PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 7


__ADS_3

Abdul Salam melirik Ratu Cikgu Besar. Sang Ratu tersenyum bangga dan mengacungkan jempolnya, sehingga Abdul Salam semakin bersemangat melepaskan jurus-jurusnya untuk segera menumbangkan si Uncle Ah Tong.


Tetapi Uncle Ah Tong tak bisa menerima kenyataan itu. Murkanya semakin bertambah besar. Maka ia pun segera berkelebat bagaikan kilat menerjang Abdul Salam bersama kapaknya.


Wuuut...!


Crass...!


"Oukh...!" Abdul Salam terpekik, rupanya saat itu ia menghindari terjangan Uncle Ah Tong agak terlambat sedikit.


Lengannya menjadi sasaran kapak dua mata itu. Lengan itu pun koyak lebar dan mengerikan. Darah mengalir membasahi sekujur lengan kiri Abdul Salam.


"Heeeah...!" Uncle Ah Tong begitu mendaratkan kakinya ke tanah langsung menyentak dan tubuhnya melambung ke atas.


Tanah itu bagaikan terbuat dari karet yang bisa memantul balikkan tubuhnya. Tubuh itu


bersalto cepat dan dalam gerakan cepat


kaki si Uncle Ah Tong berhasil menjejak tengkuk kepala Abdul Salam.


Praaak...!


"Aaakh...!" Abdul Salam tersentak ke depan dan berjungkir balik di tanah.


Kepalanya bagai dihantam balok kayu yang diayunkan sekeras-kerasnya. Darah pun


mengalir dari telinga dan hidung Abdul Salam.

__ADS_1


Tapi lelaki muda itu merasa malu


dipandangi oleh Ratu Cikgu Besar yang menampakkan kecemasannya. Ia segera bangkit berlutut, lalu tangan kirinya menyentak ke depan kuat-kuat dalam keadaan telapak tangan terbuka.


Claaap...!


Selarik sinar hijau dilepaskan Abdul Salam. Uncle Ah Tong buru-buru menangkisnya dengan kapaknya. Kapak itu menyala merah


bagai terpanggang api. Ketika sinar hijau itu menghantam mata kapak yang kiri, terjadilah ledakan yang cukup dahsyat dan mengguncangkan tanah sekitar mereka.


Blegaaar...!


Uncle Ah Tong terlempar ke belakang bagai tong sampah disapu badai.


Wuuus...!


Sementara itu, Abdul Salam hanya tersentak mundur nyaris jatuh. Untung tangan Ratu Cikgu Besar segera menangkapnya dan memeluknya dengan wajah cemas.


"Lukamu makin melebar, Abdul! Ooh...! Kapak itu pasti beracun ganas!"


"Aku masih bisa menahannya, Nyai Ratu!" tegas Abdul Salam bagai orang tak kenal menyerah.


Ia segera lepaskan diri dari pelukan Ratu Cikgu Besar. Luka lebamya sama sekali tak dihiraukan karena pada saat itu ia melihat Uncle Ah Tong telah bangkit dengan menggeram, seluruh tubuhnya mengeras, otot-ototnya mulai bertonjolan. Kedua mata


angker itu menyala merah, pertanda ia sedang kerahkan tenaga dalam untuk lepaskan jurus berbahaya.


Abdul Salam buru-buru menerjangnya sebelum jurus berbahaya itu dilepaskan lawannya.

__ADS_1


Dengan satu lompatan bersalto cepat seperti kipas angin, Abdul Salam menerjang Uncle Ah Tong yang sedang menyeringai menyeramkan.


Weers...!


Blaaar...!


Kedua telapak kaki Abdul Salam tepat mengenai muka si Uncle Ah Tong. Cahaya merah membias lebar dalam sekejap. Lalu cahaya itu padam. Dan kulit wajah yang terkena tendangan 'Pasak Jagat' itu hangus


seketika. Rambut si Uncle Ah Tong pun


terbakar mengepulkan asap yang baunya tak sedap. Beberapa kejap kemudian, si Uncle Ah Tong pun tumbang tanpa bernyawa lagi.


Brruuk...!


"Horeeee...!"


Para pengepung bersorak menyambut


kemenangan Abdul Salam. Ratu Cikgu Besar tampakkan senyum kegembiraannya. ia segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk membuang mayat si Uncle Ah Tong.


Sementara itu, Abdul Salam segera dibantu melangkah masuk ke kamar.


"Lukamu harus segera kusembuhkan sebelum racun itu makin merobek sekujur lenganmu, Abdul!" ujar sang Ratu masih menyimpan kecemasan.


Pada saat itulah, badai pun datang bersama kilatan cahaya petir, kemudian hujan turun dengan deras dan matahari sirna dari peredarannya.


Ratu Cikgu Besar punya kekuatan penyembuh pada air liurnya. Air liur itu bukan saja cepat mengeringkan luka, namun juga membuat luka menjadi rapat dan beberapa saat kemudian luka itu lenyap tanpa meninggalkan bekas.

__ADS_1


__ADS_2