PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 15


__ADS_3

"Jika perlu, bunuh di tempat!" perintah sang Ratu dengan tegas.


Tak heran jika Susanti akhirnya harus berhadapan dengan teman sendiri yang mempunyai perawakah sama tinggi, kekar, sekal dan montok. Tetapi ilmunya masih di bawah ilmu Susanti.


Seorang sahabat yang ditugaskan mengejarnya itu adalah si Meimei. Meimei gesit dan lincah gerakannya jika melayang seperti seekor burung walet. Pakaiannya yang gemar mengenakan rompi dan celana putih perak itu membuatnya pantas terlihat seksi.


Gadis berpakaian seperti perak itu juga mempunyai kecantikan yang seimbang dengan si Susanti. Tetapi masing masing punya kelebihan dari sisi kecantikannya itu. Meimei berhidung bangir dan jika tersenyum giginya 'gingsul' satu. Gigi yang sedikit bertumpuk itulah yang membuat Meimei tampak semakin cantik jika menyunggingkan senyum atau tertawa. Namun jika ia sedang marah, wajah cantiknya itu dapat membuat lawan ketakutan. Karena ia mempunyai 'Aji Facial', yaitu berubah wajahnya menjadi seperti raksasa bertaring tajam jika sedang marah.


Meimei sengaja menghadang langkah Susanti ketika gadis yang hanya mengenakan kutang dan cawat itu berhasil menyeberangi sungai berair deras. Rupanya Meimei sudah melihat gerakan Susanti sejak tadi, dan ia menghadang di seberang sungai. Begitu si Susanti sampai di atas tanggul sungai, ia terpaksa hentikan langkahnya karena si Meimei sunggingkan senyum di depannya.


"Kau...!" geram Susanti yang langsung mengerti maksud penghadangan si Meimei yang ingin menangkap atau membunuhnya itu.


Susanti pun segera siap siaga untuk lakukan pertarungan dengan si Meimei. Meimei masih tetap kalem, wajahnya belum berubah menjadi seperti raksasa mengerikan. ia justru sunggingkan senyum tipis kepada si Susanti.


pandangan mata si Betina Rimba cukup tajam, seakan nilai persahabatannya selama ini telah hilang dan berganti sikap permusuhan. Dengan menenteng pedangnya yang masih bersarung di tangan kiri, Susanti melangkah menyamping sambil menjaga kewaspadaan. Sebab ia tahu, Meimei sering lepaskan pukulan jarak jauh secara mendadak.


"Cukup jauh juga pelarianmu, Susanti," ujar Meimei dengan santai.


"Tak perlu berbasa-basi lagi, Meimei. Aku tahu tugasmu adalah menangkap atau membunuhku! Lakukan saja sekarang juga!"


"Kita bersahabat, Susanti. Mengapa kau memaksaku bertindak seperti itu?"


"Sahabat adalah dulu, tapi sekarang sejak aku menjadi musuh Ratu Cikgu Besar, maka kau pun pasti ikut memusuhiku."


Senyum si Meimei semakin lebar. ia merapikan rompi nya yang tak pernah dikancingkan itu, sementara di batik rompi perak itu ia tidak mengenakan penutup dada selembar triplek pun. Polos dan sering mengintip nakal menggoda mata lelaki.


"Aku memang ditugaskan untuk menangkapmu atau membunuhmu. Tapi apakah tindakan itu patut dilakukan oleh seorang sahabat, Susanti?"


"Tentu kau akan melakukan dengan bujukan halus, Meimei!" tegas Susanti yang masih tak tergoda oleh kelembutan seperti itu.


"Rupanya kau sudah tak mau lagi kuajak


bersahabat, Susanti."


"Kau bukan mengajakku bersahabat, tapi mencari kelengahanku dan ingin memperdayaku! Sekarang tentukan saja siapa yang harus mati di antara kita!"

__ADS_1


"Baik kalau itu kemauanmu! Bersiaplah untuk menuruti keinginanmu sendiri, Susanti!"


Sreeet...!


