
"Sudah tiba waktuku untuk menuntut balas padamu, Cikgu Besar!" ujar si Uncle Ah Tong dengan suara menggeram angker. Ia tak peduli dengan para pengikut sang Ratu
yang mengepungnya dari berbagai arah.
"Apa yang ingin kau tuntut dariku,
Ah Tong?!"
"Nyawamu!" bentak si Uncle Ah Tong, membuat para pengepung kaget dan menggeragap sambil acungkan senjata.
"Nyawamu harus kucabut sebagai balasan kekejianmu yang telah membunuh adik ku si Ah Yang !"
"O, ya...?!" Ratu Cikgu Besar sunggingkan senyum lebar tapi berkesan sinis, sangat menjengkelkan.
"Kau tahu mengapa adikmu si Ah Yang kubunuh? Itu lantaran adikmu sudah tiga kali
berusaha membunuhku!"
"Jelas la akan selalu berusaha membunuhmu, karena suaminya, si Ah Oh Ah, kau bunuh di depan matanya setelah kau peras keringatnya untuk melayanimu selama tujuh malam! Kau memang layak untuk dimusnahkan, Perempuan Liar!" si Uncle Ah Tong semakin tinggi suaranya dan genggaman pada gagang kapaknya bertambah kuat.
Sang Ratu masih tanggapi dengan kalem dan imut.
"Lalu, sekarang kau datang untuk meminta tolong diantarkan ke neraka menyusul adikmu? Begitu maksudmu, Ah Tong?!"
Lelaki berwajah kuburan itu menggeram
makin keras.
"******* tengik kau, Cikgu Besar!
Heeeah...!"
"Tahaaan...!" tiba-tiba ada suara berseru dari belakang Ratu Cikgu Besar.
Suara itu membuat paras Uncle Ah Tong tak
jadi lakukan lompatan ke arah perempuan cantik itu.
__ADS_1
"Abdul...?! sang Ratu terkejut melihat lelaki berperawakan tegap, kekar dan gagah. Abdul Salam sengaja tampil dengan kalem dan cool dengan arah pandangan matanya tertuju
kepada Uncle Ah Tong, tapi langkah kakinya
tampak jeias mendekati Ratu Cikgu Besar.
"Abdul, sudah kubilang kau di kamar saja, tak perlu ikut campur urusan ini! Aku bisa menyelesaikannya sendiri, Sayang, ini urusan kecil!" kata sang Ratu sambil tangannya mengusap rambut Abdul Salam dengan lembut, seakan memamerkan kemesraan
nya di depan si Uncle Ah Tong.
"Ratu, tanganmu tak boleh menyentuh
kotoran sebesar itu. Biarkan aku saja yang
menyingkirkannya."
"Kau memang bandel, Abdul! Terserahlah
sana, singkirkan kotoran itu jauh-jauh.
lalu sang Ratu tarik diri, mundur ke arah
serambi bertangga lima baris itu.
Uncle Ah Tong merasa semakin dibakar
hatinya mendengar ucapan Abdul Salam.
Dengan kapaknya ia menuding putra Ki Demang itu.
"Kau orang Perguruan Elang Bumi!"
"Ya, memang aku orang Perguruan Elang
Bumi!" tegas Abdul Salam.
"Tapi aku berada di depanmu bukan mewakili perguruanku, melainkan mewakili Ratu Cikgu Besar! Kau tak perlu membawa-bawa perguruanku, Orang Tebing Naga!"
__ADS_1
"Kuingatkan, segeralah menyingkir sebelum kapakku membelah kepalamu menjadi tujuh potong!"
"Kepalaku bukan semangka, Kawan!" ujar
Abdul Salam. "Sebaiknya kapakmu untuk
membelah semangka saja. Karena senjata
seperti itu tak akan mampu melukai kulit ku!"
"Jahanam busuk! Ingin kubuktikan kata-
katamu! Heeaaah...!"
Wuuut...!
Uncle Ah Tong menerjang Abdul Salam dengan kapak berkelebat menghantam dari
kanan ke kiri.
Wees...!
Abdul Salam miringkan kepala, dan kapak itu lewat satu jengkal di atas kepalanya. Tapi tangannya harus segera menyentak ke samping, karena kaki Uncle Ah Tong segera menjejak ke arah pundak kirinya.
Plaaak...!
Abdul Salam pun memutar tubuh dengan cepat dan kakinya melayang ke pipi si Uncle Ah Tong.
Wuuut, ploook...!
Tendangan itu bagaikan hantaman sebatang kayu mahoni utuh. Pipi si Uncle Ah Tong menjadi memar seketika. Warnanya biru kehitam-hitaman. Jika bukan karena tenaga dalam tersalur penuh ke dalam kaki, tak mungkin Abdul Salam dapat membuat memar pipi si Uncle Ah Tong.
"******* kau!" geram Uncle Ah Tong
segera tegak kembali setelah tadi
terpelanting nyaris jatuh.
__ADS_1