
Yuanjun segera menarik lengan tangan Neneknya, sampai di sebuah ruangan yang cukup sepi.
" Maksud Nenek apa sih? Aku masih belum mau menikah. Apa lagi dia bukan tipe ku!? " Seru Yuanjun dingin, sambil melingkarkan tangannya di hadapan Neneknya tersebut.
Fang Han secara diam - diam mengikuti mereka berdua dari belakang, dan kini ia tengah duduk sambil mendengarkan percakapan mereka berdua yang hanya di batasi sebuah dinding ruangan.
Huli Jin masih tersenyum di hadapan Cucu kecilnya tersebut, " Dia adalah pria yang sangat cocok dengan mu!? Nenek yakin tentang hal itu." Jawab Huli Jin.
" Nek.. Aku bisa mencarinya sendiri, kau tau setiap mata lelaki yang melihat parasku pasti dia akan langsung bertindak aneh di hadapanku." Seru Yuanjun tidak kalah tegas.
" Lagian, saat aku pertama kali melihatnya. Bukan kah dia adalah Sampah yang terkenal di Kekaisaran Wei! Dan dia adalah Aib_" belum selesai Yuanjun mencibir.
" Cukup.. Jun'er, kau tidak perlu menghina kekurangannya!? Nenek menjadi kecewa terhadap mu. Kalau kau memang mau seperti ini. Lebih baik nenek segera pergi dari sini." Sela Huli Jin dengan ekspresi wajah yang sangat kecewa dan sedih.
" Nenek maksud ku!? " Yuanjun kini mencoba menenangkan hati serta perasaan neneknya yang terlihat sangat kecewa denganya.
Dia segera bersujud di depan neneknya, agar neneknya mau memaafkanya. " Nek.. Aku salah, baiklah nek. Aku mau menikahinya. Hidup ku hanya ingin membuat nenek bahagia." Imbuh Yuanjun dengan perasaan cemas dan takut.
Huli Jin, segera meraih pundak cucunya dan membantu cucunya tersebut untuk segera berdiri. Mereka berdua langsung berpelukan dengan sangat erat, layaknya sebuah keluarga yang sudah lama tidak bertemu.
" Terima kasih Jun'er.. Terima Kasih." seru Huli Jin sambil terus mengelus - elus punggung cucunya tersebut.
Fang Han yang mendengar dari awal sampai akhir pembicaraan mereka berdua, membuatnya hanya bisa diam seribu bahasa sambil menatap langit - langit ruangan tersebut dengan tatapan kosong dan bersalah.
Dia berpikir, karena dirinya lah sumber dari setiap masalah di keluarga ini muncul. Hampir saja hubungan antara seorang nenek dengan cucunya terpisah gara - gara dirinya.
Dengan perasaan sedih sampai menyesakkan dadanya, Fang Han segera berdiri dan pergi ke tempatnya semula sambil berpura - pura masih menunggu Huli Jin serta Yuanjun.
" Nah ayo.. Kita pergi menemui calon suamimu!? " Ucap Huli Jin kepada Cucunya.
__ADS_1
Yuanjun hanya bisa mengangguk dan tersenyum lembut di depan neneknya. menuruti apa kata neneknya tersebut, adalah keharusan baginya. Dia takut Neneknya akan kembali marah dan tiba - tiba dia pergi menghilang dari kehidupannya.
Yuanjun memiliki sebuah trauma lama yang sangat sulit untuk ia jelaskan.
Yuanjun menggandeng tangan Neneknya sambil berjalan menemui Fang Han kembali.
" Nak cepatlah sapa calon istrimu ini!? " Seru Huli Jin sambil menggandeng lengan Yuanjun.
Fang Han kemudian langsung berdiri, dan menyambut kedatangan Huli Jin serta Yuanjun. Yuanjun hanya bisa tertunduk saat neneknya serta Fang Han saling berpandangan.
Bukanya dia malu atau apapun! Dia hanya malas serta hanya ingin menyembunyikan wajah kesalannya saat menatap wajah Fang Han.
Saat Huli Jin tiba - tiba menggerakkan tangan yang masih di gandeng oleh Yuanjun. Yuanjun langsung tersadar dari lamunanya dan langsung menatap wajah Fang Han sambil berpura - pura tersenyum saat kedua mata mereka saling bertemu.
