
Gerbang benteng telah jebol. Beberapa pengawal Ratu Cikgu Besar tergeletak tanpa nyawa dalam keadaan menyedihkan.
Jumlah orang Perguruan Elang Bumi cukup banyak. Sang Ratu sendiri sempat terkejut melihat jumlah sebanyak itu.
Rupanya pihak Perguruan Elang Bumi bukan sendirian, meiainkan dibantu oleh Perguruan Cakar Ayam yang selama ini sering bekerja sama dalam menyelesaikan beberapa masalah.
Perguruan Cakar Ayam diketuai oleh Pendeta Saleh, sahabat sang Resi Sapy sejak masa muda mereka. Kekuatan kedua perguruan itu telah membuat pihak Ratu Cikgu Besar menjadi morat-marit, bangunan-bangunan banyak yang rusak, bahkan sebagian ada yang runtuh total.
Suara pertarungan bergemuruh, antara denting pedang dan jerit kematian menyatu saling silih berganti. Tak ketinggalan, si
Susanti pun ikut menyerang pihak Ratu Cikgu Besar, terutama kepada para pengikut sang Ratu yang dulu merasa sirik padanya dan bermusuhan batin dengannya.
"Hancurkan mereka! Hancurkan semuanyaaaa...!" teriak Ismail memberi semangat kepada teman-temannya.
Demikian pula Ehsan yang punya ilmu pas pasan, Ikut berseru, berkoar-koar sampai suaranya serak, tanpa menyadari bahwa seruannya yang pecah itu tak dimengerti oleh rekan-rekannya.
la tetap berlindung di balik Ismail atau si Susanti. Tetapi ketika Ratu Cikgu Besar muncul di pertarungan itu, dalam beberapa kejap saja pihak lawannya telah dibuat tunggang langgang dan banyak korban yang
berjatuhan.
Sang Ratu menjadi murka, setiap jari tangannya memercikkan cahaya biru yang tiada hentinya bagai lompatan petir dari jari yang satu ke jari yang lain.
Jika tangan kanannya berada di ketiak kiri, lalu tangan itu mengibas ke depan, maka percikan cahaya biru petir itu menyebar seketika dan menghantam tubuh lawan-lawannya.
Craaalaap...!
Blegaaarrr...!
__ADS_1
Entah berapa banyak tubuh manusia yang hancur oleh serangan maut Ratu itu, sehingga tempat tersebut dalam waktu singkat telah berubah menjadi genangan darah dan kubangan mayat.
"Majulah kalian! Majulah lagi kalau ingin hancur semuanya!" teriak sang Ratu dengan murkanya.
Sambil berteriak, ia pun melepaskan jurus-jurus mautnya, menghamburkan cahaya kilat ke mana-mana. Bahkan kedua matanya pun dapat keluarkan sinar merah yang melesat ke beberapa arah dan menghantam mereka yang berusaha menyerangnya.
Biaar, blaar, jegaar, blaaar,
buuumm...!
Dalam keadaan seperti itu, Susanti berusaha melepaskan pukulan jarak jauhnya, tapi selalu dapat dipatahkan oleh sinar merah atau kilatan cahaya petir dari kesepuluh jari tangan sang Ratu.
"Kita menjauh! Dia sudah semakin ganas, berbahaya kalau tetap menyerangnya!" ujar Susanti kepada Ismail.
Maka, mereka pun segera menjauhi medan pertarungan besar itu. Ehsan sempat kebingungan ketika Ismail dan Susanti pergi. Ia ketakutan sendiri sewaktu dua berkas sinar merah lewat di depan hidungnya dan menghancurkan dua orang dari pihak Perguruan Cakar Ayam.
Jegaaarr...
Celananya pun menjadi basah tanpa disadari. Bau tak sedap menyebar dari celana basah itu, sehingga tak ada seorang pun yang mau
menyingkirkannya dari tengah pertarungan itu.
Wuuuut...!
Des...!
Sebuah tendangan kaki telah mengenai punggung Ehsan tanpa disengaja. Tendangan itu datang dari Meimei yang mencoba menyerang orang Perguruan Elang Bumi.
__ADS_1
Akibatnya, tubuh Ehsan terlempar dalam keadaan melayang dan berteriak ketakutan.
"Aaaa...! Tolooooong...!"
Brrusk...!
Ia jatuh di rerumputan lebat, di mana Ismail dan Susanti bersembunyi di baliknya.
"Kalian Jingan! ******* tulen! Kalian meninggalkan diriku di sana! Dasar mata kalian buta semua!" Ehsan memaki-maki Ismail dan Susanti.
Plaaak...!
Tangan Susanti menampar mulut Ehsan, akibatnya makian nya pun hilang, berganti suara merintih kesakitan.
Susanti dan Ismail tak pedulikan rintihan Ehsan, karena perhatian mereka berdua segera tertarik pada kemunculan bayangan hitam yang berhasil menerjang tubuh Ratu Cikgu Besar.
Breeess...!
Terjangan tersebut membuat penguasa Pesisir Kulon terlempar dan jatuh berguling-guling.
Seorang perempuan berjubah hitam berdiri dengan ketuaannya yang tanggung. Perempuan itu tak lain adalah Nyai Pelet yang telah melihat sinar merah melesat ke langit.
Ia menyangka sinar itu adalah isyarat dari Badrol, padahal sinar itu adalah tenaga dalam orang Perguruan Cakar Ayam yang tertangkis pedang si Walet Perak.
"Hentikan! Hentikan tindakan sia-sia Ini! Biar aku yang mencabut nyawa perempuan mesum itu!" teriak Nyai Pelet, membuat mereka segera hentikan pertarungan.
"Guru! Oh, syukurlah kau segera datang, Guru!" ujar Badrol segera hampiri Nyai Pelet.
__ADS_1
Tindakan itu membuat Ratu Cikgu Besar menjadi tahu, bahwa perempuan itu adalah Penguasa Tebing Naga.
"Badrol, bagaimana tugasmu? Sudah beres?!"