PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 6


__ADS_3

"Sudah tiba waktuku untuk menuntut balas padamu, Cikgu Besar!" ujar si Uncle Ah Tong dengan suara menggeram angker. Ia tak peduli dengan para pengikut sang Ratu


yang mengepungnya dari berbagai arah.


"Apa yang ingin kau tuntut dariku,


Ah Tong?!"


"Nyawamu!" bentak si Uncle Ah Tong, membuat para pengepung kaget dan menggeragap sambil acungkan senjata.


"Nyawamu harus kucabut sebagai balasan kekejianmu yang telah membunuh adik ku si Ah Yang !"


"O, ya...?!" Ratu Cikgu Besar sunggingkan senyum lebar tapi berkesan sinis, sangat menjengkelkan.


"Kau tahu mengapa adikmu si Ah Yang kubunuh? Itu lantaran adikmu sudah tiga kali


berusaha membunuhku!"


"Jelas la akan selalu berusaha membunuhmu, karena suaminya, si Ah Oh Ah, kau bunuh di depan matanya setelah kau peras keringatnya untuk melayanimu selama tujuh malam! Kau memang layak untuk dimusnahkan, Perempuan Liar!" si Uncle Ah Tong semakin tinggi suaranya dan genggaman pada gagang kapaknya bertambah kuat.


Sang Ratu masih tanggapi dengan kalem dan imut.


"Lalu, sekarang kau datang untuk meminta tolong diantarkan ke neraka menyusul adikmu? Begitu maksudmu, Ah Tong?!"


Lelaki berwajah kuburan itu menggeram


makin keras.


"******* tengik kau, Cikgu Besar!


Heeeah...!"


"Tahaaan...!" tiba-tiba ada suara berseru dari belakang Ratu Cikgu Besar.


Suara itu membuat paras Uncle Ah Tong tak


jadi lakukan lompatan ke arah perempuan cantik itu.

__ADS_1


"Abdul...?! sang Ratu terkejut melihat lelaki berperawakan tegap, kekar dan gagah. Abdul Salam sengaja tampil dengan kalem dan cool dengan arah pandangan matanya tertuju


kepada Uncle Ah Tong, tapi langkah kakinya


tampak jeias mendekati Ratu Cikgu Besar.


"Abdul, sudah kubilang kau di kamar saja, tak perlu ikut campur urusan ini! Aku bisa menyelesaikannya sendiri, Sayang, ini urusan kecil!" kata sang Ratu sambil tangannya mengusap rambut Abdul Salam dengan lembut, seakan memamerkan kemesraan


nya di depan si Uncle Ah Tong.


"Ratu, tanganmu tak boleh menyentuh


kotoran sebesar itu. Biarkan aku saja yang


menyingkirkannya."


"Kau memang bandel, Abdul! Terserahlah


sana, singkirkan kotoran itu jauh-jauh.


lalu sang Ratu tarik diri, mundur ke arah


serambi bertangga lima baris itu.


Uncle Ah Tong merasa semakin dibakar


hatinya mendengar ucapan Abdul Salam.


Dengan kapaknya ia menuding putra Ki Demang itu.


"Kau orang Perguruan Elang Bumi!"


"Ya, memang aku orang Perguruan Elang


Bumi!" tegas Abdul Salam.


"Tapi aku berada di depanmu bukan mewakili perguruanku, melainkan mewakili Ratu Cikgu Besar! Kau tak perlu membawa-bawa perguruanku, Orang Tebing Naga!"

__ADS_1


"Kuingatkan, segeralah menyingkir sebelum kapakku membelah kepalamu menjadi tujuh potong!"


"Kepalaku bukan semangka, Kawan!" ujar


Abdul Salam. "Sebaiknya kapakmu untuk


membelah semangka saja. Karena senjata


seperti itu tak akan mampu melukai kulit ku!"


"Jahanam busuk! Ingin kubuktikan kata-


katamu! Heeaaah...!"


Wuuut...!


Uncle Ah Tong menerjang Abdul Salam dengan kapak berkelebat menghantam dari


kanan ke kiri.


Wees...!


Abdul Salam miringkan kepala, dan kapak itu lewat satu jengkal di atas kepalanya. Tapi tangannya harus segera menyentak ke samping, karena kaki Uncle Ah Tong segera menjejak ke arah pundak kirinya.


Plaaak...!


Abdul Salam pun memutar tubuh dengan cepat dan kakinya melayang ke pipi si Uncle Ah Tong.


Wuuut, ploook...!


Tendangan itu bagaikan hantaman sebatang kayu mahoni utuh. Pipi si Uncle Ah Tong menjadi memar seketika. Warnanya biru kehitam-hitaman. Jika bukan karena tenaga dalam tersalur penuh ke dalam kaki, tak mungkin Abdul Salam dapat membuat memar pipi si Uncle Ah Tong.


"******* kau!" geram Uncle Ah Tong


segera tegak kembali setelah tadi


terpelanting nyaris jatuh.

__ADS_1


__ADS_2