PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 11


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan siapa pun, Cikgu Melati telah mempunyai kecurigaan akan datangnya bencana mengerikan itu.


Mimpinya tentang kabut di rumah Ki Demang dan dua ekor merpati terbang telah membuat Cikgu Melati mencemaskan bayi tersebut.


Ketika ia pulang dari membantu melahirkan Syahrini, ia sempatkan diri bicara dengan suaminya tentang kelahiran bayi kembar tersebut.


"Dua ekor merpati dalam mimpimu itu ternyata adalah kelahiran si bayi kembar tersebut," ujar sang suami.


"Lalu, kabut tebal yang kau lihat dalam mimpimu itu adalah kematian bagi si Syahrini sendiri. Tetapi firasatku mengatakan, bukan hanya kematian Syahrini yang menjadi simbol dari kabut tebal itu."


"Lalu, menurutmu apa arti kabut tebal itu, Suamiku?"


"Bencana!" hanya itu jawaban sang suami yang membuat Cikgu Melati terperanjat


dan menjadi cemas sekali.


"Malam ini juga aku akan temui Demang Ghani dan membicarakannya?"


"Apa rencanamu?"


"Selamatkan bayi kembar itu!"

__ADS_1


"Apakah menurutmu bayi itu akan menjadi sumber bencana?"


"Semata-mata bukan karena kelahiran sang bayi, melainkan karena kekejaman seseorang dapat membuat Pademangan dilanda bencana mengerikan!" jawab sang suami yang berbadan kurus, walau tak sekurus Cikgu Melati sendiri.


Lelaki beruban tak rata yang gemar mengenakan jubah putih berikat pinggang kain hitam itu segera temui Ki Demang.


Tanpa membawa tongkatnya, suami Cikgu Melati melesat dengan cepat hingga tiba


di depan Ki Demang Abang Ghani ketika malam mulai merayap ke pertengahannya.


Ki Demang terkejut ketika suami Cikgu Melati itu utarakan maksudnya.


"Cucumu harus disingkirkan dari sini


"Mengapa kau setengah memaksaku begitu?"


"Firasatku sangat buruk. Jika benar putramu si Abdul Salam punya hubungan gelap dengan Ratu Cikgu Besar, maka cepat atau lambat kelahiran bayi kembar Itu akan tercium oleh perempuan itu. Barangkali kau belum tahu...."


"Apa yang belum kuketahui itu?"


"Ratu Cikgu Besar selalu mempersembahkan seorang bayi pada malam bulan purnama sebagai tumbal persembahan bagi Dewa Jarjit Singh."

__ADS_1


"Ak... aku baru mendengar nama Dewa Jarjit Singh."


"Itu nama iblis yang mendampingi Ratu Cikgu Besar selama ini. Perempuan tersebut telah lama bersekutu dengan iblis yang berjuluk Dewa Jarjit Singh.


Kekuatan iblis Dewa Jarjit Singh mengalir dalam diri Ratu Cikgu Besar. Upahnya adalah darah bayi pada malam bulan purnama.


Tetapi jika Ratu Cikgu Besar dapat mempersembahkan bayi kembar untuk makanan si iblis itu, maka ia akan mempunyai hak untuk ajukan dua permintaan. Jika hanya satu bayi, tak ada permintaan baru, namun kesaktian dan kecantikannya tetap terjaga."


"Mak.... Maksudmu... Ratu Cikgu Besar ingin merampas cucu kembarku itu? Oh, sepertinya itu tak mungkin. Abdul Salam tak akan tinggal diam jika sang Ratu punya gagasan keji seperti itu."


"Putramu telah terbius oleh kecantikan Ratu Cikgu Besar, mungkin juga telah bertekuk lutut di bawah telapak kaki perempuan tersebut. Jika sudah begitu, tak ada lagi niat bagi Abdul Salam untuk memikirkan nasib bayinya! Kehangatan si Cikgu Besar adaiah kehangatan yang beracun! Membuat setiap lelaki yang bercumbu dengannya akan selalu ketagihan dan sulit meninggalkannya!"


Ki Demang tertegun beberapa saat lamanya. Selain malu, juga merasa serba salah dalam bersikap.


Di satu sisi ia masih senang-senangnya menimang cucu, di satu sisi lagi ia perlu selamatkan sang cucu jika benar Ratu Cikgu Besar membutuhkan tumbal atau korban persembahan kepada si Iblis Dewa Jarjit Singh itu.


Akhirnya Ki Demang memutuskan,


"Baiklah, kutitipkan cucu kembarku padamu. Tapi jika dalam tujuh hari tak terjadi apa-apa, kuminta kau kembalikan cucu kembarku itu!"


"Akan kukembalikan dalam keadaan sehat tak kurang satu apa pun, Demang!" tegas suami Cikgu Melati. Maka, Ki Demang pun menyerahkan kedua cucu kembarnya kepada lelaki berjubah putih itu tanpa sepengetahuan istrinya Nyi Demang Opah atau siapa pun.

__ADS_1


Si kembar yang dalam keadaan sedang tertidur itu akhirnya dibawa oleh si jubah putih meninggalkan rumah kakeknya.


__ADS_2