
Ketika matahari mulai menampakan diri, Fang Han seperti biasa dia segera bangun dari tempat tidurnya dan segera pergi mencari tanaman obat dan memasaknya.
Hubungan antara dia serta Yuanjun masih belum berubah, Yuanjun masih bersifat dingin terhadap Fang Han jika tidak di hadapan Huli Jin. Nenek dari Yuanjun.
Hubungan Fang Han serta penduduk sekitar sudah terbilang sangat dekat. Bahkan sudah seperti layaknya sebuah keluarga.
Anak - anak desa yang bernaung di bawah naungan Sekte kalajengking Hitam, setiap pagi selalu bermain dan mengikuti Fang Han ketika Fang Han berkeliling menjajakan obatnya.
Fang Han sesekali mengajarkan mereka membaca dan sesekali juga membuat permainan dengan anak - anak tersebut.
Fang Han sudah terbiasa bermain dan mengajarkan anak - anak kecil membaca sejak dia masih berada si Kota Song, meski di bisu dia akan menggerakkan mulutnya dengan jelas kemudian akan di ikuti anak - anak yang di ajarkan ya itu.
Kekaisaran Wei akan mengenalkan pendidikan jika usia dari seorang anak itu sudah jatuh sebelas tahun, karena di sekolah yang akan mereka duduki kelak akan lebih di tekankan di ilmu beladiri karena pada zaman itu bela diri lebih sangat di pentingkan.
Itu sebabnya sangat sedikit Sorang sarjana di masa Fang Han dari pada seorang ahli beladiri. Ahli beladiri lebih mendominasi dari pada seorang Sarjana atau seorang Tabib.
Huli Jin serta Yuanjun sudah mengetahui apa yang akan di lakukan Fang Han setiap harinya. Selain bermain dan mengajarkan anak - anak belajar membaca.
Fang Han juga sesekali berburu seekor kelinci atau ayam hutan untuk di bawa pulang. Suatu hari Fang Han ingin menyenangkan hati Yuanjun.
Sehingga dia pernah bertanya kepada salah satu bawahan setia Yuanjun. Fang Han menanyakan makanan apa yang di sukai Yaunjun?
Bawahan Yuajun tersebut langsung bilang, kepada Fang Han jika Yuanjun sangat suka memakan daging kelinci atau ayam hutan. Jadi, setiap harinya Fang Han selalu pulang membawa beberapa ekor kelinci dan ayam hutan.
Meskipun Yuanjun sudah tau jika Fang Han selalu membawa bahan makanan kesukaannya, tapi hasilnya Yuajun masih dingin di hadapan Fang Han.
***
Malam Hari..
Suara - suara binatang malam, mulai berbunyi. Hari itu, Yuanjun telah selesai melatih para murid di Sektenya tersebut. Karena dia merupakan salah satu Tetua Muda yang sangat berbakat di sekte Kalajengking Hitam ini.
Yuanjun telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya yang panjang dan lurus itu menggunakan sebuah Handuk miliknya.
Saat dia memasuki kamar, dengan tatapan dingin dan malas dia terpaksa menatap ke sekitar ruangan, untuk mencari satu sosok seseorang yaitu Fang Han.
__ADS_1
Fang Han masih belum terlihat oleh matanya sejak sore tadi. Meski dia masih belum menerima dan menganggap Fang Han sekarang adalah suaminya.
Tapi, dia tidak pernah menolak keberadaanya meski sudah sekitar tiga Minggu mereka selalu berdua di kamar yang sama.
Neneknya Huli Jin pagi itu sudah pergi menemui Liem Tou di Kota Song, untuk membicarakan sebuah masalah perbatasan akhir - akhir ini.
Kekaisaran Monggoliyah mulai kembali bergerak kembali setelah cukup lama mereka tidak memunculkan taring mereka.
Mendapati Fang Han tidak ada di ruangan mereka, Yuanjun menyuruh salah satu bawahanya untuk memastikan keberadaan Fang Han.
Setelah beberapa menit, pintu kamar Yuanjun tiba - tiba di ketuk seseorang dari luar. Yuanjun yang mengira seseorang yang mengetuk kamar itu adalah Fang Han.
Wajah Dingin serta kesal mulai ia keluarkan bertepatan dia berjalan ke arah ambang pintu, untuk membuka pintu kamarnya tersebut.
" Dasar Sampah.. Kenapa kau selalu me-" Saat Yuanjun membuka pintu kamarnya, dia terkejut karena dia mendapati orang lain bukan seorang Fang Han.
" Maaf Nona Yuanjun.. Tuan Fang Han sekarang tengah tertidur di ruangan lain!? Saat aku bilang kalau Nona mencarinya dia hanya tersenyum dan bilang kalau dia ingin Nona Tidur nyenyak." lapor bawahan Yuanjun itu.
Yuanjun memejamkan matanya sambil berpikir sejenak. " Baiklah.. dimana dia sekarang? " Tanya Yuanjun malas.
" Tuan Fang Han sekarang dia ada di-di-!" Bawahan Yuanjun terlihat kesulitan dan tergagap untuk menjawab pertanyaan Yuanjun.
