
Malam berikutnya, bencana berdarah itu benar-benar terjadi. Oleh sebab itulah,
Susanti tak bisa menemukan si bayi kembar tersebut, karena tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa bayi kembar sudah berada di puncak Gunung Merapi.
Mereka tinggal bersama Cikgu Melati dan
suaminya yang setiap harinya bertugas menjaga dan merawat sebuah makam keramat.
Makam keramat itu adalah makam seorang tokoh sakti pada masanya yang dikenal dengan nama Eyang Rembo, alias si
Dewa Kencan.
Sejak kematian si Eyang Rembo, Cikgu Melati hidup bersama suaminya sebagai penjaga dan perawat makam tersebut.
Kehidupan suami-istri itu tidak dikaruniai seorang anak pun. Namun mereka tetap saling mencintai hingga usia setua itu.
__ADS_1
Oleh karenanya, ketika peristiwa berdarah itu terjadi dan si kembar sudah berada di tangan mereka, hati mereka pun menjadi terharu antara suka dan duka.
Mereka sangat sedih melihat pembantaian besar-besaran itu, namun mereka juga gembira karena kini mereka mendapat sepasang anak kembar yang selama ini kehadirannya sangat dirindukan oleh mereka berdua. Akhirnya si kembar dirawat dan dibesarkan oleh Cikgu Melati dan suaminya, yang tak lain adalah si Atok Dalang.
Ada pun Abdul Salam yang hanya bisa menangis meraung-raung ketika pulang ke rumahnya dan mendapatkan seluruh keluarganya tewas dibantai oleh serombongan manusia bertopeng.
Seorang saksi mata yang saat itu sempat melihat pembantaian memberikan kesaksian di depan Ketua Perguruan Elang Bumi yang segera bertindak mewakili pihak Abdul Salam.
"Malam itu aku terbangun karena perutku mulas sekali. Lalu aku lari ke sungai dan membuang hajat di sana. Ketika kudengar jerit dan tangis mereka, aku tak berani naik ke tanggul sungai. Aku bersembunyi di celah dua batu besar di tengah sungai itu. Dan kulihat orang-orang bertopeng mengejar para pelayan Ki Demang membantainya dengan tak mengenal ampun lagi. Tak satu pun dari orang bertopeng itu yang kukenal dan kuingat wajahnya...."
Hanya Abdul Salam yang lolos dari pembantaian massal tersebut. Saksi mata pun itu akhirnya mengalami gangguan kejiwaan, dan Abdul Salam lebih parah dari
Abdul Salam tak bisa diajak bicara oleh siapa pun. Ia bagaikan patung bernyawa yang tak mengenali lingkungannya lagi, bahkan tak mengenali siapa dirinya.
Makin hari semakin meningkat kekacauan jiwa Abdul Salam, ia menjadi gila, liar dan sering mengamuk membahayakan siapa saja.
__ADS_1
Pihak perguruannya segera memasungnya demi keamanan sesama.
Tapi pada suatu malam Abdul Salam berhasil lolos dari pasungan lalu pergi entah ke mana, tak seorang pun yang tahu ke mana arah pelariannya.
Akhirnya ketika malam purnama tiba, Ratu Cikgu Besar hanya bisa mempersembahkan seorang bayi tunggal yang dibawa oleh utusannya dari Pulau Lombok.
Bayi itu dirampas dari tangan seorang ******* yang melahirkan anak haramnya. Sedangkan Susanti yang telah melakukan kesalahan besar di mata sang Ratu, dijatuhi hukuman mati sebagai penebus kesalahannya. Namun sebelum hukuman mati itu dilaksanakan, Susanti telah lebih dulu melarikan diri dan
tak terkejar oleh pihak Ratu Cikgu Besar.
Atok Dalang tak berani bertindak tanpa bukti yang kuat, walau ia mempunyai keyakinan bahwa pihak Ratu Cikgu Besar itulah yang melakukan pembantaian massal yang mengerikan itu.
Cikgu Melati hanya mengingatkan suaminya dengan kata-kata bijak.
"Pada suatu saat, jika waktunya telah tiba, Ratu Cikgu Besar akan tumbang dan binasa walau bukan dari tanganmu sendiri, Suamiku. Kau tak bisa lemparkan tuduhan kepada Ratu Cikgu Besar karena kau tidak mempunyai bukti dan saksi mata yang dapat membuat si Cikgu Besar bisa dibuktikan kesalahannya."
__ADS_1
Atok Dalang diam, merenungi kata-kata istrinya yang sedang menimang-nimang salah satu dari bayi kembar itu. Hanya Cikgu Melati yang mengetahui mana bayi yang pertama lahir dan yang kedua, karena dialah yang membantu kelahiran itu secara langsung.
Bayi yang lahir kedua itulah yang dianggap anak pertama menurut adat mereka. Karena bayi yang lahir kedua adalah seorang kakak yang menjaga keselamatan adiknya dari belakang.