PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 13


__ADS_3

Karenanya, bayi yang lahir kedua itulah yang dianggap si sulung oleh Cikgu Melati. Atas kesepakatan dengan suaminya, bayi itu diberi nama Aruffin dipanggil Upin. Sedangkan bayi yang lahir pertama dan dianggap sebagai sang adik itu diberi nama Ariffin dipanggil Ipin.


"Bagaimana kau bisa yakin kalau Upin adalah sang kakak?" tanya Atok Dalang.


"Bobotnya sedikit lebih berat dari bayi yang pertama lahir," jawab Cikgu Melati.


Jika bukan bertindak sebagai dukun bayi, Cikgu Melati tak mungkin bisa mengenali mana bayi yang lahir pertama dan kedua, sebab kedua bayi itu mempunyai wajah yang serupa dan sulit dibedakan.


Selagi Atok Dalang ingin ucapkan kata kepada istrinya sambil kedua tangannya menimang Upin, tiba-tiba angin kencang datang bersama kabut putih yang merayap sebatas mata kaki.


Cikgu Melati bergegas ingin menutup pintu rumah gubuknya itu, tetapi suaminya melarang.


"Biarkan beliau masuk." Mendengar kata-kata suaminya, maka Cikgu Melati pun segera mengerti apa maksud ucapan tersebut. ia tak jadi menutup pintu.


Lalu, beberapa saat kemudian mereka sama-sama mendengar suara tanpa rupa.


"Atok Dalang dan Cikgu Melati...," sapa sebuah suara yang sudah dikenali oleh mereka.


Suara itu adalah suara roh si Dewa Kencan atau Eyang Rembo yang makamnya ada di samping pondok mereka itu.


"Bersyukurlah kalian sekarang, karena kini kalian telah dikaruniai sepasang anak kembar yang akan mengisi hari-hari tua kalian nanti. Aku setuju dengan nama yang kalian berikan kepada mereka itu. Sepasang nama yang bagus, sesuai ketampanan bayi itu kelak jika sudah menjadi dewasa."

__ADS_1


"Terima kasih, Guru," jawab si Atok Dalang penuh hormat.


Suara bergema lirih itu hiiang sesaat, lalu terdengar kembali di sela-sela hembusan angin yang menderu.


Atok Dalang dan Cikgu Melati masih sama-sama menundukkan kepala, pandangi bayi yang ada dalam gendongan mereka masing-masing. Sang bayi pun sama-sama menggeliat walau memejamkan mata, namun itulah pertanda bahwa sang bayi dalam keadaan tidak tertidur.


"Atok Dalang, pergilah ke Pesisir Kulon dan temuilah si Cikgu Besar! Hentikan kekejamannya dengan siasat membalik pandangan matanya."


"Aku kurang paham maksudmu, Guru!"


"Ambil sebatang pohon pisang, jelmakan menjadi dirimu. Cikgu Besar masih punya


dendam kesumat padamu, karena kau pernah menolak cinta dan gairahnya semasa mudamu dulu. Dia tidak akan hentikan kekejamannya sebelum dapat kalahkan dirimu. Suruh si pohon pisang melayani tantangan Cikgu Besar, dan biarkan Cikgu Besar membunuhnya agar hatinya menjadi puas dan lega, maka dendamnya pun akan sirna. Setelah itu, ia akan hentikan kekejamannya. Jika dendamnya dibiarkan berlarut-larut, maka akan lebih banyak lagi kaum lelaki yang menjadi korbannya, seperti yang dialami oleh ayah dari bayi kembar itu!"


"Kuharap tanganmu tetap bersih tanpa darah seperti yang sudah kau lakukan selama ini."


"Baik, Guru!"


Hembusan angin lebih cepat lagi, nyaris menerbangkan pintu pondok tersebut. Namun secara tiba-tiba hembusan angin itu berhenti seketika.


Wuuut...!

__ADS_1


Lalu sepi dan hening. Kabut yang merayap di permukaan tanah setinggi mata kaki itu pun lenyap. Hanya udara dingin yang terasa menyapu tubuh mereka, membuat pintu pun segera ditutup oleh Atok Dalang. Karena ia tahu, saat itu roh Eyang Rembo telah pergi.


Atok Dalang adalah murid Eyang Rembo yang terakhir. Dan hanya tinggai si Atok Dalang yang masih hidup dari beberapa murid Eyang Rembo.


Sebelum tokoh sakti itu hembuskan napas terakhir, ia telah berpesan kepada Atok Dalang agar jauhi keramaian dunia persilatan.


Atok Dalang tidak diizinkan terjun ke rimba persilatan kembaii sebelum ada penerus yang akan menggantikannya kelak. Bahkan sang guru melarang Atok Dalang lakukan pertarungan atau pembunuhan kepada siapa pun, kecuali ia diserang di tempat pengasingannya.


Bersama sang istri, Atok Dalang mengasingkan diri ke puncak Gunung Merapi, sambil menjaga dan merawat makam sang


guru, itulah sebabnya, Atok Dalang tak berani ikut campur dalam peristiwa pembantaian tersebut, selain hanya menyelamatkan si kembar.


Tetapi agaknya sekarang roh sang guru sudah mengizinkan ia terjun kembali ke dunia persilatan dengan tugas mengakhiri kekejian si Ratu Cikgu Besar itu. Namun sekalipun demikian, Atok Dalang tetap tidak diizinkan melakukan pembunuhan langsung, melainkan harus menggunakan siasat lain seperti yang diwejangkan oleh sang guru tadi.


"Selama aku menjadi istrimu, kau belum


pernah menceritakan hubunganmu dengan si Cikgu Besar," ujar Cikgu Melati setengah memprotes sikap bungkamnya sang suami.


"Kusangka kau hanya mengenali Cikgu Besar sebagaimana kau mengenal tokoh silat wanita lainnya. Ternyata kau pernah ada hubungan pribadi dengan Cikgu Besar!"


"Masa lalu itu tak pernah kukenang lagi, dan aku pun tak ingin kau mengenangnya."

__ADS_1


"Setidaknya kau dapat ceritakan padaku sebagai bekal pengetahuanku," ujar sang istri mendesak secara halus.


__ADS_2