PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode19


__ADS_3

"Jangan-jangan singa lapar sedang menuju kemari?" pikirnya mulai cemas.


"Wah, bisa-bisa tubuhku yang bulat Ini dltelannya tanpa dikunyah lagi. Mana tak pakai baju lagi, pasti disangka udang kupasan?!" Ehsan menjadi panik.


la bukan berdebar-debar saja namun juga gemetar. Mulanya ia ingin nekat naik ke permukaan sungai dan mencari dedaunan sebagai penutup tubuhnya, tapi tiba-tiba ia harus merendam diri lagi karena dilihatnya ada tiga perempuan sedang berjalan melintas di atas tanggul.


Ketiga perempuan Itu masih muda-muda dan mengenakan pakaian silat berbeda warna.


"Waduh, gawat...!" sambil Ehsan merendam diri.


"Mudah-mudahan mereka tidak kemari"


Tapi apa yang diharapkan Ehsan ternyata berbeda. Tiga gadis itu memandang ke arah Ehsan, salah seorang menuding dan berbisik-bisik. Ehsan mulai semakin cemas. ia berlagak tidak melihat gadis gadis itu dan melakukan gerakan-gerakan yang seolah-olah sedang mandi.


Wut, wut, wut...!


Tiga gadis itu justru melompat dari atas tanggul dan mendekati tepian sungai.


"Aduh, celaka kambing kalau begini!" keluh hati Ehsan.


"Mereka justru mendekat! Sial! Ini gara-gara ulah si Ismail, bikin aku gemetaran di dalam air sungai!"


"Kang, kami mau numpang tanya padamu!" seru si gadis berpakaian serba hitam itu.


"Naiklah kemari, ada yang ingin kami bicarakan denganmu, Kang!" timpal temannya yang berpakaian serba jingga itu.


"Aak... aku sedang sibuk!"


Ehsan berlagak sibuk mencari udang. Kedua tangannya terendam dalam air. Padahal tadi ia sudah berlagak sibuk mandi, sekarang berubah pura-pura sibuk mencari udang. ini akibat Ehsan salah tingkah karena didekati tiga gadis cantik itu.


"Apa yang kau cari di situ, Kang?"

__ADS_1


"Udang!" jawabnya pendek, seakan acuh tak acuh pada mereka.


"Tahukah kau wilayah Pesisir Kulon itu, Kang?!" tanya si baju kuning.


Ehsan berlagak tak mendengar atau sedang sibuk menangkap udang di bebatuan.


"Kang...!" bentak si baju kuning.


"Ssst...! Jangan brisik, nanti udang-udang ini kaget dan lari ke mana-mana!"


Si baju jingga semakin keraskan suara.


"Kami mau bicara denganmu! Dekatlah kemari! Atau kami akan menyeretmu naik dari tempatmu itu?!"


"Aku sedang sibuk, Nona-nona cantik! Kalau kalian mau bicara denganku, tunggu kalau aku sudah tak sibuk!" seru Ehsan jengkel, tapi ia tetap merendam badan sebatas dada.


"Kami hanya ingin menanyakan letak benteng Pesisir Kulon itu! Tahukah kau?!"


"Aku tak tahu!" jawab Ehsan ketus dan tak memandang yang diajak bicara.


Ehsan tak menjawab, maksudnya biar ketiga gadis itu sebal padanya dan segera pergi.


Tapi rupanya ketiga gadis dari Tebing Naga itu sama-sama bandel, tak mau tahu kesibukan seseorang. Bahkan yang berpakaian jingga segera membentak dengan lantang.


"Penyu bulet! Kau mau kemari atau kutenggelamkan dari sini, hah?! Cepat kemari, kami mau bicara denganmu!" Ehsan semakin jengkel dan bingung.


Mana mungkin ia datang mendekati mereka sementara tubuhnya tanpa selembar benang pun.


Ketiga gadis itu menyangka Ehsan mengenakan celana pendek, karena sedang lakukan kesibukan mencari udang. Tak mungkin telanjang, pikir mereka.


"Kuhitung tiga kali kalau kau tak menghormati kami dengan mendekat kemari, kutenggelamkan kau dari sini!" seru si baju jingga.

__ADS_1


"Satu... dua...."


Ehsan jengkel sekali, ia langsung berdiri di atas batu hingga permukaan air menjadi sebatas betisnya.


"Apa mau kalian sebenarnya, hah...?!"


"Hiiiii...!"


Ketiga gadis itu saiing menjerit dan cepat-cepat lari tinggalkan Ehsan yang mirip anak penyu baru Iahir.


Rupanyan pihak Tebing Naga ingin menuntut balas kepada Ratu Cikgu Besar atas kematian si Uncle Ah Tong. Karena orang bertampang kuburan itu ternyata adalah putra sulung Penguasa Tebing Naga yang berjuluk, Nyai Pelet.


Wilayah Tebing Naga dibagi menjadi dua: utara dan selatan. Yang utara diserahkan kepada si Uncle Ah Tong, yang selatan diserahkan kepada si Ah Yang.


Pada mulanya, Nyai Pelet mempercayakan kepada si Uncle Ah Tong untuk menuntut balas atas kematian Ah Yang. Tetapi ternyata Uncle Ah Tong sendiri terbunuh. Yang mereka tahu, Uncle Ah Tong terbunuh dalam pertarungan melawan Ratu Cikgu Besar. Mereka tidak tahu kematian itu di tangan Abdul Salam.


Oleh sebab itulah, Nyai Pelet sudah tak punya toleransi lagi. la harus muncul sendiri sebagai sang pencabut nyawa Ratu Cikgu Besar. la mengutus tiga murid. perempuannya untuk menyelidiki kelemahan Ratu Cikgu Besar.


Tiga murid itulah yang bertemu dengan Ehsan, dan akhirnya menemukan sendiri wilayah Pesisir Kulon.


Mereka berhasil dapatkan kabar bahwa Ratu Cikgu Besar adalah perempuan yang haus kemesraan lelaki, namun juga mendendam kepada setiap lelaki. Maka kali ini Nyai Pelet mengutus muridnya yang tampan dan masih


berusia dua puluh dua tahun.


Pemuda itu bernama Badrol.


"Rayu dia, usahakan dia jatuh dalam pelukanmu, kemudian tancapkan jarum 'Kretek' ini ke dalam tubuhnya!" ujar perempuan tua berusia enam puluh tahun lebih, namun kulitnya masih kencang, dan wajahnya masih menyimpan sisa kecantikan masa muda.


Itulah wajah Nyai Pelet, tokoh aliran hitam yang tak kentara kehitamannya.


"Apa kekuatan jarum 'Kretek' ini, Guru?!" tanya Badrol.

__ADS_1


"Melumpuhkan kedua belas ilmu andalan lawan. Dengan begitu, Ratu Cikgu Besar dapat kuhancurkan dengan mudah. Ingat, jangan kau hancurkan sendiri perempuan itu. Dia adalah bagianku, karena dia telah membunuh kedua anakku dan seorang menantuku!"


"Baik, Guru! Saya akan segera larikan diri setelah menancapkan jarum 'Kretek' itu!"


__ADS_2