
Hari selanjutnya adalah membawa Aya untuk memilih gaun pernikahannya. Kali ini satu keluarga ikut serta menemaninya. Alasan mereka, tak ada waktu lagi untuk memesan pakaian khusus. Jadi sekalian beli yang sudah jadi saja dan langsung dicoba di butik tersebut.
Satu harian diisi dengan melihat dan mencoba berbagai kebaya yang ditunjukkan oleh pegawai butik.
Kegiatan itu benar-benar menghabiskan waktu satu hari penuh. Aya geleng-geleng kepala. Ternyata, makin banyak model yang ditunjukkan, mereka jadi makin bingung memilihnya. Semua terlihat bagus saat di pasang di manekin. Tapi belum tentu cocok di tubuh masing-masing.
Beberapa bagian masih harus diubah sedikit. Terutama untuk istri Radyit yang perutnya sedikit membuncit karena sedang hamil empat bulan.
Memilih baju eyang, papi dan Radit juga tidak semudah yang dibayangkan. Tubuh papi yang tambun, menyulitkan mencari ukuran yang pas. Jika bertemu ukuran yang pas, maka eyang dan Radit tak menyukai modelnya.
Mencari kebaya untuk mami jauh lebih mudah, Tubuh mami sangat ideal. Dan wajahnya yang ayu, selalu pas jika memakai model dan warna yang mana saja. Aya sedikit iri pada maminya. Selalu berharap bisa secantik mami di usia matang.
*
*
Di kantor Dewa. Pria yang sebelumnya mendapat tugas untuk memeriksa tentang Reynald, menelepon.
"Dari jaring yang saya tebarkan, ada dua orang yang reaksinya sesuai harapan kita," lapornya.
Sebuah file dikirimkannya pada Dewa. Pria itu membaca laporan yang masuk dan mengangguk puas.
"Bagus! Semoga saja memang akan sesuai harapan. Laporkan terus padaku," ujarnya.
"Baik, Bos." Pria di ujung telepon memutuskan panggilannya.
"Bos, kita harus berangkat ke pertemuan!" Luna sang sekretaris mengingatkan Dewa.
"Ya!" Dewa berdiri dan menjangkau jasnya. Lalu ke luar ruangan. Luna mengikuti langkah kaki Dewa yang panjang-panjang. Gadis itu setengah berlari agar tak ketinggalan jauh dari atasannya itu.
*
*
Pagi berikutnya di rumah Gayatri.
__ADS_1
Seorang ibu setengah baya datang ke kamar Aya diantar oleh mami.
Aya melihat sekilas saja sudah tahu. itu Mbok Darmi yang juga telah melulur dan merawat kulitnya di dua kali rencana pernikahan sebelumnya.
"Apa tak ada pelulur lain?" pikir Aya kikuk. Sungguh tak nyaman melihat wanita itu kembali melulur dan merawat tubuhnya, seperti dulu.
Tapi mami sudah membawanya ke kamar. Artinya Aya hanya tinggal diam dan menurut saja. Meski Mbok Darmi sangat pendiam dan tak banyak bicara, siapa yang tahu apa yang dibicarakannya di luar. Aya merasa sangat tak nyaman dan tegang.
Ritual lulur pengantin itu tidak sederhana. Dia akan melakukan ini hingga sehari sebelum pernikahan. Itu tradisi yang diyakini mami akan membahagiakan suaminya nanti.
Gayatri sungguh pasrah. Dia akan melakukan semua rencana yanga sudah dibuat keluarga. Dia akan menjadi gadis baik dan penurut seperti maunya eyang.
Gayatri sangat percaya diri, jika pernikahan ini gagal, maka dia bisa menunjukkan wajah polos dan tanpa dosa yang selama ini menjadi andalannya. Semua kesalahan akan ditanggung oleh Dewa.
"Ah ... sedang apa dia sekarang? Sudah sampai mana perkembangan syaratku?" pikirnya.
"Waktunya hanya tinggal tiga hari lagi. mampu enggak sih dia?" gumamnya.
"Ngomong apa Mbak?" tanya Mbok Darmi.
"Apakah aku mengatakan hal-hal yang aneh tadi?" pikirnya khawatir. Khawatir Mbok Darmi mengadu pada mami apa yang didengarnya.
"Mbok Darmi mendengar apa saja tadi?" tanya Aya dengan pandangan tajam.
"Tidak ada. Tapi Mbak Aya terus merenung, lalu bergumam tak jelas. Makanya Mbok tanya, ngomong apa. Mungkin ada gerakan Mbok yang tak nyaman atau apa?" Geleng wanita itu.
