan asap putih yang segera tersapu angin pantai.
Tapi suaranya masih terdengar dalam gema yang lama-lama kecildan menghilang.
"Aku akan hadir kembali menghancurkan kalian semua! Ingat, aku akan hadir kembali sebagai maut bagi kalian semuaaa...!"
Sisa orang-orang sang Ratu pun akhirnya membuang senjata mereka dan menyerah kalah.
Resi Sapy dan Pendeta Saleh segera perintahkan sisa murid mereka untuk membawa para tawanan ke Perguruan Elang Bumi.
Tapi sementara itu, mereka dikejutkan oleh serpihan mayat si Atok Dalang yang ternyata berubah menjadi batang pisang dalam keadaan hancur.
__ADS_1
Resi Sapy dan Pendeta Saleh saling berpandangan, lalu sang Resi pun berkata kepada sahabatnya itu.
"Berarti si Atok Dalang masih hidup!"
"Kurasa ia memang masih berada di puncak Gunung Merapi!" balas sang Pendeta berkepala gundul itu.
Atok Dalang memang masih hidup di puncak Gunung Merapi. Ia hanya menunaikan tugas dari mendiang gurunya untuk membuat
lega hati si Ratu, karena merasa telah membunuhnya.
Padahal yang hadir di situ adalah batang pisang yang dicipta dengan kesaktiannya hingga serupa dengan dirinya.
Pada saat itu, Atok Dalang telah kembali ke puncak Gunung Merapi, sebagai penunggu makam keramat mendiang gurunya, juga membesarkan si bayi kembar bersama istrinya Cikgu Melati.
Bayi kembar itu pun akhirnya tumbuh menjadi bocah yang sulit dibedakan mana yang bernama Upin dan mana yang bernama Ipin.
Tetapi ketika bocah itu dalam usia delapan tahun, Atok Dalang mulai memberinya pelajaran silat dan pengetahuan tentang ilmu-ilmu aliran putih.
"Kelak, jika kalian besar, kaiian akan menjadi seorang pendekar yang tangguh apabila kalian berlatih ilmu kanuragan ini dengan tekun dan rajin," ujar Atok Dalang.
"Apakah aku bisa menjadi sakti seperti Ayah?" tanya Ipin.
"Tentu saja bisa, Ipin."
"Oh, enak sekali kalau aku bisa menjadi orang sakti. Setiap orang akan kuajak bertarung dan...."
"Husy! Kesaktian tidak untuk menantang setiap orang, Ipin. Kau harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang sa....?"
"Sayang!" lanjut Ipin.
"Bukan yang sayang, tapi yang salah!" ujar Upin membetulkan.
__ADS_1
"Upin benar. Kalian harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan yang salah itu tidak boleh kalian bela. Kalian harus membela kebe...?"
"Kebetulan!" sahut Ipin.
"Kebenaran" ralat Upin. Sang adik jadi
sewot.
"Maksudku kebetulan yang kita bela orang yang benar," Ipin ngotot, sang ayah angkat segera meluruskan sambil tersenyum geli.
"Ayah, bolehkah ilmuku untuk melindungi anak perempuan saja? Bukankah anak perempuan itu orang yang lemah dan patut dilindungi?"
"Boleh. Tapi perempuan yang bagaimana dulu? Kalau perempuan Itu adalah tokoh sesat beraliran hitam, kau tidak perlu melindunginya. Luruskan Jalannya, kalau tidak mau, lawanlah dia demi kebenaran!"
"Yaaah... nanti kalau dia menangis bagaimana? Kasihankan?!"
"Eh, Ipin... kita tidak boleh melindungi dan merasa kasihan kepada orang sesat. Nanti kita malah menjadi sesat juga. Bukankah begitu, Ayah?"
"Ya, benar. Mengasihi orang yang lemah bukan berarti orang yang sesat dan tak mau
diajak ke jalan yang benar harus dikasihani juga...."
"Ah, aku pusing menerima wejangan ini. Aku mau tidur saja. Biar Upin saja yang mendengarkan wejangan Ayah...," lalu bocah
itu menggelosor di samping kakaknya.
Sang ayah angkat hanya geleng-geleng kepala, tapi masih tetap bersabar. Atok Dalang tak jemu-jemu mendidik si kembar untuk menjadi sepasang Pendekar Kembar yang dapat berguna bagi kehidupan dan kedamaian di antara sesama. Sekalipun sering dibuat jengkel oleh kenakalan Ipin, namun Atok Dalang tetap menjadi seorang pembimbing yang setia dan sabar.
Bagaimanapun juga Atok Dalang masih ingat kutukan Nyai Pelet, yang didengarnya sebelum ia muncul di depan ratu cantik itu.
"Benarkah si Cikgu Beaar itu nantinya akan tewas di tangan bocah kembar? Apakah yang dimaksud dalam kutukan Nyai Pelet adalah Upin dan Ipin?" ujar Atok Dalang dalam hatinya.
__ADS_1
Puncak Gunung Merapi diselimuti kabut tebal. Rupanya di sana telah tumbuh dua pemuda berwajah kembar yang sedang digembleng oleh si Atok Dalang, terutama setelah roh Eyang Rembo mengizinkan Atok Dalang menurunkan ilmunya kepada kedua anak kembar itu Upin dan Ipin.