" Tuan Fang Han, sedang tidur di kandang Kuda!? " Bawahan Yuanjun menjawab dengan sangat cepat dan menutup matanya karena takut Yuanjun akan tiba - tiba marah.
" Apaaa.. ?? " Yuanjun sangat terkejut mendapati jawaban dari bawahanya tersebut. Dia segera memegang kepalanya karena sedikit terasa sakit saat mengetahui Fang Han tengah tidur di kandang kuda.
" Baiklah.. terima kasih, lebih baik kau cepat pergi." Tambah Yuanjun dengan masih memegang kepalanya.
" Baik. Nona terima kasih!? " Bawahan Yuanjun segera pamit dan meninggalkan Yuanjun sendiri yang masih berdiri di ambang pintu.
Yuanjun langsung menutup pintu kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. ' Apa maksud dari dia. Agar tidak mengganggu tidurku.'
Yuanjun menutup kedua matanya, sambil mengingat perbuatannya kepada Fang Han selama tiga Minggu ini.
Dia langsung membuka matanya, saat dia mulai teringat saat dua hari yang lalu dia pernah menyuruh Fang Han keluar dari kamar.
__ADS_1
Dia sengaja menyuruh Fang Han keluar karena ketika dirinya terbangun saat tengah malam. Dia mendapati Fang Han masih terjaga dan tengah menenun sebuah kain sambil masih menulis di sebuah buku! Entah Fang Han tengah menulis apa.
Karena kesal mengetahui Fang Han masih terjaga dengan keras dia berteriak menyuruh Fang Han untuk keluar kamar agar tidak mengganggunya ketika tidur.
Padahal dia sadar, Fang Han tidak lah membuat suara berisik atau pun mengganggu tidurnya cuma dia hanya kesal saja mengetahui Fang Han belum tidur.
Yuanjun menghela nafasnya berat, dia langsung kembali bangun dan keluar kamarnya mencari keberadaan Fang Han.
Saat dia sudah memasuki kandang kuda, dia mendapati Fang Han telah tertidur di tumpukan jerami. Dia mendapati beberapa kain yang tersulam dan bermotif bunga mawar.
Di sebelah sulaman Bunga itu, dia melihat sebuah buku yang masih terbuka dan terlihat sudah selesai di tulis. Dengan perlahan Yuanjun mendekati buku tersebut dan beniat membaca isi buku tersebut.
Dia membuka lembar demi lembar buku yang di tulis Fang Han tersebut. setelah beberapa menit dia membaca dia kemudian mematung untuk waktu yang cukup lama dengan mata yang tiba - tiba mulai berkaca.
" Dasar bodoh.. " Yuanjun menaruh buku cataan tersebut, kemudian dia mendekat ke arah Fang Han sambil menatapi wajah suaminya yang tengah tertidur.
Buku tersebut berisi tentang puisi puisi Fang Han...
Catatan dari buku tersebut berisi tentang kekaguman Fang Han terhadap Yuanjun, meski Fang Han selalu tidak di anggap di hadapan Yuanjun.
Tapi Fang Han selalu mengagumi sosok Yuanjun tersebut. Fang Han sadar jika dia sangat tidak berguna dan bisa dikatakan dia adalah sebuah noda di kain yang sangat bersih bagi keseharian Yuanjun.
Yuanjun memandangi wajah Fang Han dengan nanar tidak tega, sejak awal pernikahan mereka, Fang Han selalu menuruti apa yang dia katakan.
Dia tidak pernah tidur satu ranjang dengan Yuanjun bahkan menyentuhnya sedikit pun. Padahal Yuanjun sadar Fang Han sudah memiliki hak atas dirinya.
Nampak terlihat sebuah penyesalan di wajah Yuanjun saat ini. Yuanjun terus memandangi wajah Fang Han sangat dalam.
Yuanjun sadar meski Fang Han bisa di katakan tidak berguna. Tapi, dia tidak pernah menyerah dan selalu berusaha dengan kekuranganya tersebut.
Yuanjun tiba - tiba tersenyum! dia teringat jika Setiap pagi dia selalu tersenyum saat melihat Fang Han tengah mengajarkan anak - anak para warga desa dengan sebuah kekuranganya.
Meski dia bisu degan sabar Fang Han selalu tersenyum sambil mengajarkan anak - anak itu membaca. Meski Yuanjun selalu dingin dengan di depan Fang Han.
Dari jauh dia mulai mendapati kekaguman yang tulus dari sosok Fang Han. Fang Han secara tidak sadar selalu membuatnya terseyum dan merasa bangga.
__ADS_1
Saat Yuanjun masih menatapi wajah Fang Han dengan dalam. Fang Han tiba - tiba bergerak dan mengejutkan Yuanjun sehingga dia langsung pergi dari tempat Fang Han tersebut.
Dari ke jauhan Yuanjun masih mengawasi Fang Han yang masih tertidur. Dia menghela nafasnya perlahan, dari jarak yang cukup jauh Yuanjun yang masih mengawasi Fang Han tiba - tiba mulai mengantuk dan tertidur menemani Fang Han di kandang kuda tersebut.