PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
22. Menunggu Jemputan Dewa


__ADS_3

"Pagi ini kau akan kuantar ke rumah orang tuamu. Bereskan barang-barang yang ingin kau bawa ke sini. Siang kujemput!" kata Dewa tak mau dibantah.


Aya juga sudah kehilangan minat untuk mendebat pria itu. Bagaimana pun Dewa memang tak bersalah. Tak mungkin pula dia terus menyalahkan, setelah mengetahui bahwa pria lain lah yang dilihatnya saat itu.


"Tapi kau belum menceritakan apa pun tentang dia, padaku." Gayatri menagih janji Dewa tadi malam.


"Pagi ini aku sibuk. Kau pun sibuk. Jadi nanti malam baru kita bahas," jawab Dewa cepat.


"Jika nanti malam kau sibuk juga, maka bisa diundur lagi pada malam berikutnya!" ujar Aya ketus.


"Kau harus merubah cara pandangmu pada orang lain. Jangan semua orang kau nilai negatif tanpa melihat secara keseluruhan. Itu tak adil untuk orang lain."


Aya hanya cemberut dan tak meladeni ocehan Dewa. Pria itu juga tak melanjutkan kata-katanya. Dia menyetir mobil dengan serius dan menyalakan musik untuk mengikis suasana canggung di antara mereka.


Sampai di gerbang rumah orang tua Aya, Dewa tidak ikut turun lagi. Dia hanya menurunkan gadis itu dan mengingatkan bahwa akan menjemput kembali siang nanti.


"Iya. Aku ingat! Bawel banget sih?" Aya turun dengan cemberut sambil membanting pintu.


Dewa menghembuskan napas melihat sikap istrinya. Dia membawa mobilnya pergi dari sana.


"Mana Dewa?" Mata mami celingukan ke halaman saat membuka pintu untuk Aya.


"Enggak mampir tuh!" sahut Aya santai. Dia melewati mami begitu saja.


"Kalian bertengkar lagi? Apa dia tidak menjelaskan siapa orang yang kita lihat di kantor itu?" kejar mami mengikuti Aya yang melenggang ke kamar.


"Arjuna? Kemarin kami ke rumahnya," jawab Aya. Dia masuk ke kamar dan menarik koper serta membukanya di atas kasur.


"Ini koper buat apa? Kamu mau kabur lagi?" Mata mami membesar dan melihatnya dengan terkejut.


"Ih mami. Dewa memaksa Aya kembali ke apartemen!" sungut gadis itu.

__ADS_1


"Eh?" Mami terdiam sejenak. Kemudian senyumnya mekar. "Bagus ... bagus! Bereskan baju-bajumu dan bawa ke sana. Kalau masih ada yang tak muat di koper, masukkan kardus saja. Nanti diantarin sama Radit!" usul mami cepat.


"Dewa jemput nanti siang," jelas Aya sambil menata baju-bajunya.


Senyuman mami makin lebar mendengar penjelasan itu. "Yo wes. Bereskanlah. Ntar mami siapin makan siang yang enak.


"Mami mau masak apa?" tanya Aya tertarik.


"Gudeg dan sambal krecek!" Mami ngeloyor pergi dengan cepat.


"Itu sih kesukaan papi!" sungut Aya yang merasa terkecoh dengan kata-kata mami.


Jam dua belas siang, Dewa belum muncul. Aya masih menikmati makan siangnya dengan santai.


Dia masih tetap santai biarpun jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Dan Dewa masih juga belum datang menjemputnya. Yang sewot dan mondar-mandir di ruang tengah dan ruang tamu justru mami.


"Kamu yakin tidak membuat kesalahan lagi sama Dewa?" tanyanya entah sudah berapa kali.


"Cobalah hubungi! Tanya, di mana dia sekarang. Kalau ada halangan, kan harusnya memberi tahu!" desak mami tak sabar.


"Biarin aja sih, Mi. Ntar dia udah punya waktu luang juga pasti langsung jemput ke sini!" tolak Aya. Dia tak mau membuat Dewa jadi besar kepala dan merasa dibutuhkan.


"Kamu enggak merasa khawatir kalau suamimu terlambat pulang?" tanya mami heran.


"Enggak tuh!" jawab Aya santai. Dia malah membuka siaran televisi dan mengganti-ganti chanel yang menurutnya tidak menarik.


"Aya mau tidur sebentar. Kalau Dewa datang, baru bangunin," pesannya.


Istri Radit mengangguk mengiyakan. Dibiarkannya Aya melenggang kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Mami terlihat tidak puas melihat reaksi putrinya yang cuek dan biasa-biasa saja. Dia duduk di sebelah istri Radit yang tengah menonton televisi.

__ADS_1


"Menurutmu, mereka sudah berhubungan belum sih?" tanya mami sambil menyentuhkan kedua jari telunjuknya pada istri Radit untuk menegaskan maksud perkataannya tadi.


Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekepoan ibu mertuanya itu.


"Belum?" mami terlonjak kaget melihat gelengan kepala menantunya.


"Belum apa, Mi? tanya wanita itu bingung.


"Lah, itu tadi kamu geleng-geleng kepala, bukannya jawaban pertanyaan mami?" selidik mami.


"Bukaaann ...." bantah menantunya.


"Terus kenapa menggeleng-geleng tadi?" tanya mami ingin tahu.


"Ada nyamuk nyanyi di telingaku, tadi." Wanita itu mengelak untuk mengungkap hal yang sebenarnya.


"Ish! Bikin mami jantungan aja!"


Kedua wanita itu duduk santai menikmati acara tivi siang hari.


Acara gossip artis yang mereka tonton tiba-tiba dipotong oleh breaking News. Dan mata kedua wanita itu melotot apa yang terpampang di televisi mereka yang lebar itu.


"Ayaaaa!" Suara teriakan mami sudah dengan nada panggilan paling tinggi. Wajah kedua wanita itu terlihat shock.


"Apa sih teria-teriak?" tanya Aya yang berdiri limbung di depan pintu kamarnya. Dia baru saja tertidur, saat mendengar teriakan dua orang yang ditinggalkannya barusan.


"Lihat! Cepat!" Mami menarik tangan Aya dengan tak sabar. Kemudian menunjuk ke arah televisi.


Dengan mata setengah terpejam, dilihatnya acara tivi yang ditunjukkan mami.


Tak lama kemudian, Matanya juga ikutan membelalak selebar-lebarnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan ...." desisnya terkejut.


__ADS_2