PENDEKAR UPIN & IPIN

PENDEKAR UPIN & IPIN
Episode 8


__ADS_3

Biasanya jika para pengikutnya terluka, cukup diludahi oleh sang Ratu, maka luka itu akan sembuh dan hilang sendiri dalam waktu tak sampai seratus helaan napas. Karenanya, para pengikut Ratu Cikgu Besar bertubuh mulus semua, baik yang lelaki maupun yang perempuan. Karena setiap mereka terluka, lukanya tak pernah meninggalkan bekas.


Tetapi yang dilakukan sang Ratu terhadap Abdul Salam saat itu bukan dengan cara meludahi luka tersebut. Setelah darah yang berlumuran di lengan Abdul Salam dibersihkan dengan air hangat, tubuh Abdul Salam dibaringkan di atas ranjang. Hanya sang Ratu dan pasangan kencannya yang berani masuk di kamar itu dan berbaring di


ranjang tersebut.


Abdul Salam dibaringkan daiam keadaan tanpa baju dan hanya mengenakan selimut pada bagian perut ke bawah. Baju dan celananya yang terkena ceceran darah dicuci oleh sang pelayan agar esok bisa dikenakan kembali.


"Kalau begini caranya, malam ini berarti aku tak bisa pulang karena pakaianku dicuci," ujar Abdul Salam sambil berbaring.


"Mengapa harus pulang? Apakah kau merasa rugi jika bermalam di sini lagi?"


"Tentu saja tidak, Nyai Ratu," jawab Abdul Salam sambil tersenyum kepada perempuan cantik yang duduk di sampingnya.


"Yang paling utama sekarang adalah melenyapkan lukamu dulu," ujar Sang Ratu.


Ia meludahi tangannya sendiri, lalu air ludah itu dibalurkan ke luka Abdul Salam. Dengan cara begitu, luka itu cepat menjadi kering dan mulai mengecil.


"Aku tak tega melihatmu terluka begini. Miringkan tubuhmu, biar kusapu lukamu dengan lidahku."


Abdul Salam menurut, ia memiringkan badannya sehingga luka di lengannya dapat dijangkau dengan mudah oleh Ratu Cikgu Besar. Luka itu sudah mengering dan nyaris merapat.


Rupanya sang Ratu ingin mempercepat proses lenyapnya luka. Maka ia pun menjilati luka tersebut tanpa ada rasa


jijik, sebab memang keadaan luka sudah

__ADS_1


tidak menjijikkan.


Dengan gerakan pelan, lidah itu menyapu lengan Abdul Salam yang terluka. Sapuan lidah itu dilakukan berulang-ulang, sehingga luka cepat menghilang.


"Oooh... nikmat sekali sapuan lidahmu, Nyai...," bisik Abdul Salam sambil mendesah dan matanya setengah terpejam.


"Kau suka, Abdul?"


"Suka sekali, Nyai...."


Nyai Ratu Cikgu Besar mengulangi sapuan lidahnya. Pada saat itu tangan Abdul Salam berada di pangkuan sang Ratu.


Jubah yang tersingkap membuat tangan itu dapat mengusap paha sang Ratu dengan leluasa.


Rupanya usapan tangan Abdul Salam menghadirkan debar-debar keindahan bagi


Bahkan sang Ratu semakin memperlebar arena usapan tangan Abdul Salam itu.


Dengan begitu, tangan tersebut semakin nakal dan menelusup di balik kain kecil penutup mahkota kehangatan.


"Uuuhh...! Teruskan, Abdul... oooh... indah sekali," desah sang Ratu sambil matanya terpejam sesaat, meresapi sentuhan nikmat yang makin membuat hatinya berdesir indah itu.


Sang Ratu akhirnya turun dari ranjang. Ia berdiri di lantai, sementara Abdul Salam masih tetap dalam posisi miring menghadap ke arah sang Ratu.


Jubah sang Ratu dilepaskan. Bahkan penutup lainnya pun dilepaskan oleh perempuan itu sendiri. Rambutnya yang lurus digulung asal jadi, lalu ia pun mendekatkan pahanya ke tepian ranjang.

__ADS_1


Dengan begitu bukan saja tangan Abdul Salam yang dapat menjangkau paha itu, melainkan mulut Abdul Salam pun sangat mudah menjangkaunya.


"Lakukanlah seperti tadi, Abdul...," bisik Ratu Cikgu Besar sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Abdul Salam. Mulut itu segera menjulurkan lidah dan lidah itu mulai menyapu daun telinga Abdul Salam.


Sapuan lidah itu menghadirkan rasa geli-geli


nikmat yang tak bisa ditolak oleh lelaki manapun.


Pada saat inilah sebenarnya Syahrini melepaskan sukmanya karena kehabisan tenaga dan darah dalam melahirkan. Abdul Salam hanya sempat mendengar suara lirih


yang memanggilnya.


"Kangmas... aku pamit...."


Abdul Salam sempat tersentak kaget dalam hatinya.


"Aku seperti mendengar suara Syahrini, istriku...? Ah, bukan! Itu bukan suara Syahrini!"


Tapi Abdul Salam berusaha menghilangkan bisikan batinnya itu. Perhatiannya dipusatkan kembali ke mulut Ratu Cikgu Besar yang semakin buas dan liar melahap mangsanya.


Sementara itu, lidah Abdul Salam pun mengganas dan menjadi liar kembali di


gerbang kehangatan perempuan itu, membuat pinggul si perempuan mulai menggeliat tak karuan.


Malam pun dibiarkan lewat bersama sejuta rasa nikmat, sedangkan di rumah Ki Demang, malam dibiarkan lewat dengan sejuta duka atas kematian Syahrini.

__ADS_1


Sang bayi kembar masih saja menangis dengan suara nyaring, seakan memanggil-manggil ayahnya agar lekas pulang menemui jenazah sang ibu.


__ADS_2