
"Bos, apa Anda tidak akan datang lagi hari ini?" Pria yang menjaga Sandra di gudang tua bertanya lewat telepon.
"Aku sibuk. Jika dia tak ingin buka mulut, maka biarkan saja! Aku tak mau buang-buang waktu mengurusnya!" ketus Arjuna.
"Dia mogok makan, Bos!" lapor pria itu lagi.
"Jangan tertipu dengan aksinya. Biarkan dia mau melakukan apa. Itu pilihannya sendiri!" suara Arjuna meninggi.
"Baik, Bos." Penjaga itu mengalah dan sambungan telepon itu pun terputus.
"Merepotkan saja!" Arjuna masih merasa kesal dan moodnya terganggu. Diambilnya jas dan berdiri.
"Setelah pekerjaanmu selesai, kau bisa pulang!" kata Arjuna sambil lalu.
"Siap, Bos!" sahut Luna. Diliriknya jam di dinding. "Masih pukul empat sore. Bos mau pergi ke mana sore-sore begini?" gumamnya heran.
Tapi kemudian gadis itu menggeleng. Sejak hilangnya Gayatri, Arjuna memang jadi gelisah dan makin gelisah dari waktu ke waktu.
Dulu Bosnya itu sangat Galak, dingin, ketus dan kasar serta maunya menang sendiri. Akan tetapi, sekarang berbeda. "Hilangnya Bu Aya, membawa perubahan besar pada Bos Arjuna." Luna menyimpulkan.
*
*
Arjuna menyetir dengan pikiran bercabang. Dia tak memperhatikan ke mana arah mobil dijalankan. Beberapa jam kemudian barulah pria itu tersadar, setelah mobil itu benar-benar berhenti.
"Kenapa aku bisa sampai di pekuburan?" pikirnya keheranan. Dia ingin memundurkan mobil untuk keluar dari sana, saat menyadari bahwa Dewa di makamkan di tempat pemakaman itu.
"Apa kau merindukanku?" lirihnya dan membuang napas kasar. Mobil dimatikan dan Arjuna turun dari sana.
"Aku tak membawa bunga untukmu," katanya, seakan Dewa sedang berjalan di sampingnya.
Dibersihkannya makam yang rumputnya belum tumbuh sempurna. "Aku tak bisa mengajak Aya ke sini. Dia diculik orang sejak lima bulan yang lalu," adunya.
"Kuharap masih bisa menemukannya dengan selamat," tambahnya lagi. Kali ini nada suaranya mulai sendu.
"Aku janji akan bersikap baik padanya, jika dia bisa kutemukan. Kau harus percaya janjiku. Kau sangat tahu kalau aku selalu menepati janji padamu, kan," ujarnya lagi.
"Maafkan aku, Dewa. Tak bisa menjaga wanita kesayanganmu itu dengan baik. Kau bisa menyalahkan aku nanti, kalau tak senang. Sekarang, tolong jaga dia selama aku belum menemukannya. Please ...."
Langit sudah rembang petang, saat Arjuna berdiri dari sisi makam Dewa. Kakinya kebas karena sudah satu jam jongkok di situ. Namun, hatinya merasa sedikit lega setelah curhat di depan makam Dewa.
__ADS_1
Langkah kakinya terseok saat berjalan menuju mobil.
"Tunggu!" Seseorang memanggil Arjuna.
Pria muda itu berbalik dan melihat ke kanan-kiri. Kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Bapak memanggil saya?" tanya Arjuna.
Pria itu mengangguk, membenarkan. "Apa hubunganmu dengan pria di makam itu?" tanya pria itu ingin tahu. Terlihat jelas bahwa dia sangat ingin tahu.
Arjuna ingin sekali bersikap ketus seperti biasa. Namun, mengingat Aya, dia berusaha bersikap lebih sopan. "Saya saudara kembarnya!" jawab Arjuna jujur. Dia berharap, dengan pembicaraan ini, lokasi Aya bisa menemukan titik terang.
"Benarkah?" pria itu terkejut dan sedikit tak percaya.
Arjuna tak peduli dan berbalik. "Bapak bertanya, saya sudah jawab. Permisi!" Arjuna melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Tidak. Tunggu! Ada hal yang ingin saya katakan padamu!" ujar pria berambut kelabu itu sambil membuntuti Arjuna dari belakang.
"Apa Dewa punya hutang yang belum dibayar?" Arjuna mengeluarkan kartu namanya. Datanglah ke kantorku besok dan akan kubayar semua utangnya!" jawab Arjuna tegas.
"Apa?" Pria tua itu kembali terkejut dengan respon Arjuna.
