PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 4


__ADS_3

Cikgu Melati tersentak-sentak dan menjadi terbatuk-batuk karena isi dadanya terasa mau rontok. Maka bergegaslah mereka membawa Cikgu Melati ke rumah Ki Demang, karena Syahrini ada di rumah sang mertua.


"Kebetulan aku sebenarnya mau menemui Ki Demang, karena ada mimpi aneh yang harus kusampaikan."


"Mimpi aneh apa itu, Cikgu?" desak salah


seorang yang ikut mengantar Cikgu Melati ke


rumah Ki Demang.


"Mimpi melihat rumahnya yang berkabut tebal."


"Aneh juga mimpimu itu," ujar perempuan berkebaya biru.


"Kabut itu berwarna hitam dan bergulung-gulung. Seperti ada kebakaran, tapi tak ada apinya."


"Lho, kok bisa tak ada apinya?"


"Yah, namanya saja mimpi! Ah, kau ini begitu saja ditanyakan!" Cikgu Melati hanya tersenyum ramah, lalu meneruskan ucapannya sambil melangkah.


"Lalu, aku melihat sepasang burung merpati keluar dari gumpalan kabut hitam itu. Sepasang burung merpati itu segera terbang mengelilingi desa ini dulu, kemudian lenyap entah ke mana."

__ADS_1


"Jangan-jangan burungnya anakku yang terlepas dari kandangnya kemarin sore?" gumam seorang perempuan yang berjalan di belakang Cikgu Melati.


"Ini mimpi!" tegas temannya.


"O.. iya... mimpi! Kusangka benar-benar terjadi," perempuan itu cengar-cengir malu.


Tapi beberapa orang yang mengantar Cikgu Melati sempat saling merenungi mimpi tersebut. Hati kecil mereka tiba-tiba merasa cemas, sepertinya ada sesuatu yang misterius di dalam mimpi tersebut.


Hembusan angin bertambah kencang. Mendung di langit kian bergulung-gulung. Semua orang tahu, bahwa sebentar lagi akan turun hujan lebat, karena tampaknya mendung tidak hanya di atas wilayah Pademangan saja, melainkan menyeluruh dan rata sampai ke ujung barat dan timur.


Sang matahari sudah tak terlihat lagi, karena


tertutup mendung, padahal semestinya matahari masih punya jatah nongol sebagian karena belum waktunya tenggelam.


Kilatan cahaya petir menyambar-nyambar, seakan apa saja yang ada akan disambarnya, termasuk jemuran juga. Gelegar suaranya sering membuat para istri yang ikut membantu kelahiran bayi pertama Syahrini itu menjerit kaget, bahkan ada yang latah menyebutkan kata-kata jorok yang tak patut ditulis di papan tulis mana pun.


Blegaaaar...!


Kali ini suara ledakan sangat keras bersama kerlapan cahayanya yang mirip jurus pembelah langit. Suara Iedakan petir yang amat keras itu seolah-olah dikeluarkan dari rombongan para petir yang menyambut kelahiran bayi pertamanya Syahrini.


Karena begitu ledakan itu terdengar, suara tangis bayi pun terdengar nyaring dan keras sekali.

__ADS_1


"Oooaaa...! Ooooaaa...!"


Orang-orang terharu, bahkan Cikgu Melati


sendiri merasa iba melihat Syahrini melahirkan bayi tanpa ditunggui suaminya.


Ketika Cikgu Melati menanyakan di mana Raden Abdul Salam, beberapa orang yang membantunya berlagak tidak tahu. Namun salah seorang ada yang berbisik lirih sekali.


"Sedang pergi ke tempat gundiknya...."


"Ya, ampuuuun...?!" Cikgu Melati kaget dan segera berlagak tenang, karena agaknya ada sesuatu yang harus ditanganinya lagi.


Glegaaar...!


Suara rombongan petir lakukan aksi unjuk rasa lagi. Bersamaan dengan itu, terdengar kembali suara tangis bayi yang nyaring dan keras.


"Oooaa...! Oooaaa...! Oooaaa...!"


"Hahh...?! Kembar...?! Bayinya kembar?!" seru seorang yang membantu persalinan itu.


"Apa...?! Dukun bayinya kembar?!"

__ADS_1


"Bayinya yang kembar, budek!" seru orang itu.


Maka hampir semua mulut menyerukan kata 'kembar' dengan perasaan bangga dan gembira.


__ADS_2