Meimei mencabut pedangnya. Susanti pun segera mencabut pedang dari sarungnya. Sarung di tangan kiri dan pedang di tangan kanan.


Ketika Meimei melesat dengan cepat bagai seekor burung walet menyambar mangsanya, sarung pedang Susanti berkelebat ke atas menangkis tebasan pedang si Meimei.


Traaang...!


Buuugk...!


Susanti lupa bahwa dadanya dalam keadaan terbuka, sehingga kaki si Meimei dengan mudahnya menendang dada itu dengan gerakan cepat Susanti terhempas ke belakang dan nyaris jatuh jika punggungnya tak membentur pohon.


Ouuuh...!


Benturan itu cukup kuat, sehingga menggetarkan pohon tersebut dan beberapa daun pohon pun berguguran.


Weeers...!


Traang...!


Posisinya yang menjadi miring membuat kaki Susanti segera menendang ke samping.


Beeet...!


Ploook...!


Wajah si Meimei terkena tendangan dengan telak, bahkan perempuan itu sempat terpental dan jatuh dalam hempasan kuat.


Brruk...!


Susanti segera menyerang tanpa menunggu Meimei bangun. Pedangnya menebas ke arah kepala dan tubuh si Meimei beberapa kali.


Tebasan pedang itu dilakukan dengan cepat dan penuh nafsu untuk membunuh.

__ADS_1


Wut, wut, wut, wot..


Trang, trang, trang, trang...!


Meimei berhasil menangkis tebasan pedang cepatnya si Susanti. Kaki pun segera menyambar betis si Susanti.


Wuuut, plaaak...


Brrruk...!


Susanti jatuh terbanting akibat sambaran kaki Meimei. Tapi pada saat itu pedangnya sempat berkelebat menyabet dada si Meimei.


Craaas...!


"Aauh...!" Meimei memekik pendek.


Ternyata yang terkena sabetan pedang adalah lengan kirinya.


Sebelum Meimei semakin berang, Susanti sentakkan pinggulnya dan dalam waktu kurang dari sekejap ia sudah bangkit berdiri dengan pedang siap melesat kembali. Tapi pada saat itu, Meimei sudah berguling-guling cepat dan berdiri dengan satu kaki berlutut.


Jaraknya dari lawan sekitar delapan langkah. Ada cukup waktu bagi si Meimei untuk segera bangkit sambil menahan rasa sakit pada luka di lengan kirinya.


Saat itu, kemarahan si Meimei mulai bangkit akibat merasa dilukai lebih dulu. Wajahnya pun segera menyeringai dan kecantikannya pudar. Kulit wajahnya berubah menjadi merah kehitaman dan giginya keluarkan sepasang taring runcing. Mata si Meimei berubah merah dengan alis meninggi.


"Gggrrrh...!"


Suaranya pun menyeramkan, membuat Susanti menunda penyerangannya. Susanti tahu, dalam keadaan wajah sudah berubah, seseorang tak boleh menyerang Meimei dengan gegabah.


Karena serangan itu bisa diputar balik oleh kesaktian 'Aji Facial' nya dan membahayakan nyawa si penyerang sendiri. Karena itulah, Susanti segera bergerak ke samping pelan-pelan menunggu kesempatan baik untuk menghujamkan pedangnya ke perut si Meimei.


Mereka tak tahu bahwa saat itu di seberang sungai telah hadir sepasang mata yang menyelinap di antara semak ilalang dan memperhatikan pertarungan tersebut.


Sepasang mata milik seorang pemuda berusia sebaya dengan mereka, bertubuh tinggi, tegap dan berotot kekar dengan warna kulit sawo matang.


Pemuda itu berambut panjang sepundak agak bergelombang, mengenakanikat kepala kuning dan baju tangan lengan warna hijau tua, sama dengan warna celananya. Pemuda itu juga menyandang pedang di pinggangnya yang berikat kain hitam.

__ADS_1


Ia mempunyai ketampanan yang cukup mencengangkan kaum wanita, terutama dengan kumis tipis, cambang tipisnya yang membuat wajah itu semakin tampak jantan.


__ADS_2