Dengan cepat Yuanjun langsung melengoskan kembali pandanganya dari Fang Han dan langsung menundukkan wajahnya tersenyum kecut.
" Maaf nak.. Cucu ku ini, memang agak sedikit pemalu." ucap Huli Jin sambil tertawa cengengesan. Huli Jin berpikir Yuanjun masih malu untuk menatap langsung wajah calon suaminya tersebut.
Hari H
Seorang penghulu segera menyuruh kedua pasangan pengantin baru ini untuk bersujud tiga kali terakhir, ke arah orang tua mereka masing - masing.
Malam itu menjadi pesta yang cukup ramai, meski hanya bisa di hadiri keluarga terdekat saja. Huli Jin serta Liem Tou masih menjamu para tamu sesepuh yang menghadiri pernikahan tersebut.
Merasa tubuh serta jiwanya sudah kelelahan, karena terus menahan emosi. Yuanjun langsung meminta ijin untuk beranjak pamit dari hadapan para tamu yang hadir meramaikan pernikahanya.
Dia segera menarik tangan Fang Han dengan kasar sampai memasuki kamar mereka berdua. " Cukup.. Dengarkan aku bisu!? Kau mengertikan dengan ucapanku. Ingat jika kau ingin berkomunikasi dengan ku, gunakanlah sebuah tinta serta kertas." ucap Yuanjun dengan geram.
" Meski kita sudah menjadi suami istri. Selamanya aku tidak Sudi untuk menyerahkan tubuh ku ini! Untuk selamanya kita tidak akan melakukan sebuah kontak fisik." Tambah Yuanjun sambil menatap Fang Han dingin.
__ADS_1
Hati Fang Han seakan tersambar petir mendengar celotehan Yuanjun yang sangat pedas seperti ini, Fang Han sudah tau dan mengerti dia tidak mengharapkan kehadiran ya.
Tapi tidak usah juga, Yuanjun berkata seperti itu juga di hadapanya. Fang Han yang mempunyai sifat yang sabar sedari kecil, hanya bisa bersabar dan tersenyum lembut untuk menjawab cacian Istrinya tersebut.
" Tidurlah di lantai.. Awas jangan pernah mendekatiku sejauh satu meter! Tapi, saat ada Nenek berpura - pura lah kau tak mengingat laranganku ini." imbuh kembali Yuanjun.
Dada Fang Han terasa begitu sesak seakan mau meledak dan kemudian membunuhnya. Dia terus memasang senyum palsunya di depan Istrinya tersebut.
Yuanjun segera memasuki ranjang yang sebenarnya di sediakan untuk mereka berdua. Tapi dia seakan tidak peduli dengan pernikahan yang tidak dia inginkan ini.
Yuanjun berpikir, cukup di depan Neneknya saja dia berpura - pura menjadi seorang istri dari Fang Han. Tapi di belakang Neneknya mana mau dia menikahi atau bahkan hanya sekedar dekat dengan seorang pemuda yang terkenal tidak berguna seperti itu.
Jika mengingat wajah Fang Han yang sok polos itu. Tangan Yuanjun selalu gatal ingin segera menampar wajah B*dohny* tersebut.
Dia segera berbaring dan membalikan tubuhnya untuk membelakangi wajah Fang Han. 'Bencana apa lagi yang akan terjadi setelah ini' Batin Yuanjun, dia masih mendengus kesal jika mengingat sosok Fang Han.
***
Dinginnya angin pagi, membangunkan mata Fang Han yang tidur di atas lantai kamar istrinya tersebut. Dia segera keluar dan membasuh wajahnya.
Fang Han kemudian pergi keruangan tamu dan memberes kan sisa - sisa bekas kekacauan pesta pernikahanya tadi malam dari para tamunya tersebut. Para pembantu serat murid - murid dari Sekte Kalajengking Hitam yang bertugas untuk membersihkan Rumah Patrairk mereka terkejut.
" Sudah lah Tuan.. Biar kami yang saja membereskan sisa - sisa pernikahan ini." Fang Han membalasnya dengan sebuah senyuman.
*Dia berisyarat..
( Sudah.. tidak apa - apa!! )
______________________________________________
__ADS_1
**Jangan Lupa Like untuk Novel baru ini dan juga Vote nya juga..
TERIMA KASIH**