
Resi Sapy, yang menjadi guru besar sekaligus Ketua Perguruan Elang Bumi itu, berkata kepada para muridnya yang berkumpul di pelataran.
"Kita menyerang bukan semata-mata karena balas dendam. Kita melumpuhkan perempuan itu karena kekejiannya sudah melampaui batas dan sangat membahayakan kehidupan di muka bumi ini! Jika ia tidak kita hentikan, maka pembantaian seperti itu masih tetap akan berlanjut sewaktu-waktu!"
Para murid menyimak baik-baik kata-kata sang guru besar itu. Dalam benak mereka terbayang wajah-wajah pucat tak berdosa yang bergelimpangan, seakan nyawa manusia tak berarti lagi pada saat itu.
"Berangkat dan musnahkan perempuan itu! Tak ada lagi waktu untuk mengadilinya!" perintah sang guru besar Resi Sapy.
Pada saat itu, Susanti berada bersama Ismail di salah satu sudut paling belakang. Susanti tersenyum dalam hati, karena ia sebentar lagi akan melihat Ratu Cikgu Besar menjadi kalang kabut diserang oleh orang-orang Perguruan Elang Bumi.
"Kau akan ikut menyerangnya pula, Susanti?!" tegur Ismail.
"Ya, tapi aku hanya akan menyerang Ratu Cikgu Besar. Kucari kelengahannya dan kuserang ia dengan jurus yang mematikan!"
"Bagus! Aku akan mendampingimu terus!" ujar Ehsan yang merasa ingin ikut ambil bagian sebagai pendamping Susanti dalam penyerangan nanti.
Padahal ia memanfaatkan perempuan itu untuk berlindung dari bahaya yang dapat menyerangnya sewaktu-waktu.
Ketika orang Perguruan Elang Bumi bergegas menuju ke Pesisir Kulon yang memakan waktu sehari semalam, ternyata Badrol sudah lebih dulu sampai di istana Pesisir Kulon.
Dengan berlagak menyamar sebagai seorang pemuda desa yang sedang mencari tabib untuk mengobati kakeknya yang sakit, Badrol sempat dicurigai oleh penjaga perbatasan wilayahPesisir Kulon.
Ia ditangkap dipantai, lalu diserahkan kepada Ratu Cikgu Besar. Sang Ratu mulai tergoda oleh senyum si Badrol yang memang mempunyai daya tarik tersendiri itu.
Kepolosannya dalam bersikap dan berbicara membuat sang Ratu merasa mendapat keberuntungan sendiri dalam hatinya.
"Ia tampak masih polos dan lugu. Aku sangat bergairah dengan anak kemarin sore. Gairahku akan meluap-luap jika berhadapan dengan bocah polos yang belum mengenal cumbuan. Pasti dia akan menurut jika kusuruh begini-begitu. Ooh... indah sekali. Semangatnya pun pasti masih menggebu-gebu sehingga dalam waktu singkat ia dapat kuajak mengulangi keindahan itu. Hik, hik, hik...!"
__ADS_1
Di depan Badrol yang polos tanpa senjata itu, Ratu Cikgu Besar berkata dengan tegas.
"Aku adalah seorang tabib juga bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Mengapa kau harus mencarinya ke mana mana?"
"Oh, kalau begitu, sangat kebetulan sekali aku tertangkap di pantai tadi. Ternyata justru aku bertemu dengan seorang tabib sakti. Oh, Nyai Ratu... maukah kau menyembuhkan kakekku sekarang juga?"
"Kakekmu akan sembuh, tapi terlebih dulu kau harus menjelaskan jenis penyakit yang dideritanya."
"Baik, akan kujelaskan...."
"Tunggu! Jangan di sini, tapi di kamar. Aku ingin mendengarnya sambil beristirahat!" Kemudian sang Ratu membawa Badrol ke kamarnya.
Pemuda itu sudah tahu maksud sang Ratu, namun harus masih tetap berlagak bodoh.
Setelah sampai di kamar, sang Ratu pun
"Jangan-jangan kau kemari membawa penyakit dari kakekmu? Agaknya penyakit kakekmu itu sangat menular."
"Oh, tap... tapi aku tidak merasa sakit apa-apa, Nyai Ratu."
"Kau harus kuperiksa dulu untuk meyakinkan bahwa kau tidak tercemar oleh penyakit tersebut."
"Baik. Aku bersedia."
"Lepaskan semua pakaianmu."
"Hahh...?!" Badrol berlagak kaget.
__ADS_1
"Lepaskan dan berbaringlah di ranjang itu, aku akan memeriksamu lebih teliti lagi!" Badrol gemetar saat melepaskan semua yang dipakainya.
Kali ini ia benar-benar gemetar, bukan berpura-pura, sebab mata sang Ratu memandangnya penuh goda.
Wajah cantik dan dada montok itu seakan melambai-lambai di depan mata Badrol.
"Berbaringlah," ujar sang Ratu dengan lembut sambil mengusap punggung anak muda itu.
Badrol pun menurut. la berbaring dengan kedua kaki dirapatkan kedua tangan menggenggam sesuatu yang telah diperbesar oleh gurunya itu.
"Rentangkan ke samping kedua tanganmu, Badrol!" perintah sang Ratu dengan lembut pula.
Badrol pun terpaksa merentangkan tangannya kesamping.
"Oooh...?!" sang Ratu terperangah kagum dan matanya mendelik memandangi sesuatu yang ternyata telah berdiri tegak penuh tantangan itu.
"Kau memiliki 'pusaka' yang sungguh dahsyat, Badrol...," ucap sang Ratu dengan nada mendesah.
Sang Ratu memekik panjang ketika ia sengaja menikamkan diri hingga 'pusaka' itu terbenam habis. Kemudian bergulat dengan pinggulnya dan mulai menggeliat dalam putaran semu,
pelan, tapi mantap baginya.
Badrol sibuk dibuai oleh keindahan, hingga lupa akan tugasnya, lupa dengan jarum 'Kretek' itu. Akibatnya, semalam suntuk ia meluncur di samudera kenikmatan bersama sang Ratu.
Apa yang diinginkan sang Ratu selalu dilayaninya, karena ternyata melayani kemesraan seperti itu sangat indah dan menyenangkan baginya. Bahkan ia sempat berpikir
"Alangkah sayangnya jika perempuan cantik seperti ini harus dibunuh?"
__ADS_1