
Seorang pemuda desa yang pernah berhadapan dengan Ratu Cikgu Besar menuturkan kisahnya kepada para pengunjung kedai yang sedang diterpa badai dan hujan itu.
"Jika la sedang membisikkan rayuan, suaranya ssssst... nyaris tak terdengar,
Tarikannya, wuus, wuus. wuus.... Heh, heh,
heh!"
"Apa maksudnya?!"
"Tahu-tahu kita dibuat tak berpakaian lagi," bisik pemuda itu.
"Gila!" mereka yang mendengarkan
berdecak kagum.
"Dan kalau sedang melawan tokoh mana pun, ia tak pernah menggunakan waktu lama-lama, ia sangat irit waktu. Sekali pukul, lawan ngejengkang, kadang-kadang sekali sentak, nyawa orang bisa melayang. Itu namanya sudah irit semakin irit.
Cring, cring, cring...!"
"Bunyi apa itu?"
"Perhiasannya kalau berjalan bergemerincing!" bisik si pemuda dengan nada suara ditekan untuk meyakinkan ceritanya.
"Ssst, dengar-dengar Raden Abdul juga sedang tergila-gila sama Ratu Cikgu Besar. Apa benar?" bisik seorang lelaki berpakaian serba hitam.
"Maksudmu, Raden Abdul Salam, putranya Ki Demang kita itu?!"
__ADS_1
"Raden Abdul mana lagi kalau bukan
putra Ki Demang."
"Apa iya?! Aku kok baru dengar sekarang kalau Raden Abdul ada main sama
Ratu Cikgu Besar?"
"Bukankah dia sudah punya istri?" timpal pemuda berikat kepala hijau.
"Bahkan kudengar istri Raden Abdul sedang
hamil tua?"
"Memang iya! Kemarin saja kulihat Syahrini sudah bolak-balik ke rumah Cikgu Jasmin, si dukun bayi Itu. Mungkin sudah mau melahirkan."
"Syahrini siapa?"
"Oo… jadi istrinya Raden Abdul itu
sekarang *****, ya?!"
"Kau yang *****!" bentak pemuda berbaju merah yang mengenal Syahrini, istri Abdul Salam.
Gosip itu sebenarnya sudah lama menyebar dan menjadi buah bibir para penduduk Pademangan. Tetapi tidak setiap orang berani bicara di sembarang tempat dengan sembarang suara. Umumnya mereka hanya berani berkasak-kusuk di pojokan rumah atau di sudut kedai. Sebab, bagaimanapun mereka masih merasa takut dan sungkan terhadap Ki Demang Abang Ghani yang menjadi penguasa di wiiayah Pademangan tersebut yang membawahi beberapa kelurahan, erwe dan erte.
Sebenarnya Ki Demang sendiri sudah mengetahui skandal putranya dengan Ratu Cikgu Besar. Namun ia menutup mata dan telinga demi menjaga gengsi di depan para
__ADS_1
kerabatnya. Tentunya Ki Demang Abang Ghani sangat malu mendengar putranya yang sudah beristri terlihat hubungan gelap dengan seorang perempuan dari tokoh silat aliran
hitam itu.
Sebagai keluarga darah bangsawan, Ki Demang sangat tidak setuju terhadap hubungan gelap itu. ia sendiri sudah menegur putranya berkali-kali, tapi teguran tersebut tak digubris oleh sang putra.
"Kasihan Syahrini kalau setiap malam
kau tinggal pergi ke Pesisir Kulon hanya
untuk menyambangi perempuan itu!" ujar Ki
Demang pada suatu siang.
Abdul Salam hanya menjawab, "Justru karena aku kasihan kepada Syahrini, istriku itu, maka setiap malam ia kutinggalkan, Ayah. Sebab jika aku selalu ada di sisinya, kasihan bayi dalamkandungannya. Tertekan setiap malam bisa bikin cacat sang jabang bayi, bukan?"
Abdul Salam memang seorang suami yang
bandel dan masih suka ugal-ugalan. Usianya
yang sudah mencapai dua puluh delapan tahun itu, masih belum mampu mengendalikan dirinya untuk bersikap bagai seorang lelaki yang dewasa, apalagi seorang ayah.
Syahrini, yang hanya anak seorang petani biasa itu, tak menyadari bahwa la telah dinikahi oleh seorang lelaki yang belum mampu berpikiran dewasa. Syahrini
hanya menuruti perasaan cintanya terhadap
pemuda tampan berdarah biru itu, sehingga
__ADS_1
ia mau menjadi seorang istri yang tulus
dan setia terhadap suaminya.