
" Kalian sebenarnya siapa?" Seru Fang Han dengan nada bicara yang dingin.
Ariyon si Dosa Kesombongan, tersenyum lembut dengan wajah datar, sambil menatap Fang Han serta Yuanjun dengan tajam. "Kami membutuhkan tubuh kekasihmu. Sebaiknya kau cepat serahkan dia, perang ini sebenarnya bukan urusan kami! Karena kedatangan kami di sini untuk membawa pulang tubuh kekasih mu." Jawab Ariyon dengan datar.
Fang Han memejamkan matanya, kemudian menatap ke tujuh orang itu dengan mengeluarkan sedikit Tenaga dalam Yin miliknya. Meskipun sedikit. Di mata Ariyon, Dastan, Afreen, Abda dan tiga pendekar lain dari Tujuh Pendosa Tuhan, tenaga dalam yang di keluarkan Fang Han beberapa detik lalu, begitu mengejutkan mereka.
Fang Han melirik Yuanjun sambil memberikanya sebuah kode rahasia, setelah itu Fang Han tiba-tiba melesat ke arah mereka dengan kecepatan yang sangat hebat, sampai - sampai Ariyon menangkupkan kedua tanganya untuk memfokuskan pandanganya.
" Jurus Ketiga! Tinju pengoyak langit."
DUAARR..
Ledakan yang cukup besar terjadi, kepulan debu pun kembali menyeruak ke udara membuat semua pandangan orang kesulitan. Fang Han melesatkan cepat untuk memberikan sebuah pukulan keras ke salah satu Tujuh Pendosa Tuhan itu, tapi alangkah terkejutnya dia saat Tinju pengoyak langitnya berhasil di tangkap oleh Avan dengan mudah.
Avan si Dosa Kemarahan, dia tersenyum tipis sambil terus mencengkram kuat pukulan Fang Han. Dastan tiba - tiba melompat dan memberikan Fang Han sebuah tendangan berputar tepat mengenai wajahnya sehingga Fang Han terpental cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
" Kalian berdua akan masuk ke dalam catatan sebuah sejarah, karena kalian berhasil membuat kami bertujuh berkumpul di hadapan kalian." Ariyon terus bermata datar, sambil tersenyum sinis menatap Fang Han serta Yuanjun.
Yuanjun menggertakan giginya kuat karena tidak percaya, dengan mudahnya serangan Fang Han mampu mereka tahan, bahkan lemparan jarum beracun yang diam - diam dia lemparkan ke arah mereka bertujuh berhasil di sadari oleh Afreen sehingga dia lagsung memblokirnya.
" Tidak mungkin." gumam Yuanjun sambil menatapi ketujuh musuh yang ada di hadapanya itu dengan perasaan ngeri.
Ariyon dan Avan melesat pergi ke arah Fang Han, kini ada lima orang di hadapan Yaunjun sambil menyeringai sombong menatapnya. "Kekasihmu mungkin sebentar lagi akan mati.. Karena dia sudah di tandai oleh Ariyon dan Avan! Kedua orang itu benar - benar gila." Seru Aizar si Dosa kecemburuan.
Mendengar pernyataan itu, amarah Yuanjun langsung memuncak ke kepalanya. Kekesalanya sudah membuatnya lupa, Yuanjun membuka segel tubuh Ratu Poison miliknya sendiri.
__ADS_1
" Kalian akan menyesali semuanya!" Seru Yuanjun sambil menatap tajam kelimanya.
Mendapati kekuatan Yaunjun yang meluap-luap di hadapanya. Tubuh Afreen langsung bergetar hebat, saat dia sadar tubuh istimewa yang di miliki Yuanjun adalah sesuatu yang sangat langka, dan itu merupakan sesuatu yang sangat dia inginkan sejak lama.
" Kekuatan apa ini?" seru Bardia si dosa kemalasan sambil menguap. Dastan mengerutkan dahinya karena dia sedikit kesal! Lawan yang kali ini menurutnya sedikit menarik, justru sudah di tandai kedua orang yang sangat ia hindari dan kalau boleh ia jujur, keduanya sangat menyebalkan baginya.
Aura racun yang sangat mencekam, membuat seisi udara langsung tercemar karenanya. Afreen berteriak kepada teman - temanya untuk menutup pernafasan mereka, keringat dingin bercucuran di dahinya.
" Jangan menerima seranganya, karena kali ini. Racun di tubuhnya sangat mematikan jika dia mengenai kulit kita." Jerit Afreen karena dia yang sangat memahami kondisi musuhnya kali ini.
Di sisi lain, Fang Han terus di ombang ambingkan oleh pukulan dan jurus mematikan milik Ariyon dan Avan. Keduanya tanpa ampun terus menyerang Fang Han dan memojokanya, tanpa memberikanya sebuah peluang untuk menyerang balik.
" Di mana Tenaga Dalam yang tadi kami rasakan dari tubuh mu?" seru Ariyon sambil mengangkat tubuh Fang Han dengan mencengkram kuat wajah dan kepalanya.
