PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 20


__ADS_3

"Bagus! Sekarang, akan kumasukkan jarum beracun ganas ini ke kulit pahamu. Buka celana!"


"Hmmm, eeeh, anu... celana dibuka semua, Guru?"


"Jangan membantah! Buka celanamu!" Badrol yang tampan tapi rada konyol itu sempat membatin


"Wah, jangan-jangan mau diperkosa?"


Plaaak...!


Tiba-tiba ia mendapat tamparan dari gurunya yang cukup keras.


"Jangan berpikiran yang bukan-bukan, Tulul!" bentak sang guru. Rupanya Nyai Pelet dapat mendengar ucapan batin seseorang, sehingga ia mengetahui apa yang diucapkan dalam batin muridnya yang tampan itu.


Badrol segera melepaskan celananya sampai sebatas lutut. Nyai Pelet meraba samping paha kanan sang murid untuk mencari kulit yang lunak dan bisa untuk menyimpan jarum beracun itu.


Jika jarum itu tidak mengenai darah, maka racunnya tak dapat bekerja dan tidak membahayakan orang tersebut. Maka jarum harus dalam keadaan tertutup antara kulit ari dengan kulit sebenarnya.


Namun karena wajah sang guru masih punya sisa kecantikan, ditambah lagi badan sang guru yang juga masih tampak agak kencang, putih mulus, berpinggul ketat, gumpalan dadanya tampak rada montok, masih seperti perempuan separuh baya yang sedang hangat-hangatnya karena memang ia pandai merawat diri, mau tak mau rabaan pada paha Badrol itu menimbulkan 'greeeng...' sendiri bagi si murid konyol itu.


Sang guru tahu, ada sesuatu yang menggeliat dalam diri sang murid, tapi ia cuek saja. Ia tetap mencari kulit ari di paha kanan sang murid, sampai akhirnya ditemukannya tempat itu.


Lalu jarum 'Kretek' yang mirip merek tembakau itu disusupkan pelan-pelan ke kulit ari paha sang murid.


Bleeesss....


"Sakit?"

__ADS_1


"Tid... tid... tidak, Guru," jawab Badrol dengan menggeragap karena gemetar.


Bukan gemetar karena masuknya jarum, tapi gemetar karena diraba pahanya. Maklum, usianya masih muda, masih mudah 'greng' jika disentuh tangan perempuan.


Jarum itu tersisa bagian pangkalnya yang mempunyai bulatan warna coklat, mirip


kulit paha itu sendiri. Bulatan coklat kecil itu berguna untuk memudahkan si Badrol mencabutnya pada saat jarum itu dibutuhkan.


Selesai menyusupkan jarum itu, Nyai Pelet mengusap paha dengan mantra khusus, agar tidak mudah diketahui lawan si Badrol nantinya.


Pada saat tangan mengusap paha tersebut, Karta Lawa semakin 'greeeeng' dan bahkan seperti menantang dengan gagahnya.


Sang guru melirik bagian yang menantang itu, lalu tersenyum tipis, membuat Karta Lawa menjadi tersipu-sipu.


"Kau belum pernah tidur dengan perempuan, bukan?!"


"Bel... belum, Guru! Hmmm... maaf, saya tutup dulu, Guru!"


Mata sang guru memandang ke arah sesuatu yang menantang itu.


"Bagi seorang perempuan yang doyan kemesraan lelaki, seperti si Cikgu Besar,


kau dianggap mempunyai kekuatan yang kecil dan tidak membakar gairahnya."


"Maaaks... maksudnya, apa yang keciltadi, Guru?"


"Ini...!" sang guru menuding sesuatu yang menantang dengan tegak itu.

__ADS_1


"Buat si Cikgu Besar, ini termasuk kecil. Perlu diperbesar supaya menarik perhatian."


"Tap... tapi bagaimana cara membesarkannya, Guru! Dari dulu dia sudah kuasuh dan kurawat baik-baik tapi tidak mau lekas besar."


"Taruh kedua tanganmu ke belakang, akan kuperbesar dia!" Badrol akhirnya menurut apa perintah sang guru.


Kedua tangan dikebelakangkan. Sang guru segera menudingkan ujung telunjuknya ke ujung 'pusaka' si anak muda itu. Kejap kemudian, Badrol merasakan ada hawa panas yang masuk ke dalam 'pusaka'nya itu.


Caas...!


"Aaow...!" ia menarik mundur secara refleks.


Sang guru hempaskan napas. Rupanya ia sudah selesai memperbesar 'pusaka' milik Badrol itu.


Ternyata rasa panas pun cepat hilang, Badrol pandangi 'pusaka'-nya sendiri.


"Hahhh...?!" ia mendelik kaget melihat ukuran 'pusaka'-nya yang menurutnya telah menjadi dua kali lipat dari ukuran semula.


"Berangkatlah dan temui si Cikgu Besar itu! Aku akan membayang-bayangimu dalam jarak tertentu. Lepaskan sinar merah pijar ke atas langit, maka aku akan tahu bahwa jarum itu telah kau tusukkan dalam tubuh si Cikgu Besar. Aku akan segera datang menyerangnya!"


"Baa... baik... baik, Guru!" sambil Badrol mengenakan celananya lagi.


"Wah, kok jadi sesak begini? Gawat?!" ujarnya dalam hati, sang guru hanya tersenyum, lalu membiarkan muridnya pergi tunaikan tugas.


Pada saat itu, ternyata ada pihak lain yang merencanakan menyerang Pesisir Kulon dengan sasaran kematian sang Ratu Cikgu Besar.


Pihak lain itu adalah Perguruan Elang Bumi yang mendapat keterangan dari Ismail tentang pembantaian massal itu.

__ADS_1


Tentu saja Perguruan Elang Bumi berada di pihak Abdul Salam, sekalipun si Abdul Salam


masih belum ditemukan.


__ADS_2