PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
Bab 44. Hukuman Direktur


__ADS_3

Tanpa menunggu Arjuna keluar dari kamar mandi, Aya sudah menghilang. Dia segera memanggil taksi saat tiba di pintu keluar. Dan menghilang dari sana.


"Dit, apakah orang rumah kecarian lagi tadi malam?" tanya Aya lewat telepon.


"Gimana sih, Mbak. Minta aku jemput, tapi kok malah enggak ada. Mbak Aya tidur di mana tadi malam?" tanya Radit dengan suara khawatir.


"Apartemen Dewa!" sahut Aya cepat.


"Mestinya bilang dong! Jadi aku tak perlu berputar-putar seperti orang gila!" Radit masih marah.


"Maaf ya. Terus gimana mami dan papi?" tanya Aya khawatir.


"Mami dan papi menginap di tempat Eyang. Mungkin lagi membujuk Eyang untuk kembali," jelas Radit.


"Oh ... syukurlah." Aya merasa lega. Tak harus berbohong pada kedua orang tuanya.


"Sekarang perlu dijemput, tidak?" Radit menghentikan pikiran Aya yang melayang.


"Enggak usah. Aku sudah naik taksi pulang," jawab Aya.


"Ya sudah kalau begitu." Sambungan telepon itu diputuskan.


"Aku akan meminta pertanggung jawaban atas tindakan mereka tadi malam. Jahat sekali. Gara-gara mereka, aku kehilangan milikku yang paling berharga!" geramnya menahan amarah.


"Si Arjuna brengsek itu, dia justru memanfaatkan keadaan saat aku tidak menyadari apa yang terjadi. Dia juga sama jahatnya dengan mereka. Memanfaatkan situasiku yang sedang terjepit!" batinnya muak.


*


*


"Kau di mana!"


Pesan masuk dari Desta menyapa Aya yang sedang cemas karena terlambat ke kantor hari itu. Dia sedang me-reka alasan yang masuk akal untuk dikatakan pada Desta.


"Apa kau tahu, sudah membuat keributan di pagi hari? Seluruh anggota timku di pecat oleh direktur!"


Aya terkejut membaca pesan kedua dari Desta. "Dipecat? Mereka dipecat? Siapa yang melakukannya? Aya justru ingin melaporkan teman-temannya itu ke polisi.


"Sekarang mereka sudah dipecat. Kok enak sekali!" geramnya marah.


"Siapa yang melaporkan mereka?" tanya Aya.


"Calon suamimu!" balasan pesan dari Desta masuk dengan cepat.


"Arjuna?" pikirnya tak percaya. Pria itu melaporkan rekan-rekan kerjanya dan mereka semua langsung dipecat.

__ADS_1


"Apa dia punya hubungan baik dengan direktur perusahaan tempatku bekerja?" batin Aya.


Sekarang dirinya lesu. Dia pindah kerja untuk menjauh dari pandangan dan pengawasan pria brengsek itu. Tapi sekarang ... dia sudah mengetahui tempat persembunyiannya.


DIrekturnya mungkin akan menaruh perhatian berlebihan padanya. Aya tak terlalu menyukai hal seperti itu. Dia ingin bekerja dengan kemampuannya sendiri.


Sesampai di kantor, Aya bisa merasakan pandangan semua orang tertuju padanya, sejak melewati resepsionis.


Tiba-tiba Desta berjalan cepat ke arahnya. "Ikut denganku!" ujarnya dengan wajah suram.


Aya mengikutinya menuju lantai lain, melewati tangga putar. Itu ruangan direktur utama. Kali ini Aya siap apapun yang terjadi. Bahkan jika dia juga dipecat karena dianggap sebagai penyebab pemecatan massal teman-temannya. Dia akan menceritakan hal yang sebenarnya, sesuai ingatan.


Desta memberi tahu sekretaris bahwa dia telah datang bersama dengan Aya. Sekretaris itu segera memberitahukan direktur tentang kedatangan Aya dan Desta pada direktur.


"Bawa masuk!" Aya dapat mendengar suara direktur dari balik gagang interkom.


Sekretaris berdiri dan membukakan pintu, kemudian mempersilakan Aya dan Desta masukk ke dalam.


Desta masuk diikuti Aya. Gadis itu terkejut melihat direktur dan Arjuna duduk di sofa tamu dan sedang berbincang akrab. Hatinya mencelos. Dia merasa keluar dari pengawasan singa, tapi masuk ke dalam pengawasan cctv si singa.


Good bye kebebasan!" ujarnya dalam hati.


"Selamat pagi, pak," sapa Aya. Kepalanya sedikit membungkuk.


Gadis itu merasa kikuk dan tak enak hati dengan Desta yang hanya bisa menunduk. Kepala Divisi itu bahkan tak disapa sama sekali.


"Saya---"


"Dia ingin kebebasan. Di perusahaanku, dia bahkan menjabat sebagai direktur keuangan!" Arjuna memotong ucapan Aya.


