PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 14


__ADS_3

Atok Dalang tarik napas pelan-pelan terdengarkan suaranya kembali dengan kalem. Sang istri memandanginya sambil menggoyang pelan gendongannya agar si kecil Upin itu tertidur nyenyak.


"Cikgu Besar adalah gadis desa yang buruk rupanya dan berpenyakit kulit. Tak ada lelaki yang sudi menyentuhnya, apalagi memeluknya. Masa puber gadis bernama asli Nurul itu sangat pahit dan menyedihkan. ia selalu mendapatkan hinaan dari kaum lelaki."


Atok Dalang hentikan ceritanya sebentar. Ipin merengek dalam gendongannya. la terpaksa mengayun ayunkan gendongan agar bayi itu menghentikan rengekannya. Setelah rengekan sang bayi berhenti, Atok Dalang pun lanjutkan ceritanya kembali tanpa diminta sang istri.


"Omas akhirnya pergi dari desanya, karena tak ingin menjadi bahan hinaan para tetangga. Rupanya di tempat lain pun Nurul mengalami nasib yang sama, selalu menjadi bahan hinaan kaum lelaki. Ia putus harapan, akhirnya bunuh diri dengan terjun ke Jurang Sambar Nyawa. Siapa pun yang jatuh atau sengaja terjun ke jurang itu pasti mati. Tetapi Nurul tidak, karena saat tubuhnya melayang sepasang tangan menyambarnya. Ia diselamatkan oleh sepasang tangan tanpa rupa."


"Siapa pemilik sepasang tangan itu?" potong Cikgu Melati yang semakin ingin tahu.


"Sepasang tangan itu milik iblis yang menamakan dirinya Dewa Jarjit Singh! Maka Nurul pun segera bersekutu dengan Dewa Jarjit Singh. Ia menjadi abdi iblis itu, tapi imbalannya adalah kesaktian dan kecantikan diberikan kepada Nurul. Setiap bulan purnama, Nurul harus mengorbankan seorang bayi sebagai santapan sang iblis Dewa Jarjit Singh itu."


"Lalu bagaimana bisa terlibat hubungan pribadi denganmu?"


"Kala itu aku masih berusia dua puluh empat tahun. Kakak perguruanku, si Uncle Muthu, teriibat bentrokan dengan Nurul yang telah menamakan dirinya Ratu Cikgu Besar. Guru mengutusku memanggil si Uncle Muthu dan menyuruh Uncle Muthu tinggalkan Cikgu Besar. Tetapi ia sudah telanjur terbunuh oleh Cikgu Besar. Aku bermaksud menuntut balas, tetapi sempat terpikat oleh Kecantikan dan kelembutan tutur rayunya. Rupanya perempuan itu merasa jatuh cinta padaku setelah hubungan kami makin lama semakin akrab."

__ADS_1


"Sementara itu, Guru melarangku menuntut balas atas kematian si Uncle Muthu. Hubunganku dengan Cikgu Besar pun selalu mendapat teguran dari Guru. Pada dasarnya, Guru mengharapkan agar aku tinggalkan Nurul. Kuturuti perintah Guru ku, kutinggalkan Nurul, sampai perempuan itu mengejar-ngejarku dan tak pernah kulayani lagi cintanya. Akhirnya ia sangat sakit hati padaku. la mencoba membunuhku beberapa kali, namun tak berhasil, dan halitu membuat sakit hatinya semakin bertambah. Sampai sekarang, ternyata ia masih termakan dendam kesumat padaku dan menurut kata-kata Guru tadi, sebelum aku mati ia tak akan hentikan kekejamannya terhadap setiap lelaki. ia selalu ingin menghancurkan setiap lelaki sebagai balas dendam atas perlakuan kaum lelaki saat ia dalam keadaan buruk rupa dan berpenyakit kulit."


"Dendam itu membuat asmaranya menjadi liar!" gumam Cikgu Melati dalam keadaan tetap tenang, tak menyimpan rasa cemburu sedikit pun, bahkan tak tampak ia mempunyai kebencian terhadap Ratu Cikgu Besar. Sebab, bagaimanapun juga si Ratu tak akan berhasil membunuh suaminya, karena Cikgu Melati tahu ilmu yang dimiliki suaminya cukup tinggi.


"Jadi kapan kau akan berangkat menunaikan tugas Guru?" tanya Cikgu Melati.


"Esok aku akan berangkat ke Pesisir Kulon, melakukan perintah Guru tadi.


Kuharap kau merawat si kembar dengan baik-baik, jaga jangan sampai ia sakit. Carilah madu lebah hutan dalam keadaan mereka tertidur sebagai ganti minumnya, sebab mereka tak bisa mendapatkan minum darimu, bukan?" Cikgu Melati tersenyum manis, menurut pandangan Atok Dalang.


"Kau pikir aku masih sering seperti dulu?" Atok Dalang sunggingkan senyum tipis.


"Kurasa semakin tua kau semakin rajin menjadi pencuri."


"Pencuri apa?"

__ADS_1


"Pencuri susu manakala aku sedang tidur!" Atok Dalang lebarkan senyum, merasa geli dan malu.


"Mengapa kau diam saja jika kau tahu aku menjadi pencuri?"


"Yah, mau bilang apa kalau hal itu adalah keindahan kita sejak dulu, Dalang?" ujar Cikgu Melati sambil tersenyum dan menyebut nama si Atok Dalang, seperti kala mereka jumpa pertama dalam usia masing-masing sekitar tiga puluh tahun.


Cikgu Melati seorang istri yang takpernah mengeluh. Bahkan kini ia mengasuh dua bayi sendirian pun tak mempunyai keluhan apa-apa. Ia melepas kepergian suaminya dengan senyum manis sebagai ungkapan cintanya kepada sang suami yang tak pernah padam.


Cikgu Melati adalah anak seorang tumenggung yang sudah kehilangan seluruh anggota keluarganya karena peperangan antar negeri. Kini sisa hidupnya hanya bisa digunakan untuk mengabdi kepada sang suami tercinta, dan mengabdi terhadap sesama. Ia mempunyai ilmu warisan orangtuanya dan beberapa jurus ajaran dari suaminya. Tapi ilmu yang dimilikinya tak


seberapa tinggi dan sebagai pelindung keamanan pribadi.


Seandainya Cikgu Melati terpaksa harus melawan Susanti, ia akan tumbang dalam sekejap, karena ilmu yang dimiliki Susanti cukup tinggi, di samping memang keberanian perempuan berbulu halus itu juga tinggi. Bahkan seandainya kala itu ia harus melawan si Uncle Ah Tong, ia masih sanggup mencabut nyawa si Uncle Ah Tong dalam beberapa jurus saja.


Oleh sebab itu, sekalipun ia minggat dari Ratu Cikgu Besar, ia tak merasa takut sedikit pun. Orang-orang dari Pesisir Kulon dapat dihancurkan dalam waktu singkat, karena Susanti adalah pengawal sang Ratu yang tertinggi ilmunya dari yang lain.

__ADS_1


Namun lolosnya Susanti dari ancaman hukuman mati itu membuat sang Ratu menjadi berang. Meski ia tahu ketinggian ilmu Susanti, ia tetap mengutus beberapa orang pilihannya untuk mengejar Susanti.


__ADS_2