PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 9


__ADS_3

Esoknya, seorang mata-mata membawa kabar baik bagi Ratu Cikgu Besar. Kabar baik itu tak bisa disampaikan langsung oleh sang mata-mata, melainkan harus melalui pengawal setia sang Ratu yang dikenal


dengan nama Susanti.


Nama itu cukup dikenal bukan saja di wilayah Pesisir Kulon, namun juga di antara para tokoh dunia persilatan, nama Susanti bagaikan hantu cantik yang menakutkan namun juga sering jadi buah khayalan para lelaki.


Karena, Susanti walau masih berusia sekitar dua puluh tiga tahun, tapi mempunyai ketangguhan dan kematangan berpikir seperti perempuan yang sudah berusia tiga puluh tahun.


Gadis itu bersosok tinggi sekali, bahkan berbadan kekar. Rambutnya yang cepak seperti potongan lelaki itu membuat wajah cantiknya selalu tampak jelas dan nyata, baik dipandang secara terang-terangan ataupun secara sembunyi dari lubang bilik.


Ia seorang gadis yang tegas dan penuh keberanian. Pancaran matanya selalu tajam dan menantang, bahkan cenderung berkesan ganas.


Kecantikan yang berkesan ganas itu mempunyai hidung mancung dan bibir sensual menggairahkan. Dan yang lebih menggairahkan lagi bagi pandangan kaum lelaki adalah bulu-bulu lebat yang tumbuh di lengannya.


Gadis yang tak suka mengenakan baju dan celana panjang kecuali hanya kutang kuning kecil berantai dan celana kuning kecil berantai juga, memang tergolong seorang gadis yang kebanyakan hormon, istilah sekarang.


Tubuhnya yang berkulit coklat halus tanpa bekas luka itu banyak ditumbuhi bulu lembut yang samar-samar dari bagian pahanya sampai betis, dari pahanya sampai ke pusar, juga dari pergelangan tangan sampai ke batas pundak.


Selain itu tengkuk dan punggungnya yang kekar itu juga penuh bulu halus yang sering membuat seorang lelaki berkhayal ingin merabanya secara pelan-pelan.


"Apa maksudmu menemuiku di depan kamar sepagi ini, Susanti?!" tanya Ratu Cikgu Besar begitu melihat Susanti sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada kabar baik bagi kita, Nyai Ratu!" jawab Susanti yang suaranya agak besar dan sedikit serak karena sering berteriak itu.


"Aku tak peduli apa apa kecuali tentang acara malam persembahan! Ingat, Susanti...!" sang Ratu berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Tiga malam lagi tepat malam bulan purnama. Kita tak boleh gagal!"


"Saya tahu. Nyai Ratu!" sambil kedua tangan Susanti menggenggam pedang di dada sebagai tanda memberi hormat kepada ratunya.


"Apakah mereka yang ditugaskan mencari korban dari pulau seberang dan pulau-pulau lainnya sudah mendapat hasil?"


"Belum, Nyai Ratu. Namun, mata-mata kita, Devi, baru saja tiba dan membawa kabar baik tentang adanya korban tersebut, Nyai Ratu."


"Bagus! Apa kata Devi?"


Susanti sedikit mendekat karena ia berkata pelan.


"Tadi malam seorang perempuan telah melahirkan bayi kembar, Nyai!"


"Hmmmm...! Bagus sekali. Di mana bayi kembar itu berada?"


"Bayi kembar itu anak siapa?"


"Syahrini...," Susanti makin pelan, membuat sang Ratu berkerut dahi.


"Syahrini istrinya Abdul Salam?!"


"Betul, Nyai!"


Sang Ratu pun terkesiap sesaat, lalu merenung beberapa helaan napas. Dalam hatinya terjadi pergolakan yang membuatnya bimbang dan penuh perhitungan.

__ADS_1


Tapi Susanti segera berkata dalam nada pelan.


"Kesempatan emas ini sangat disayangkan jika kita lewatkan, Nyai!"


"Memang benar, tapi... tapi bagaimana mengatasi Abdul? la akan tahu siapa pelakunya jika anak itu kita culik dan kita jadikan korban persembahan pada malam


purnama nanti."


"Dapatkah Nyai Ratu membawanya pergi


selama dua hari? Barangkali Nyai perlu berlibur ke Pulau Bali bersama Abdul Salam.


Bukankah Nyai sendiri pernah bilang bahwa Pulau Bali sangat cocok untuk berbulan madu? Mengapa Nyai tidak ke sana, berbulan madu bersama Abdul Salam? Sementara itu, saya akan berusaha menculik bayi kembar itu tanpa sepengetahuannya."


"Hmmm...," Ratu Cumbu Laras manggut-manggut dan menggumam kecil. Setelah berpikir sekali lagi, akhirnya sang Ratu memberi keputusan yang sangat tegas dan sangat kejam.


"Habisi mereka, jangan ada yang hidup! Gunakan topeng agar tak ada yang mengenali wajah kalian!"


"Baik, Nyai! Akan saya kerjakan tugas itu!"


"Kerahkan anak buahmu untuk mempercepat pekerjaan! Lakukan setelah aku dan dia pergi ke Pulau Bali!"


Susanti segera acungkan kedua tangannya yang saling menggenggam pedang di depan dada sebagai tanda kepatuhannya. Ia segera kerahkan anak buahnya dan membagikan kedok penutup wajah kepada mereka.


Topeng hitam itu menutupi seluruh wajah pemakainya, hingga yang terlihat hanya bagian mata dan mulut saja.

__ADS_1


"Bayi kembar...? Oh, alangkah beruntungnya nasibku di bulan ini!" ujar sang Ratu dengan girangnya.


"Korban bayi kembar adalah korban emas yang membuatku punya kesempatan untuk ajukan dua permintaan baru kepada junjunganku : Dewa Jarjit Singh!"


__ADS_2