PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
53. Sandra


__ADS_3

Seminggu berlalu. Namun Gayatri masih belum ditemukan juga. Keluarga sudah melakukan banyak hal untuk menemukan jejak wanita muda itu.


Membuat berita kehilangan di televisi serta media sosial. Berharap siapapun yang melihatnya dapat segera menghubungi polisi ataupun keluarganya.


Mami terus menangis dan murung sejak hari itu. Selalu berdoa agar Aya tetap dalam perlindungan Allah.


Arjuna mulai merasaka kekosongan di hatinya sejak kepergian Aya. Mood nya dapat berubah dengan cepat jika ada yang tak disenanginya.


*


*****


"Maaf, Mbak. Anda tidak bisa bertemu Pak Arjuna jika tidak membuat janji lebih dulu."


Luna yang kembali dari toilet, mendengar resepsionis menolak seorang tamu. Ia melanjutkan langkah kembali ke ruangannya.


"Mbak Luna! Mbak ingat saya kan? Saya Sandra, pacar Arjuna. Waktu itu pernah ke sini dan dipergoki istri adiknya," jelas wanita cantik bermakeup tebal.


"Lalu?" Luna tak beranjak. Dia sedang malas meladeni siapapun hari itu. Sejak pagi Arjuna sudah membuatnya senewen.


"Berarti kan yang saya katakan benar. Saya kenal dengan Arjuna. Masa pacarnya masih butuh ijin untuk datang?" tayanya pura-pura tak mengerti prosedur kantor.

__ADS_1


"Sayangnya, Pak Arjuna sudah punya istri!" Luna berjalan meninggalkan wanita itu dengan jawaban paling menyakitkan.


Wajah gadis itu lagsung memerah karena malu. "Tapi saya sedang hamil putranya!" teriaknya dengan suara melengking. Memastikan siapapun mendengar informasi itu.


Langkah yang diambilnya benar-benar sudah diperhitungkan dengan matang. Dia tak dapat menemui Arjuna di rumah. Pria itu sudah menolak dan tidak mengakui anak yang sedang dikandungnya. Jadi dipastikannya agar seisi kantor itu tahu apa yang sudah terjadi.


Setelah rasa terkejutnya hilang, Luna membalikkan badan. Matanya menatap wanita itu dengan ekspresi tak terbaca. "Kalau memang sedekat itu, kenapa tidak telepon Pak Bos, agar mendapat ijin masuk? Tanpa ijin darinya, bahkan meskipun anda membawa bayi, tetap tidak bisa masuk!"


"Maaf Bu, bukan ingin mempersulit. Namun, itu sudah SOP di kantor ini. Ibu tinggal hubungi Pak Bos saja. Setelah itu, bisa masuk kok." Resepsionis mendapatkan kembali kesadarannya.


"Huh! Awas kalian semua. Saat aku sudah menjadi Nyonya Arjuna, kupastikan kalian berdua dipecat!" hardiknya emosi.


Dicobanya menghubungi Arjuna dengan ponsel. Namun, terus saja mendapatkan nada sibuk.


Sepuluh menit kemudian, Sarah, wanita cantik tadi melenggang masuk ke ruangan Luna dengan dagu terangkat penuh kemenangan. Mau tak mau gadis itu mendongakkan kepala dan memberikan senyum terbaiknya pada tamu.


"Apa kubilang. Dia mengangkat telepon dan mengijinkanku masuk, kok," ujarnya angkuh.


"Baik, silakan duduk dulu, Bu. Jika sudah dipanggil, bisa masuk," jawab Luna ramah.


Wanita itu duduk di kursi tamu dengan kepala tegak. Dia ingin mengintimidasi Luna, dengan bergaya seperti seorang wanita yang penting dari direktur kantor itu.

__ADS_1


Luna memanggil OB untuk melayani tamunya. "Saya sudah beri tahu Bos kalau Anda sedang menunggu," ujar Luna memberi tahu.


"Sebaiknya begitu. Saya tak suka duduk menunggu terlalu lama."


Mendengar nada sombong seperti tu, Luna hanya tersenyum dan mengangguk. Diteruskannya pekerjaan tanpa mempedulikan lagi kehadiran tamunya.


Satu jam dilewati Luna dengan perasaan gondok. Wanita itu terus saja mengganggunya setiap lima menit. Pertanyaannya selalu sama. "Kenapa Arjuna lama sekali?"


Wanita itu sudah tak bisa lagi menahan sabar. Dia sudah kelelahan duduk menunggu selama satu jam. Dia berdiri dan berjalan menuju ruangan Arjuna yang ada tulisan Direktur di depan pintunya.


"Bu!" Luna yang kaget dengan kenekatan wanita itu, segera berdiri dari duduknya dan menyusul.


Pintu ruangan itu sudah terbuka. Sandra terbengong melihat ruangan itu kosong melompong. "Di mana dia?" tanyanya murka.


"Pak Bos sedang ada urusana ke luar kota, Bu," jawab Luna cepat.


"Apa?" Mata Sandra seperti hendak lompat dari tempatnya. Dia sangat marah karena merasa sedang dipermainkan.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau dia tak ada dikantor!" bentaknya.


"Ibu tidak bertanya," jawab Luna dengan tampang menyesal.

__ADS_1


******


__ADS_2