
Wajah perempuan itu memang tampak berseri-seri dihinggapi kegembiraan yang amat besar. Jika biasanya dalam malam bulan purnama ia hanya dapat mengorbankan seorang bayi untuk menjaga keutuhan kesaktiannya, tapi kali ini ia akan dapat mengorbankan sepasang bayi kembar.
Dengan mengorbankan bayi kembar, maka ia akan mempunyai kesempatan untuk mengajukan dua permintaan baru sekaligus menjaga keutuhan kesaktiannya.
"Permintaan apa saja yang akan kuajukan nanti, ya?" pikirnya sambil memandangi bayangannya di dalam cermin rias.
"Hmmm... agaknya aku masih harus mempunyai satu lagi ilmu kesaktian yang harus dapat mengalahkan jurus andalannya
si Atok Dalang itu. Tanpa satu kesaktian untuk menandingi jurusnya si Atok Dalang, sampai kapan pun aku tak akan bisa mengalahkannya. Hmmm... kurasa itulah salah satu permintaanku nanti. Lalu, permintaan kedua...?" Ratu Cikgu Besar berpikir lagi.
Namun belum sempat temukan jawabannya,
Abdul Salam sudah muncul di kamar itu. la baru saja selesai mandi, tubuhnya menjadi segar dan tampak bersih. Ketampanannya semakin terlihat jelas.
Abdul Salam hanya mengenakan kain tebal pembungkus perut ke bawah, sementara bagian atasnya masih bertelanjang dada, sehingga melalui pantulan cermin rias, dada itu tampak kekar menantang, seakan siap untuk digigit atau dicubit dalam kemesraan yang hangat.
"Ceria sekali wajahmu hari ini, Nyai Ratu."
"O, ya... tentu saja aku ceria, karena semalam kau memberiku keindahan yang istimewa," ujar sang Ratu menutupi kebahagiaan aslinya.
la memutar tubuh dalam keadaan tetap duduk di bangku rias. Jubah merah mudanya sudah dikenakan, tapi yang lainnya belum dikenakan.
Padahal jubah itu dalam keadaan tak dikancingkan, sehingga menyingkap lebar-lebar dan menampakkan gumpalan besar yang kencang tapi lembut dan kenyal di bagian dadanya itu.
__ADS_1
"Aku terkesan sekali dengan keistimewaanmu semalam. Tak biasanya kau sebuas itu, Abdul. Aku sangat menyukainya."
"O, ya...?!" Abdul Salam tersenyum bangga.
"Akan kuberikan lagi. Tapi sekarang aku harus pulang dulu, Nyai!"
"Mengapa tergesa-gesa pulang, Sayang?" rayu sang Ratu sambil meraih tangannya.
"Sudah dua malam aku tak di rumah. Aku tak enak kalau sampai ditegur oleh ayahku sendiri, Nyai."
"Ayahmu tak akan menegur, karena ia tahu siapa perempuan yang bersamamu selama
dua malam ini?" sambil berkata begitu, sang Ratu menarik tangan Abdul Salam dan ditempelkan di dadanya. Abdul Salam tahu maksud Ratu Cikgu Besar. Maka dada perempuan itu pun menjadi ajang kerajinan tangan Abdul Salam.
Itulah sebabnya Abdul Salam sulit menolak tantangan bercumbu dari sang Ratu.
Mereka pun akhirnya berlayar menuju ke Pulau Bali. Di sana Abdul Salam diperlakukan sebagai budak nafsu bagi sang Ratu. Tetapi laki-laki itu tak sadar akan perlakuan tersebut. la menuruti saja apa perintah sang Ratu dalam cumbuan mereka.
Bahkan Abdul Salam selalu merasa bangga jika dapat menerbangkan Ratu Cikgu Besar
ke puncak-puncak keindahannya.
Ia tak tahu bahwa pada malam berikutnya, Pademangan diserang oleh orang-orang bertopeng. Rumah Ki Demang menjadi ajang pertumpahan darah.
__ADS_1
Ki Demang sendiri terkapar bersimbah darah karena pedang manusia bertopeng itu menyabet lehernya dari samping.
Susanti yang menjadi ketua rombongan manusia bertopeng itu menjadi kebingungan karena bayi kembar itu tak ada di rumah Ki Demang.
Semua penghuni rumah besar itu telah dibantai habis, tapi bayi kembar itu tak ditemukan oleh Susanti.
"Geledah semua rumah penduduk!" perintah Susanti kepada anak buahnya.
Tetapi bayi itu tetap tak berhasil ditemukan.
"Gila! Ke mana bayi kembar itu?!" geram Susanti. Ia segera mencari Devi dan mengacungkan pedangnya ke leher Devi yang terdesak di salah satu sudut bangunan rumah papan.
"Kau telah menyebarkan berita bohong tentang bayi kembar itu, Devi!"
"Tid... tidak! Aku berani bersumpah, Syahrini memang melahirkan bayi kembar. Bayi itu lelaki semua! Syahrini memang tewas setelah persalinan, tapi bayi kembarnya tidak ikut tewas!"
"Nyatanya bayi itu tidak ada!" bentak Susanti.
"It... Itu... itu di luar tanggung jawabku!" ujar Devi membela diri.
"Mungkin ada pihak lain yang telah menculik bayi itu. Mungkin pihak lain itu juga membutuhkan tumbal bayi kembar atau... ah, yang jelas tak mungkin bayi kembar itu lari sendiri atau bersembunyi disuatu tempat tanpa ada yang membawanya!"
"Jahanam orang yang mengacaukan rencana kita ini!" geram Susanti di balik topengnya.
__ADS_1
Pedang pun diturunkan, karena menurut penilaiannya, Devi memang tidak berdusta. Susanti hanya merasa panik dan takut misinya gagal.