
"Beres, Guru!" kata Badrol sambil menyeringai menahan luka bekas cambukan.
la dalam keadaan mengenakan pakaian, tapi mata sang Guru sempat melihat merah merah di dada Badrol.
"Kau terluka, Muridku?!" sang Guru segera menarik lengan Badrol.
Dan pada saat itulah, Badrol punya kesempatan menancapkan jarum 'Kretek' ke
punggung sang Guru.
Jruuus.,.!!
"Aaakh...!" Nyai Pelet mengejang seketika, matanya pun menjadi liar, wajahnya pucat seketika.
Badrol segera berlari menghindari jangkauan tangan sang Guru.
"Jahanam...!" geram Nyai Pelet.
"Kaau... kau mengkhianatiku, Droool...!"
Dua belas kekuatan Nyai Pelet lenyap seketika setelah jarum itu terbenam dalam tubuhnya.
Ratu Cikgu Besar tak mau membuang waktu. Ia segera lepaskan sinar merah dari matanya.
Claaap...!
Sinar itu menghantam ulu hati Nyai Pelet.
Jruuubs...!
Buuii...!
Api menyala pada ulu hati Nyai Pelet. Seolah-olah ulu hati itu adalah tempat pembakaran kemenyan yang bisamengeluarkan api setelah disiram minyak lampu.
Tetapi perempuan berjubah hitam Itu masih mencoba untuk bertahan. la berjalan limbung dekati sang Ratu sambil menudingkan tongkatnya.
Namun tongkat itu tak bisa keluarkan sinar penggempur lawan.
__ADS_1
"Ter... terkutuk kaau... Cikgu Besar...! Ingat... kaaau... kau akan mati di tangan pemuda kembar yyyyang... yaaang... menja... menjadi musuh utamamu. Kkkau... kau akan mati sepertiku iniiii"
Glegaaarrr...!
Petir menyambar salah satu pohon di luar benteng, begitu Nyai Pelet selesai lepaskan kutukannya. Setelah itu,
brruk...!
Nyai Pelet pun tumbang dan tak bernyawa lagi. Lalu sekujur tubuhnya terbungkus api yang sukar dipadamkan.
"Persetan dengan kutukanmu!" bentak Ratu Cikgu Besar.
"Siapa lagi yang akan menyusulnya?!" Ia memandang kepada sisa lawannya yang tinggal beberapa gelintir itu.
Mereka diam semua. Termasuk anak buah sang Ratu pun ikut diam.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dari bayangan yang berkelebat melintas di atas mayat Nyai Pelet.
"Aku yang akan melawanmu, Nurul...!"
Ratu Cikgu Besar terkejut sekali mendengar nama aslinya disebutkan. la segera menatap tajam pada sosok lelaki tua berjubah putih.
"Sudah waktunya kau hentikan kekejamanmu, Nurul!"
"Persetan dengan ucapanmu! Belum rela diriku mati sebelum kulihat kau menjadi bangkai, Atok Dalang! Hiaaat...!"
Weeers...!
Sinar-sinar biru yang berlompatan dari jari ke jari itu menyebar dan segera menghantam si Atok Dalang.
Dalam satu lompatan mundur, Atok Dalang segera sentakkan kedua tangannya ke depan dan melesatlah dua sinar merah menerjang sinar-sinar biru itu.
Blegaaarrr...!
"Hiaaaah...!" Ratu Cikgu Besar melesat setelah ledakan besar itu tak berhasil membuatnya tumbang.
Pada saat itu Atok Dalang sedang terkapar oleh gelombang ledakan yang menyentak kuat itu. Baru saja ia akan bangkit. tiba-tiba empat sinar biru sudah keluar dari empat jari tangan Ratu Cikgu Besar.
__ADS_1
Craaapp...!
Jegaaar...!
Keempat sinar itu mengenai dada Atok Dalang dengan telak. Kontan dada itu pecah menjadi dua bagian dan hangus mengepulkan asap.
Atok Dalang tak sempat bangkit, lalu tergeletak tanpa nyawa.
"Mampos kau sekarang, Atok Dalang! Sakit hatiku mulai terpuaskan oleh kematianmu! Hiaaah...!"
Jegaar, jegaar, jegaaar...!
Ratu Cikgu Besar melepaskan pukulan bersinar biru secara bertubi-tubi, sehingga raga Atok Dalang pun hancur tak berbentuk lagi. Serpihan dagingnya menyebar kemana-mana, tinggal bagian kepala dan kaki kanannya yang masih tampak utuh.
Ratu Cikgu Besar menggeram sambil hembuskan napas lega. Namun sebelum ia mengucapkan kepuasan batinnya itu, tiba-
tiba dua berkas sinar merah yang menyerupai bola api itu melesat dari arah timur dan selatan.
Wuuus...!
Glegaarr, glegaaar...!
Dua sinar besar itu hancurkan istana megah tersebut. Dalam waktu sekejap saja, istana itu runtuh dan sisa pengikut sang Ratu yang bersembunyi di sana terpaksa tewas tertindih reruntuhan istana.
Ratu Cikgu Besar sangat terkejut dan menjadi semakin murka. Namun sebelum ia melepaskan serangan balik, tiba-tiba
meluncurlah sinar-sinar hijau dan kuning dari arah selatan dan timur.
Clap, clap, clap, clap...!
Blaar, blaar, blaar...!
Sinar-sinar itu menghujani Ratu Cikgu Besar. Ia kebingungan menangkis dan menghindarinya. Namun ia sempat melihat sinar-sinar yang menghujaninya terus menerus itu datang dari dua sosok lelaki
tua berjenggot putih, yang satu mengenakan jubah kuning, yang satunya lagi berjubah hijau muda.
Mereka herdua ada di atas pohon, berdiri di atas ranting dan dedaunan tanpa membuat ranting itu patah dan daun itu gugur.
__ADS_1
Mereka adalah Resi Sapy dan Pendeta Saleh, ketua dan guru besar dua perguruan yang lakukan penyerangan gabungan itu.