
Pemuda itu terlihat jelas pada saat Meimei yang berwajah menyeramkan itu menerjang Susanti dengan gerakan liar dan sukar dihindari. Kukunya yang berubah menjadi tajam dan hitam itu menyambar wajah Susanti ketika pedang Susanti menangkis tebasan pedang si Meimei.
Weees...!
Nyaris saja wajah Susanti yang cantik itu rusak total akibat terkena sambaran kuku runcing mirip mata pisau tajam itu.
Untung saja Susanti segera menarik kepala ke belakang dengan sedikit menengadah, sehingga cakaran kuku itu tak mengenai kulit wajahnya sedikit pun.
Ia segera memutar tubuhnya dan menendang ke belakang dengan cepat dan penuh curahan tenaga dalam. Tendangan itu tepat mengenai perut Meimei.
Buuughk...!
Tubuh Meimei terpental tujuh langkah jauhnya dan jatuh terbanting dalam keadaan miring.
Brrruk...!
"Gggrrrhh...!”
******* kau Susantiiiii...!" teriaknya menyeramkan dengan wajah menyeringai ganas.
Lalu tiba-tiba dari ujung pedang Meimei yang disentakkan ke depan keluar sinar merah yang menyerupai meteor kecil.
Sinar merah itu melesat cepat ke arah Susanti.
Claaap, wuuus...!
Susanti tak mau kalah main sinar. Ia pun sabetkan pedangnya dari belakang menjadi lurus ke depan.
Suuuut...!
Dan ujung pedang itu segera keluarkan selarik sinar hijau yang segera bertabrakan dengan sinar merah dalam jarak lima langkah di depan Meimei.
Claaap, blaaarr...!
Ledakan kuat timbul dari benturan dua sinar tersebut. Cahaya biru kemerahan membias dalam sekejap. Cahaya itu keluarkan gelombang sentakan cukup kuat, sehingga tubuh Susanti pun terhempas dan terbanting setelah membentur batu besar dan tinggi itu.
"Uuh...! Keparat betul si Meimei itu. Agaknya aku tak boleh sekadar menghajarnya. Aku harus membunuhnya tanpa ragu-ragu lagi!!" geram Susanti dalam hatinya.
Ia pun segera bangkit dengan niat melepaskan jurus maut yang dapat menghabisi nyawa si Meimei dalam satu gebrakan.
Tapi tiba-tiba sinar merah itu datang lagi menyambarnya dari ujung pedang si Meimei.
Weees...!
__ADS_1
Mau tak mau Susanti segera melepaskan sarung pedangnya dan tangan kirinya menyentak ke depan dengan telapak tangan terbuka.
Wuuut...!
Dari telapak tangan itu melesatlah sinar hijau bundar sebesar genggaman bayi.
Claaap...!
Weees...!
Blegaaarrr...!
Dentuman Itu semakin kuat, lebih besar dari yang pertama. Tubuh Susanti terlempar dan masuk ke perairan sungai.
Byuuur...!
Sementara itu, si Meimei hanya terpelanting membentur pohon, lalu segera tegak kembali dan menggeram dengan menampakkan taringnya yang runcing.
"Gggrrhh...!"
Meimei berlari menuruni tanggul, Ia Ingin mengejar Susanti yang sedang melawan arus sungai. Tetapi pada saat itu, sekelebat bayangan hijau melesat cepat dan menyambar tubuh Susanti.
Wuuut, wuuus...!
Bayangan hijau itu melesat bagaikan sinar berkelebat. Tapi ia juga melepaskan cahaya kuning terang yang tahu-tahu sudah ada didepan Meimei.
Namun baru saja sinar merah itu melesat dua jengkal dari telapak tangan, ternyata sinar kuning itu telah menghantamnya lebih dulu.
Jegaaar...!
"Grrraaoow...!"
Meimei terlempar dalam keadaan tubuhnya berasap dan menjadi biru memar. Ia berguling guling di rerumputan bawah tanggul bagaikan makhluk yang mengamuk dengan ganas.
Rupanya Meiemi terbakar bagian dalamnya oleh daya ledak yang dahsyat tadi. la segera melesat naik ke tanggul dan menggeram penuh murka.
