PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 17


__ADS_3

"Mumpung bertemu sungai, kapan lagi mandinya?! Sudah beberapa hari aku tak mandi, baunya sampai membuat tanaman pada layu!"


Byuuur...!


Ehsan pun terjun ke sungai dan menikmati kesejukan airnya. ia menyelam beberapa kali dengan berkecipak seperti anak kecil kegirangan.


Susanti mulai bernapas dengan lancar. Matanya berkedip-kedip saat memandangi Ismail. Tangan Ismail segera dilepaskan, karena wajah pucat Susanti telah sirna. Wajah itu menjadi segar kembali, dan suara si perempuan terdengar sedikit parau.


"Apa maksudmu menolongku begini?!"


"Apakah tindakanku ini salah?"


"Salah!" jawab Susanti dengan tegas, lalu ia bangkit dan duduk berhadapan dengan Ismail.


Matanya tak berkedip memandangi Ismail yang punya senyum menawan itu.


"Lain kali biarkan kuselesaikan sendiri pertarunganku! Jangan mencampuri urusanku!"


"Kau nyaris celaka! Aku tak tega melihatmu terlempar begitu. Aku takut kau tewas!"


"Meimei tak akan mampu membuatku tewas. Justru aku yang akan membunuhnya!"


"Lawanmu cukup tangguh, dan...."


"Dia bukan orang yang tangguh! limunya masih di bawah ilmuku!"

__ADS_1


"Tapi kenapa kau terlempar beberapa kali?!" bantah Ismail.


"Aku hanya ingin menghajarnya. Tapi ternyata dia memang ingin membunuhku, maka niatku pun berubah untuk membunuhnya.


Sebelum niatku terlaksana, kau telah ikut campur. Aku benci dengan orang yang suka ikut campur urusan orang lain!"


"Maafkan aku jika kau tersinggung. Boleh kutahu namamu?" Ismail segera mengalihkan pembicaraan agar tak terjadi perdebatan yang dapat membawa suasana tak sehat.


"Mengapa kau tanyakan?"


"Aku ingin bersahabat denganmu," jawab Ismail terang-terangan.


Susanti sempat berpikir, "Tampan juga anak ini! Badannya kekar dan cambangnya bikin hatiku berdesir-desir sejak tadi. Hmmm... kurasa tak ada jeleknya jika ia kujadikan sahabatku. Setidaknya bisa membantuku untuk menghadapi orang-orangnya Ratu Cikgu Besar."


Sementara itu, di hati Ismail sendiri membatin kata yang hampir sama.


Pandangan mata yang saling beradu Itu membuat mereka menjadi merasa lebih akrab dari sebelumnya. Susanti pun akhirnya berkata kepada Ismail.


"Kau sudah pernah mendengar nama Susanti?"


"Belum," jawab Ismail.


"Apakah itu namamu?"


Gadis berhidung mancung itu anggukkan kepala. Senyumnya mengembang tipis, seperti sedang tersenyum sinis.

__ADS_1


Ismail memperlebar senyumnya dalam keadaan masih jongkok di depan gadis yang duduk di rerumputan itu.


"Kau bisa memanggilku Ismail."


"Apakah itu namamu?"


"Bukan. Nama anjing piaraanku," jawab Ismail dalam kelakar membuat Susanti sedikit perlebar senyum. Sangat sedikit sekali, nyaris tetap kelihatan tersenyum sinis.


"Siapa perempuan berwajah menyeramkan tadi?" tanya Ismail teringat wajah si Meimei.


"Aku tak bisa ceritakan sekarang. Badanku masih lemah. Aku butuh tempat untuk istirahat beberapa saat."


"Oh, aku tadi lewat sebelah sana dan kulihat tak jauh dari sini ada gua tempat persinggahan para pengembara. Kurasa kau bisa beristirahat di sana dengan nyaman."


"Tunjukkan padaku tempat itu!" kata Susanti dengan tegas, lalu ia segera bangkit. Ismail pun berdiri dan pandangi si Ehsan yang sedang kegirangan di dalam air.


Ketika Ehsan menyelam lagi, Ismail segera menyambar pakaian Ehsan, tapi goloknya tidak ikut disambarnya. Pakaian itu segera dibawa pergi ke gua bersama Susanti.


"Mengapa kau bawa pakaian temanmu itu?"


"Biar dia tak bisa menyusulku! Dia teman yang gemar mengganggu teman. Dengan membawa pergi pakaiannya, ia tak akan mencariku ke mana-mana!"


Susanti geleng-geleng kepala sambil menyunggingkan senyum tipis berkesan sinis lagi. Namun gerakannya menjadi lebih cepat lagi, karena Ismail melesat dalam beberapa lompatan cepat. Mereka menghilang sebelum Ehsan muncul dari kedalaman air.


Ketika si muka bundar itu muncul, la terkejut melihat Ismail dan Susanti sudah tak ada di tempatnya. Lebih terkejut lagi setelah menyadari pakaiannya tak ada di tempat semula.

__ADS_1


"Jingan! Pasti ini kerjaan si Ismail! Ajg dia itu!" gerutu Ehsan dengan hati dongkol, lalu ia pun berteriak keras-keras.


"Ismaiiiiiiiiiil...!"


__ADS_2