
Susanti belum pernah masuk ke dalam gua itu, sehingga ia harus memeriksa keadaan keamanannya. Bagaimanapun juga ia tak mau terjebak oleh kebodohannya sendiri, dan tetap menaruh curiga kepada pemuda yang mengaku bernama Ismail.
"Siapa tahu dia menjebakku dan berada di pihak Nyai Ratu?" pikir Susanti sambil melirik ke sana sini dan melangkah mengitari gua tak berlorong itu.
"Dari mana asalmu, Susanti?" tanya Ismail sambil duduk di atas batu setinggi pinggul. Saat itu Susanti tiba di depannya dan menatap dengan kepala sedikit menunduk karena ketinggian tubuhnya.
"Kau sendiri dari mana?" Susanti ganti bertanya.
"Kau ini ditanya kok jadi ganti bertanya?" Ismail tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kau tak perlu curiga padaku. Aku bukan orang jahat seperti lawanmu yang berwajah menyeramkan tadi. Aku dari Perguruan Elang Bumi."
Susanti terkesiap dan membatin, "Kalau tak salah, Perguruan Elang Bumi itu adalah perguruannya Abdul Salam?!"
Dengan kalem si pemuda bercambang tipis itu berkata lagi.
"Aku dan Ehsan mendapat tugas dari guru kami untuk mencari seorang sahabat yang hilang. la dalam keadaan tak waras. Maklum keluarganya habis dibantai oleh sekelompok manusia bertopeng dan bayi kembarnya yang baru Iahir itu juga hilang entah ke mana...."
Susanti semakin tak enak hati mendengar penjelasan itu. Ia tahu yang dimaksud adalah Abdul Salam, tapi ia berlagak tak tahu menahu tentang kasus pembantaian itu.
"Siapa nama temanmu itu, Ismail?"
__ADS_1
"Abdul Salam. Ciri-cirinya, berperawakan hampir mirip denganku...."
Susanti berlagak menyimak penjelasan Ismail tentang ciri-ciri Abdul Salam, tapi dalam hatinya ia tertawa karena ia sudah tahu ciri-ciri tersebut. Tiba-tiba ia menemukan gagasan yang terlintas dalam benaknya saat Ismail menceritakan ciri-ciri manusia bertopeng yang membantai seluruh keluarga Abdul Salam.
Ismail menceritakan ciri topengnya, sesuai dengan penjelasan yang diterima saksi mata dalam peristiwa tersebut.
"O, topeng itu...?! Ya, aku pernah melihat orang memakai topeng seperti yang kau sebutkan tadi."
"Kau tahu siapa pemilik topeng itu?" tanya Ismail.
"Barnyak sekali yang memiliki topeng seperti itu. Aku pernah bertarung dengan tiga orang bertopeng, dan ketiganya berhasil ku lumpuhkan. Ketika topeng mereka kubuka, ternyata mereka adalah orang Pesisir Kulon. Mereka adalah orangnya Ratu Cikgu Besar!"
"Oh, betulkah?!" Ismail terkejut karena merasa baru sekarang mendapat keterangan seperti itu.
"Kau yakin kalau pemillik topeng seperti itu adalah orangnya Ratu Cikgu Besar?!"
"Aku yakin sekali, karena pada waktu itu aku segera menyerang Pesisir Kulon, dan ternyata mereka mengakui telah mengirimkan tiga orangnya bertopeng untuk melukaiku. Akibat penyerangan dan pembunuhan dl wilayahku itu, sampai sekarang aku menjadi buronan Ratu Cikgu Besar. Perempuan yang tadi bertarung denganku adalah utusan Nyai Ratu Cikgu Besar untuk menangkap atau membunuhku!"
"Ooo...." Ismail manggut-manggut sambil pandangi Susanti yang berada empat langkah dari tempatnya duduk.
"Pantas kelihatannya lawanmu tadi liar sekali. Kurasa kita perlu menyatukan kekuatan kita untuk melumpuhkan orang-orangnya Ratu Cikgu Besar. Bagaimana menurutmu, Susanti?!”
__ADS_1
Perempuan itu menghampiri Ismail lagi. Kini ia berdiri dalam jarak kurang dari satu jangkauan tangan Ismail. Wajah mereka saling berhadapan dan mata mereka beradu pandang.
"Apakah kau sudah siap menyatu denganku, Ismail?"
"Siap sekali!" jawab Ismail dalam senyum.
"Menyatu yang bagaimana maksudmu?" Ismail tampak mulai nakal.
Susanti menyentuh bibir Ismail dengan ujung telunjuknya.
"Menyatu dalam arti sebenarnya. Kau dan aku merapatkan badan menjadi satu. Apakah kau setuju?"
Pandangan mata Susanti mulai menjadi sayu dan nakal. Ismail tak mau kalah nakal dengan senyumannya.
"Kau menantang gairahku, Susanti.,.."
"Sambutlah tantanganku kalau kau mampu," ujar Susanti sambil masih meraba bibir Ismail dengan ujung telunjuknya.
Ismail membiarkan telunjuk itu bermain di bibirnya. Kini ia membalas meraba bibir sensual Susanti yang menggemaskan jika hanya dipandang saja itu.
Selang beberapa waktu kemudian, gua Itu penuh dengan suara teriakan mereka yang mencapai puncak keindahan bersama itu.
__ADS_1
Suara tersebut menggema keluar, sampai di telinga Ehsan yang masih merendam diri di perairan sungai. Tapi yang didengar Ehsan hanya suara gaduh dalam satu jeritan menggema. la tak bisa mengenali apakah suara itu suara Ismail atau seekor singa mengamuk ganas.