Aya sedikit lega. Dia kembali menelungkup dan membiarkan wanita itu melanjutkan pekerjaannya memijat dan melulur tubuhnya. Aya hanya akan menikmati saja kemanjaan ini. Kalau bukan karena mau menikah, mami gak akan memikirkan sampai sedetail ini.
Siang hari. Baju-baju yang kemaren mereka beli, sudah diantarkan ke rumah oleh kurir. Semua segera mencoba lahi pakaian yang telah dipermak dan disesuaikan tersebut. Kecuali Gayatri. Tubuhnya masih penuh dengan pasta lulur yang sedang sedang dipijat oleh Mbok Darmi. Dia tak mungkin mencoba pakaian apapun dalam keadaan seperti itu.
Menjelang pukul tiga, ritual lulur, pijat dan penguapan untuk Aya, telah selesai. Wajahnya terlihat segar. Tubuhnya bersih dan wangi dupa. Sangat harum. Aya sangat senang. Ini kemewahan yang hanya didapat oleh calon pengantin.
Beberapa saat kemudian datang lagi orang untuk merawat kaki dan kuku-kukunya. Gayatri duduk tenang di dalam kamar. Mami mengajak seorang wanita muda dan cantik masuk ke kamar dengan kotak peralatannya.
"Aya, besok setelah Mbok, Darmi. wajahmu yang akan dirawat," ujar mami tadi. Aya hanya mengangguk. Dua akan menikmati apapun yang direncanakan mami.
__ADS_1
Hatinya merasakan keharuan. Meskipun dia telah dua kali mengecewakan keluarga, tapi mami tetap menyiapkan dengan aturannya sendiri. Perawatan Aya tak akan ditinggalkan hanya karena dirinya sudah mengecewakan keluarga. Kasih sayang mami jelas terlihat saat ini.
Ponselnya berbunyi dengan berisik Aya meraih ponsel dan melihat pemanggil. "Ya, ada apa?" tanyanya.
"Apa begitu caramu bicara pada calon suami?" tegur Dewa dari seberang telepon.
"Sebelum kau memenuhi syarat, maka tidak ada istilah itu dalam kamusku!" jawab Aya dingin.
"Hah! Aku sudah mengirimkan satu hasil padamu. Apa kau belum membaca pesanku?" tanya Dewa.
"Belum sempat. Aku sangat sibuk seharian. Bukan seperti para pengangguran lain yang tak punya kegiatan!" Aya masih mempertahankan nada ketusnya.
"Aku sudah memberimu laporan pertama. Jika tak ada respon, aku tak merasa perlu melanjutkan persyaratanmu!" Suara Dewa juga tak kalah ketus. Sampai Aya sedikit terkejut.
"Apakah dia memang sekasar itu?" pikir Aya.
"Atau, dia kelelahan dan muak dengan semua syarat dan sikapku?" batun Aya.
Tapi kemudia senyuman tersungging di bibirnya. "Jika dia menyerah, maka akan jauh lebih mudah bagiku. Tinggal bilang mami bahwa Dewa tak mampu memenuhi syarat khusus yang kuajukan!" batinnya.
"Mbak Aya mau kukunya pakai warna apa?" Pertanyaan wanita muda cantik petugas meni pedi membuyarkan kesenangan sesaat Aya. Gadis itu mengamati warna-warni cat kuku yang ditunjukkan wanita muda di depannya.
Aya memilih beberapa cat kuku dan asesorisnya untuk dikenakan di hari pernikahan.
Kakinya sudah bersih dan kinclong. Kukunya terawat rapi dan sekarang sudah dicat dengan warna salem berbingkai putih di ujungnya. Dilihatnya jari-jari tangannya yang sekarang berukuran sama, dan dengan keindahan yang sama pula.
Petugas meni pedi menjelaskan pada Aya bagaimana memasang kuku palsu untuk hiasan di hari pernikahan.
"Sekarang sudah sempurna!" ujar petugas itu. Ana mengangguk puas. "Terima kasih!"
"Sama-sama mbak. Saya undur diri dulu," pamit gadis cantik itu.
Hari sudah malam. Aya memilih beristirahat dan merebahkan punggungnya di kasur. Sebuah ponsel ada di tangannya. Dia ingin memeriksa data yang sebelumnya dikirimkan Dewa. Dia sangat ingin tahu apa yang sudah terjadi.
********
__ADS_1