Fang Han menjerit kesakitan, sambil memberontak dengan kedua tanganya yang terus bergelayutan untuk menyerang Ariyon agar melepaskanya. Nafas Avan terus memburu dengan cepat, karena dia sudah tidak sabar lagi untuk menyiksa Fang Han.
Mendapati hal itu, Ariyon hanya terus menatapi wajah Fang Han dengan datar. Awalnya saat dia merasakan sebuah kekuatan yang sangat hebat keluar dari tubuh Fang Han beberapa menit yang lalu.
Dia langsung tergiur dan tertarik dengan kekutan Fang Han. Tapi, kali ini dia kembali kecewa dengan musuhnya, karena Fang Han justru dengan cepat sudah tak berdaya lagi di hadapanya malah kini dia mencengkram wajahnya dengan tubuh yang sudah tidak berdaya.
" Membosankan.. " Ariyon langsung melempar tubuh Fang Han layaknya sebuah sampah yang tak berharga. Dia membiarkan Avan untuk bersenang-senang saat membunuh Fang Han.
Avan dengan nafsu amarahnya yang sudah meledak-ledak dari tadi, langsung mengeluarkan pusaka miliknya yaitu Pedang Naga surgawi. Dia mengangkat pedangnya ke atas langit dan menghimpun Tenaga dalam miliknya ke seluruh tubuh Pedang Naga surgawi itu.
Ariyon yang sudah tak bernafsu lagi dengan Fang Han, dia hanya berlalu pergi meninggalkan Avan yang akan membunuh Fang Han dengan brutal. Saat Ariyon baru berjalan untuk beberapa langkah, sebuah ledakan hebat serta tubuh seseorang yang terlempar jauh melewatinya, membuatnya langsung terkejut.
__ADS_1
Dia kembali berbalik arah, karena sebuah tekanan yang maha dasyat membuat tubuhnya bergetar seketika. Matanya langsung membulat karena perasaan merinding tadi, kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Wajahnya yang tadi datar langsung berubah bahagia layaknya seorang anak kecil yang baru mendapati sebuah hadiah yang sudah lama ia inginkan sejak lama.
" Ahh... Sudah lama aku ingin bertarung dengan serius." Ariyon langsung melompat ke arah Fang Han dengan cepat, dia tanpa basa basi lagi. Segera mengeluarkan pusaka miliknya, yaitu Cambuk Perenggut nyawa.
Senjata yang di pegang Fang Han serta pusaka cambuk yang di miliki Ariyon saling beradu, sebuah ledakan yang sangat besar terjadi di sekeliling keduanya. Tanah di tempat mereka berdua bertukar jurus, langsung membuat sebuah coakan tanah yang sangat besar.
Keduanya terus tenggelam di kedalam tanah tersebut. Setiap kali mereka berdua kembali beradu serangan, Tanah yang mereka berdua pijak lagsung tenggelam dan terus tenggelam.
Ariyon yang selalu berwajah datar, kini tersenyum terbahak - bahak karena menikmati pertempurannya kali ini. Rasa takut yang sudah lama ia lupakan kini menjalar lagi kesuluruh tubuhnya, layaknya sebuah obat candu yang sudah terlalu lama ia tidak rasakan.
Avan kembali berdiri dengan wajah yang sedikit meringis kesakitan, dia terlempar cukup jauh dari tempatnya tadi. Seakan beberapa detik yang lalu sebelum dirinya terlempar, dia merasakan sebuah ledakan tenaga dalam yang membakar jiwanya.
Seakan seperti sebuah mimpi, dengan cepat kekuatan dasyat itu mencengkram tubuhnya seperti mencengkram sebuah kapas. "Apa yang barusan tadi?" Avan yang terkenal menyukai lawan yang lebih kuat darinya, kini tengah membatu karena ketakutan.
Dia belum pernah merasakan kengerian sampai seperti, Ariyon yang mampu menundukanya bahkan tidak sampai membuat dirinya membatu dan ketakutan setengah mati seperti sekarang.
" Ariyon akan dalam bahaya." Avan berteriak dan memaksakan tubuhnya untuk bergerak, agar membantu temanya tersebut.
Di tengah jual beli serangan antara Ariyon serta Fang Han, Ariyon beberapa menit yang lalu terus tertawa. Kini kesenangannya itu tiba - tiba larut dalam pikiranya yang berubah saat ini.
Tadi, dia yang terus bertarung seperti orang gila. Sekarang Ariyon hanya mampu membisu karena tekanan yang di miliki Fang Han terus membuatnya terpojok.
Nafasnya mulai memburu karena serangan Fang Han terus menerus membuatnya tersiksa. Cambuknya sangat sulit di kendalikan saat lawan jaraknya sangat dekat denganya, Fang Han seakan sengaja mengunci jarak gerak yang di untungkan Ariyon.
Fang Han kini berganti mengombang ambingkan Ariyon seperti anak kecil, dengan seranganya yang sangat kuat. Dia berhasil mencuri senjata pusaka milik Avan saat Avan hendak berusaha membunuhnya.
__ADS_1
Kini dengan sekejab, Fang Han sudah berada di atas Angin.