PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 3


__ADS_3

Syahrini tak berani mengeluh di depan Abdul Salam, karena rasa takutnya terhadap sang suami.


Tetapi beberapa tetangga mereka mempunyai penilaian sendiri tentang perkawinan putra Ki Demang itu. Penilaian tersebut sering dilontarkan secara kasak-kusuk dari mulut ke kuping, dari kuping ke dinding.


"Kasihan ya si Syahrini itu? Baru berumah tangga setahun kurang sudah sering ditinggal pergi suaminya."


“Mungkin karena Raden Abdul adalah orang yang dipercaya di perguruannya, sehingga ia terlalu sibuk mengurus perguruannya."


"Perguruan apa?!" ujar seorang istri tetangga sambil bersungut-sungut.


"Dia memang termasuk orang penting di Perguruan Tadika Mesra, tapi setiap ia pergi meninggaikan Syahrini bukan mengurus perguruannya, tapi mengurus 'burung'-nya sendiri."


"Ah, apa iya... Hi, hi, hi, hi...! Mbakyu ini kok ada-ada saja kalau ngomong lho!"


Maklum, kali ini yang berkasak kusuk adalah para istri, tak heran kalau nada kasak-kusuk mereka agak ngeres. Namun kasak-kusuk mereka segera buyar ketika seorang perempuan berusia empat puluh tahun datang dengan wajah tegang seperti


habis ditampar setan.


"Eh, eh.... Cikgu Jasmin ke mana, ya?!

__ADS_1


Kemana si dukun bayi itu?!"


"Ada apa mencari Cikgu Jasmin? Situ mau melahirkan lagi? Baru dua bulan yang lalu melahirkan kok sekarang mau melahirkan lagi?!"


"Bukan aku yang mau melahirkan! Itu lho... si Syahrini! Syahrini sudah meraung-raung, perutnya sakit. Pasti sudah mau melahirkan!"


"Aduh, kasihan! Cepat panggil Cikgu Jasmin!"


"Lha, iya... makanya aku tadi menanyakan Cikgu Jasmin! Kau pikir mau apa kalau bukan mau memanggilkan Cikgu Jasmin untuk si Syahrini?!" bentak orang itu.


Kebetulan, di ambang sore yang berkabut mendung itu, Cikgu Jasmin tidak berada di rumahnya. Beberapa orang sibuk mencari Cikgu Jasmin, tapi tidak satu pun yang menemukan si dukun bayi Itu.


Padahal waktu itu Syahrini sudah mengerang-erang, air ketuban sudah keluar dari rahimnya pertanda sang jabang bayi sebentar lagi akan keluar juga.


Repotnya, di seluruh Pademangan itu, ternyata hanya ada satu dukun bayi yang paten, yaitu Cikgu Jasmin.


Sebagai menantu keluarga bangsawan, Syahrini tidak diizinkan melahirkan tanpa bantuan seorang dukun bayi yang memang sudah diakui keahliannya oleh para warga.


Karena itu, tak ada orang lain yang berani menangani persalinan tersebut, kecuali hanya membantu mempersiapkan beberapa keperluannya.

__ADS_1


Angin sore berhembus agak kencang. Hembusan angin itu seolah-olah menerbangkan sesosok tubuh kurus berkebaya coklat tua dengan kain batiknya yang lusuh.


Seorang perempuan berambut abu-abu karena bercambur uban, kebetulan melewati tempat kerumunan para istri yang kebingungan mencari Cikgu Jasmin. Salah seorang dari mereka yang kebingungan sempat berseru dan menjadi pusat perhatian bagi yang lain.


"Eh, itu ada Cikgu Melati...! Minta tolong kepada Cikgu Melati saja!"


"Ah, Cikgu Melati kan juru kunci kuburan!"


"lya, tapi sebelum ia menjadi juru kunci kuburan, ia pernah menjadi juru kelahiran!"


"O, ya... benar! Aku ingat, dulu Cikgu Melati memang pernah menjadi dukun bayi!" timpal yang lain.


Cikgu Melati, si perempuan kurus berusia sekitar lima puluh tahun lebih itu mendengar namanya disebut-sebut, sehingga ia menghampiri para istri yang sedang kebingungan itu.


"Aku mencium bau darah bayi. Rupanya di sini ada yang mau melahirkan bayinya?"


"Betul, Cikgu! Itu lho... si Syahrini!"


"Syahrini...?! Apakah yang kalian maksud Syahrini menantunya Ki Demang Abang Ghani?!"

__ADS_1


"Betul, Cikgu! Betul sekali!" sambil orang Itu menepuk-nepuk punggung Cikgu Melati dengan keras karena girangnya.


__ADS_2