
Ki Demang sekeluarga pun menitikkan air mata menyambut kelahiran bayi kembar itu dengan rasa haru antara duka dan bahagia.
Hanya Cikgu Melati yang tetap diam tanpa senyum dan kata. Wajah Cikgu Melati tampak tegang dan berkeringat. Ada kegelisahan yang mencekam hatinya pada saat selesai membantu kelahiran si bayi kembar itu.
"Tolong, bantu aku menyadarkan Syahrini," pintanya kepada beberapa orang yang ada dl sekitarnya.
"Maksudmu... maksudmu si Syahrini pingsan?!"
"Ya. Ia kehabisan tenaga dan kekurangan darah banyak sekali setelah melahirkan bayinya yang kedua tadi!"
"Ya, Tuhan...!" sentak mereka.
"Syahrini...! Syahrini, jangan pingsan dulu, Nak! Ayo, sadar...! Sadar, Nyi Demang Opah juga ikut membantu menyadarkan.
Syahrini...!"
"Mari kita sadar bersama Syahrini...!
Syah... Syahrini...?!"
__ADS_1
Nyi Demang Opah, ibu mertua Syahrini, segera berseru memanggil suaminya.
"Kangmas...?! Datanglah kemari, Syahrini pingsan dan... dan badannya dingin sekaii, Kangmas...!"
"Syahrini...?!"
Ki Demang pun tampak kaget dan sangat tegang, sementara Cikgu Melati berusaha memberi kehangatan dengan membalurkan rempah-rempah, termasuk minyak-minyakan yang mendatangkan hawa hangat. Kaki Syahrini digosoknya dengan minyak sereh dan minyak lainnya, kecuali minyak rambut. Tapi agaknya Syahrini masih belum sadarkan diri juga.
Ketika senja menghilang, petang pun tiba, keluarga Ki Demang diliputi kedukaan begitu dalam. Suara tangis memenuhi rumah Ki Demang.
Syahrini akhirnya tak tertolong lagi. Denyut nadinya hilang, detak jantungnya tak ada, maka praktis dlkatakan bahwa Syahrini telah meninggal dunia. Bukan hanya dunia saja yang ditinggalkan Syahrini, tetapi bayi kembarnya pun ditinggalkan dengan tangis dan lambaian tangan yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Kedua bayi kembar itu pun menangis tiada hentinya, seakan mereka tak ingin ditinggalkan oleh sang Ibu.
"Oooaaa...! Oooaaa...! Oooaaa...!"
"Oooaaa...! Oooaaa...! Oooaaa...!"
...
Sebelum hujan turun dan matahari masih
__ADS_1
mencoba menerobos kabut mendung, ternyata Ratu Cikgu Besar kedatangan seorang tamu tak ramah yang mempunyai wajah angker.
Tamu itu datang dari Tebing Naga yang dikenal dengan nama si Uncle Ah Tong. Sesuai dengan namanya, tamu berperawakan tinggi besar itu tidak pernah tersenyum sedikit pun. Entah karena ia sedang sakit gigi atau memang tak tahu bagaimana caranya tersenyum, yang jeias sikapnya nyata-nyata bermusuhan terhadap sang Ratu yang berparas cantik itu.
Sikapnya semakin tak ramah lagi jika dllihat dari sebilah kapak dua mata yang bergagang panjang dan kala itu sudah dalam genggamannya. Uncle Ah Tong yang berkumis lebat dan beralis tebal itu pandangi Ratu Cikgu Besar dengan tajam.
Sang Ratu tampak tenang-tenang saja menghadapi tamu berwajah kuburan itu. Angin sore dibiarkan melambai-lambaikan jubah suteranya yang berwarna merah jambu
itu. Jubah yang menyingkap melambai-lambai itu membuat sosok tubuh berkulit halus mulus dapat dilihat dengan jelas. Apalagi ia hanya mengenakan penutup dada dari kain tipis warna hijau muda dan kain penutup bagian bawahnya yang sangat mini berwarna hijau muda juga, sungguh merupakan pemandangan yang tak patut dipakai untuk berkedip bagi seorang lelaki.
Kemontokan dada sang Ratu nyaris seperti tak tertutup lagi karena tipisnya kain hijau itu. Dan 'mahkota' kebanggaannya juga nyaris ikut tersapu angin karena kecilnya kain yang
menutup bagian tersebut.
Mata si Uncle Ah Tong memang tidak berkedip, tapi bukan lantaran pemandangan mahal yang jarang ditemuinya pada perempuan lain itu, melainkan karena ia
ingin tunjukkan bahwa kedatangannya bukan untuk menikmati keelokan tubuh sang Ratu,
namun untuk mencabut nyawa perempuan itu.
__ADS_1