"Tidak, bukan itu. Saya justru ingin menyerahkan apa yang dulu pernah dititipkan Arjuna pada saya, untuk disimpan," ujar pria itu jujur.
"Menurut saya, itu adalah hal yang penting yang mungkin sangat ingin disembunyikannya agar tak seorangpun yang mengetahui." Pria itu mengangguk dengan sangat yakin.
Arjuna tercenung dan berpikir cepat. Kemungkinan pendapat orang tua itu juga benar. Sepenting apa hal yang disimpan Dewa, hingga seorang Arjuna juga tak boleh melihatnya?" pikirnya dengan rasa penasaran.
"Bagaimana saya bisa mendapatkannya?" tanya Arjuna. Apa bapak ingin bukti tentang kami? Apa perlu bapak dan ibu dibawa untuk membuktikan bahwa saya adlah saudara kembarnya?" tanya Arjuna.
"Tak perlu!" Pria itu menggoyangkan tangannya tanda hal itu memang tidak diperlukan.
"Melihat wajah anda saja, saya sudah merasa bahwa Anda adalah keluarga Dewa. Apa lagi tadi saya melihat Anda jongkok berdoa sangat lama di sana," kata orang itu.
Arjuna merasa sedikit malu dan tersindir. Dia bukannya berdoa di makam, tapi justru curhat melepaskan semua beban hatinya di depan makam Dewa.
"Sekarang sudah hampir malam. Besok saya bawa barang itu ke kantor anda saja," ujar pria itu setelah melihat situasi.
"Apakah rumah bapak jauh? Saya bisa menjemputnya sekarang," tawar Arjuna. Dia sudah sangat penasaran. Bagaimana bisa menunggu hingga esok hari lagi?
"Kalau tidak keberatan atau merepotkan, ya tidak apa-apa sekarang. Ayo!" Pria tua itu berjalan di depan dan menuju mobilnya.
"Saya akan ikuti mobil bapak," putus Arjuna cepat.
__ADS_1
"Ya, lebih baik seperti itu." Pria itu mengangguk dan menaiki mobilnya sendiri. "Akan tetapi, kita akan mampir di mesjid, untuk sholat magrib dulu."
Pria itu memberi tahu rencananya. Arjuna mengangguk setuju saja. Sekedar menunggu orang sholat, tak ada apa-apanya dibanding dengan rasa penasarannya tentang rahasia Dewa.
"Apa sih yang dirahasiakan Dewa sebenarnya?" Arjuna sangat penasaran dan mulai merasa kesal pada Dewa yang tidak mempercayainya untuk menyimpan rahasia yang mungkin sangat besar itu.
"Apa kau sudah menikah?" tuduh Arjuna sambil terus menyetir.
"Atau kau punya anak haram?" tebaknya lagi asal-asalan. Tapi kemudian dia menggeleng sendiri, menolak dugaan seperti itu.
"Kau terlalu baik untuk jadi seorang Don Juan!" Arjuna terkekeh geli.
Mobil di depannya memasuki satu kompleks perumahan sederhana. Namun, sepertinya kompleks itu sudah cukup lama berdiri. Rumah-rumahnya sudah sangat berbeda dengan rumah kompleks yang seragam Semua rumah di situ bentuknya berbeda dan beraneka rupa. Bahkan ada pula yang terlihat sangat tua akibat tak pernah dicat ulang.
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua sederhana dengan cat putih kombinasi abu dan kuning. Kehijauan pohon mangga di depan rumah itu, memberi kesan adem dan tenang secara keseluruhan.
"Ayo masuk!" ajak pria itu setelah Arjuna turun dari mobil dan berdiri di depan pintu pagar yang terbuka lebar.
Pria muda itu mengangguk dan berjalan di samping mobil pria tua yang diparkir di carport.
"Assalamu'alaikum," ujar pria itu di depan pintu.
"Wa'alaikum salam," sahut suara wanita dari dalam.
Terdengar suara kunci diputar dan pintu dibuka. "Bapak sudah pulang? Ziarah saja kok lama sekali," tegur suara di dalam.
"Hush. Saya membawa tamu," ujarnya menegur wanita di dalam. Arjuna belum melihat siapa wanita yang ada di balik pintu itu.
Wanita itu menjulurkan kepalanya untuk melihat orang di belakang punggung pria tua itu.
"Dewa!" pekiknya terkejut.
Arjuna bisa ingat betapa wanita paroh baya itu melotot sekaligus takut saat melihatnya berdiri di belakang si pria.
"Dia bukan Dewa tapi saudara kembarnya!" Pria itu meluruskan.
"Mari masuk!" ajaknya sopan.
Arjuna mengangguk dan mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah.
******
__ADS_1