Namun agaknya ia sadar bahwa dirinya telah semakin lemah dalam keadaan bagian dalamnya terbakar. la harus menyingkir sesaat untuk padamkan kobaran api yang membakar bagian dalam tubuhnya itu. Maka, Meimei pun segera melesat meninggalkan tempat tersebut.
Weess...!
Ternyata bayangan hijau yang menyambar Susanti adalah seorang pemuda yang tadi mengintai dari celah-celah daun ilalang.
Ia membawa Susanti yang terkulai lemas ke daratan. Membujurkan tubuh tanpa pakaian selain penutup tempat-tempat pentingnya saja itu di rerumputan, dekat sarung pedang yang dibuang tadi.
__ADS_1
Susanti masih sadar, masih bisa memandang siapa orang yang menolongnya. Namun ia belum bisa bicara karena dadanya terasa bagaikan dipaku dengan pasak sebesar tombak.
"Jangan banyak bergerak dulu. Kurasa ada sesuatu bagian yang hangus di dalam tubuhmu!" ujar pemuda berpakaian hijau itu.
"Akan kucoba untuk salurkan hawa murniku agar lukamu tak menjadi parah."
Sebenarnya pemuda itu tidak sendirian. Ia bersama seorang sahabatnya yang berbadan pendek dan agak gemuk, mengenakan pakaian abu-abu.
Temannya itu berusia sedikit lebih tua darinya. Wajahnya yang bundar dengan pipi yang bengkak mirip sepasang bakpao itu, ternyata sudah berada di seberang sungai dan sedang mengintai dari balik bebatuan besar.
Mata si wajah bundar mirip kue serabi itu terbelalak ketika tahu bahwa temannya sedang meraba dada seorang perempuan cantik yang tidak berjubah dan berbaju.
"Wah, lagi-lagi nasib si Ismail sangat beruntung. Tadi aku menemukan seekor kambing hutan mau beranak, sekarang dia menemukan seorang perempuan cantik mau... mau... apakah juga mau beranak? Oh, tidak! Kulihat perut perempuan itu tidak membuncit. Dan yang dipegang si Ismail
adaiah bagian dada. Hmmm... pasti tangan
si Ismail sedang melakukan kenakalan kecil-kecilan! Kurang ajar!" geram orang tersebut.
Tab, tab, tab, tab...!
Si bundar berpakaian abu-abu itu melompat di antara batu-batu sungai dengan lincahnya. Dalam sekejap ia sudah berada di seberang sungai dan berdiri di depan pemuda berpakaian hijau yang ternyata bernama Ismail Itu.
"Hei, apa yang kau Iakukan itu, Ismail!" hardik si muka bundar.
"Aku sedang memeriksa denyut nadinya!" ujar Ismail sambil nyengir.
"Bukan di situ yang berdenyut, tapi di tempatmu sendiri!"
"Jangan menggangguku, Ehsan! Gadis ini terluka dalam dan... ah, sudahlah! Menjauhlah dulu!"
"Kuberitahukan pada Guru kalau kau tak mau hentikan kenakalanmu, Ismail!"
"Ini bukan kenakalan! Aku sedang salurkan hawa murniku, *****!"
"Tapi jempolmu itu kenapa menelusup di balik kain penutup bukit?!"
"OoOh... ini tak sengaja!" Ismail bersungut-sungut dan menarik keluar ibu jarinya yang memang menelusup di balik kain kuning yang berbentuk dan berukuran seperti tutup mangkuk kecil itu.
Ehsan, si muka bundar itu, akhirnya melompat ke atas batu setinggi dada Ismail. ia duduk di sana sambil bersungut-sungut dan sebentar-sebentar melirik tangan Ismail.
"Kalau urusan perempuan cantik ditanganinya sendiri. Giliran urusan kambing beranak, aku yang disuruh menangani! Uuh...! Kalau begini caranya, kapan aku dapat bagian seempuk dia?!" gerutu Ehsn sengaja dikeraskan agar didengar Ismail.
Tapi pemuda tampan bercambang tipis itu tak mempeduiikan suara yang didengarnya. Ia tetap
__ADS_1
berkonsentrasi menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Susanti.
"Aku mau mandi, ah!" ujar Ehsan seperti bicara pada diri sendiri. ia segera melompat ke balik batu dan melepaskan pakaiannya.