"Maafkan aku yang tak bisa melihat kemampuan seorang direktur, dan malah menempatkanmu sebgai staf divisi biasa," pria itu berkata penuh penyesalan.


"Salahnya yang tak mau menggunakan fasilitas yang bisa saja didapatkannya, jika mau. "Ayahnya juga bisa memberinya posisi di perusahaan andai dia bersedia." Arjuna masih belum mau berhenti menekan temannya dan Desta yang menjadi atasan Aya.


"Mari duduk dulu. Pak Desta, anda bisa kembali." Direktur itu mencoba mendinginkan kemarahan Arjuna dengan bijak.


"Baik!" Desta mundur teratur. Hatinya lega, ketimbang harus mendengarkan ocehan-ocehan pria sombong yang ternyata tunangan Gayatri.


"Maaf Aya, aku sungguh tidak mengetahui bahwa ada karyawan di kantorku yang berhati busuk seperti rekan-rekan satu timmu itu. Tapi kami sudah memecat mereka, kau jangan khawatir." Direktur mempersilakan Aya duduk.


"Aku sebenarnya ingin melaporkan mereka ke polisi." Aya langsung mengutarakan keinginannya. Arjuna dan direktur saling pandang.


"Jika tidak mendapat hukuman yang benar, maka mereka akan mengulangi lagi kejahatan itu di tempat kerja mereka yang baru!" tambah Aya.


"Aku akan mengantarmu ke kantor polisi, kalau begitu." Arjuna menegakkan duduknya, siap untuk berangkat.

__ADS_1


Aya menoleh padanya. Sejak masuk tadi, dia tak menyapa Arjuna sedikitpun. Meski pria itu juga mengambil keuntungan darinya, tapi saat ini dia memang butuh sekutu. Pria yang paling mengetahui siapa yang membawa Aya pergi melewati kamar-kamar hotel.


Aya mengangguk. "Apa boleh saya minta ijin satu hari, Pak?" Aya bertanya dengan sopan pada direktur.


"Tentu saja. Bereskan dulu urusan ini, agar kau bisa bekerja dengan tenang," sahut direktur.


"Bagaimana dengan Kepala Divisi itu? Menurutku, dia juga harus diberi peringatan. Karena seluruh bawahannya kompak menjebak Gayatri."


Tampaknya Arjuna masih belum puas dengan apa yang diputuskan oleh sahabatnya itu.


"Aku akan mempertimbangkannya lebih dulu." Direktur itu tidak begitu saja menerima permintaan Arjuna.


"Pak Desta tidak tahu sama sekali rencana pergi ke karaoke kemarin," jelas Aya.


"Kau membelanya heh? Apa kau menyukainya?" Mata Arjuna berkilat marah. "Jika dia berani menatap wanitaku lebih dari satu detik, aku akan mencungkil matanya!" ancamnya untuk menunjukkan kepemilikannya.


"Kau kurang waras!" sergah Aya sebal.


"Antarkan aku ke kantor polisi!" ajaknya cepat, sebelum Arjuna membalas kata-katanya tadi.


"Yah, sebaiknya kalian segera pergi melapor, sebelum mereka menghilang atau melarikan diri." Direktur mendukung Aya. Dia juga merasa tak nyaman terus didesak Arjuna untuk memecat Desta sebagai bentuk tanggung jawab kepala divisi itu.


"Ayolah kalau begitu." Arjuna berdiri, disusul direktur. Keduanya saling bersalaman dan Arjuna berjalan mendahului Aya keluar ruangan.


"Permisi, Pak." Aya berpamitan dan sedikit membungkuk.


Semua mata kembali memandang saat keduanya keluar dari ruang direktur dan melewati meja-meja para staf.


"Kau membuatku seketika dikenal oleh orang satu kantor. Sekarang mereka akan membenciku!" desis Aya.


Mendengar hal itu, Arjuna membalikkan badan dan melihat ke sekeliling. Dia tetap berdiri di tempatnya dan memandang tajam pada mata-mata yang menatap Aya, hingga mereka berpaling.


"Mereka sudah tidak memperhatikanmu lagi," ujarnya cuek, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Kau memelototi mereka seperti hantu!" balas Aya pedas.


"Andai saja kau segalak ini tadi malam, maka pria itu tak akan memanfaatkanmu!" ejek Arjuna.


"Kau! Kau juga memanfaatkan ketidak berdayaanku! Aku juga akan melaporkanmu pada polisi!" ancam Aya muak.


Arjuna tertawa terbahak-bahak. "Mereka tak akan mepercayaimu! Dan sekali mereka tak percaya, maka tuntutanmu yang lain juga akan diragukan!" jawabnya dengan cerdas.


Aya terdiam. Memang sulit untuk menuntut Arjuna. Selain bahwa dia sendiri yang menganggapnya sebagai Dewa, suaminya, tak ada juga saksi yang melihat Arjuna memaksanya melakukan apapun yang terjadi tadi malam. Menyadari hal itu, Aya justru makin bertambah gondok.


******

__ADS_1


__ADS_2