
Mungkin karena lelahnya, Badrol akhirnya tertidur di ujung pagi. Saat ia tertidur itulah, Ratu Cikgu Besar yang mendapat getaran ganjil dalam hatinya, segera menemukan jarum 'Kretek' di paha kanan Badrol.
Jarum itu dicabut pelan-pelan, sehingga Badrol tak terbangun.
Sekalipun Nyai Pelet telah menutupnya dengan kekuatan gaib, namun jarum itu masih dapat terlihat oleh mata Ratu Cikgu Besar, karena kekuatan iblis Dewa Jarjit Singh memberitahukan adanya bahaya yang akan menyerangnya.
Sang Ratu ganti menyirap Badrol, hingga pemuda itu tertidur dengan nyenyak sekali. la tak merasa kalau sudah dipindahkan di suatu tempat.
Ketika ia bangun, ternyata sudah berada di sebuah ruangan kumuh dan pengab berdinding lembab.
Keadaannya masih tanpa pakaian, namun kedua kaki dan kedua tangannya terikat merentang dikedua tiang.
"Oooh...? Mengapa aku mimpi begini? Ah, tak enak sekali mimpi begini. Aku harus segera bangun...!" pikirnya.
Namun tiba-tiba sebuah cambuk melecut tubuhnyadari belakang dan sangat mengagetkan sekaligus menyakitkan.
Ctaaaarr...!
"Aaaow...!" teriak Badrol.
la segera sadar bahwa di depannya telah berdiri seorang perempuan cantik bermata sayu yang mengenakan jubah merah jambu.
Perempuan itu tak lain adalah Ratu Cikgu Besar, dengan didampingi dua pengawal wanita di kanan kirinya, dan dua lagi pengawal lelaki bertubuh kekar berotot sedang memegangi cambuk di belakangnya.
Lelaki itulah yang selalu ditugaskan menyiksa pria yang habis bercumbu dengan sang Ratu, untuk kemudian menghabisi pria itu jika sang Ratu tidak membutuhkannya lagi.
"Oh, ternyata aku tidak sedang bermimpi?!" pikir Badrol dengan tegang dan ketakutan.
"Kau sudah bangun, Sayang?!" ujar sang Ratu dengan senyum sinis sambil mendekati Badrol, lalu tangannya bermain nakal di ujung 'pusaka' pemuda itu.
"Rupanya tidurmu nyenyak sekali, dan percintaan kita semalam melenakan sekali, sehingga kau tak sempat mencabut jarum beracun ini!" sambil sang Ratu menunjukkan
__ADS_1
jarum 'Kretek' yang membuat Badrol tercengang.
"Itu... itu... anu... itu...."
"Kau pasti orang suruhan yang ditugaskan membunuhku dengan jarum beracun ini! Siapa yang menyuruhmu?!"
"Hmmm... tidak, eh... bukan, eh... anu...."
"Cambuk dia!" sentak sang Ratu.
Ctaar, ctaar, ctaaaar...!
Badrol memekik keras-keras menerima cambukan dari belakang dalam keadaan tanpa pakaian.
Lecutan cambuk itu diterimanya lebih dari dua puluh kali, sehingga tubuhnya pun babak belur dengan luka mengerikan.
"Siapa yang menyuruhmu membunuhku,
"Pinjam pedangmu!"
"Ja... jangan, jangan...! Ampun, Nyai! Kau boleh potong rambut dan kukuku, tapi jangan potong yang satu itu, Nyai! Kasihan, dia anak yatim piatu! Ooh, ampun...ampun, Nyai Ratu...." Badrol pun menangis ketakutan melihat sang Ratu sudah memegang pedang.
Akhirnya Badrol mengaku bahwa ia memang disuruh oleh Nyai Pelet, gurunya sendiri. Badrol menjelaskan, siapa Nyai Pelet itu, selanjutnya semua rahasia itu terbongkar di depan Ratu Cikgu Besar.
"Badrol, kau masih ingin bercumbu denganku seperti semalam?"
"Maa...masih. Masih sekali, Nyai! Mmm... maksudku, masih bersemangat sekali...."
"Kau mau selamanya bercumbu denganku?"
"Mau, mau... mau sekali, Nyai!" jawab Badrol penuh semangat.
__ADS_1
"Aku memang ingin selalu bercumbu denganmu, karena kau... kau luar biasa indahnya, Nyai...."
"Kalau begitu, kau harus penuhi syaratnya."
"Apa syaratnya, Nyai?"
"Kembalilah dan temui gurumu itu. Tancapkan jarum ini ke tubuhnya sendiri, lalu panggil pengawalku itu, suruh ia menghabisi gurumu. Kau bersedia atau tidak?!"
"Sangat bersedia, Nyai Ratu! Sangat bersedia!" jawab Badrol berapi-api.
Pikirnya, "Lebih baik kehilangan Nyai Guru daripada tidak mendapat kemesraan seperti semalam. Toh kalau aku menolak, aku akan mati. Sedangkan aku baru kali ini menikmati kehangatan seorang perempuan. Apakah baru semalam menikmati kehangatan perempuan sudah harus cepat-cepat mati? Nanti dulu, ah!"
Tiba-tiba Meimei yang telah lama sembuh dari lukanya segera datang menghadap Ratu Cikgu Besar.
"Kita diserang, Nyai Ratu!"
"Oh, ya...?! Siapa yang menyerang? Orang-orang Tebing Naga?!"
"Bukan! Mereka dari Perguruan Elang Bumi!"
Ratu Cikgu Besar terkejut, langsung teringat kepada Abdul Salam, karena ia tahu Abdul Salam dari Perguruan Elang Bumi.
"Mereka telah mendesak masuk, Nyai Ratu! Pintu gerbang benteng telah hancur!"
"Jahanam! Apa alasan penyerangan mereka?!"
"Mereka tahu, pihak kita yang membantai orang-orang Pademangan, Nyai!"
"Keparat! Pasti si busuk Susanti yang membuka rahasia ini! Habisi mereka! Cari Susanti sampai dapat, pancung dia!" seru sang Ratu dengan murka sekali.
"Lepaskan pemuda itu dan suruh mencari gurunya. ikuti dari kejauhan, jika ia berkhianat, bunuh!" Sadis sekali perintah itu, tapi memang begitulah sang Ratu.
__ADS_1
Ia seperti bukan seorang perempuan lagi. Hati dan perasaannya telah menyatu dengan hati si iblis Dewa Jarjit Singh, sehingga ia tak pernah mengenai belas kasihan kepada sesamanya.