
"Jangan cemberut terus. Nanti calon suamimu malah mengira kau sudah tua!" tegur mami saat mendandani Aya.
"Biarkan saja! Biar dia batalkan rencana ini." sahut gadis itu tak peduli.
"Itu tak mungkin. Meski dia kasar di luar, tapi dia sangat tahu bahwa wasiat harus dilaksanakan!" sergah mami.
"Hah! Apa mami percaya bahwa dia benar-benar murni memenuhi wasiat? Mungkin saja dia sedang mengumpulkan koleksi wanita. Atau membuat sebuah alibi!" tuduh Aya.
"Imajinasimu boleh juga. Alibi untuk apa hingga dia mesti menerimamu sebagai istri?" Papi masuk ke ruangan dan nimbrung dalam percakapan keduanya.
"Dengan status pria menikah, maka gelar pria hidung belang bisa dikikis pelan-pelan kan." Suara Gayatri sangat sinis.
Papi menggeleng melihat sikap putrinya yang terkenal sangat keras kepala itu.
"Terserah asumsimu apa. Tapi segera selesaikan dandanannya. Sebentar lagi mereka akan datang." Papi mengingatkan.
"Tuan, keluarga Tuan Dewa sudah sampai."
Seorang art menyampaikan informasi itu ke kamar Aya. Papi mengangguk kemudian menoleh ke arah mami.
"Segera selesaikan dan keluar! Tak baik membiarkan tamu tanpa penyambutan yang selayaknya." Papi keluar dari kamar Aya.
"Ayo, cepat." Mami menyelesaikan pekerjaan mendandani putri semata wayangnya. Kemudian berdiri dan membereskan alat make up.
"Kau bersiaplah. Mami menerima tamu dulu. Selesaikan apa yang menurutmu masih kurang pas."
Mami pergi meninggalkan Aya sendiri di kamar. Gadis itu masih memasang ekspresi wajah yang ditekuk seribu. Dia memperhatikan ekspresinya itu di cermin.
Sebuah ide jahil, muncul di kepalanya. Dengan cepat diraihnya pensil alis di alat make up mami. Dia menggambar lagi alisnya dengan garis tegas.
Kemudian menambahkan eye shadow warna abu-abu tua dan hitam. Lipstik merah merona seperti darah, menghiasi bibirnya. Dia bahkan masih menambahkan pensil kecoklatan untuk mengguratkan lekuk bentuk bibirnya.
Tak lupa blush on merah menyala dipulas ke pipinya yang mulus.
__ADS_1
"Sempurna!" ujarnya dengan penuh kekaguman pada kejeniusannya.
"Sudah mirip Judge Bao apa belum nih?" Aya bicara sendiri sambil menoleh ke kanan dan kiri di depan cermin.
"Mbak Aya, dipanggil Eyang untuk datang ke ruang tamu!" Seorang art mengetuk pintu sebelum memberi kabar itu.
"Ya!" sahut Aya cepat. Namun dia masih memilih tetap diam di bangkunya untuk beberapa waktu.
"Mbak!" panggil art tadi.
"Iyyyaaa!" sahut Aya dengan nada suara meninggi. Lalu gadis itu berdiri dan perlahan membalikkan badan menghadap ke pintu.
"Ahh!" art tadi memekik kecil. Matanya melotot tak percaya, sementara bibirnya terbuka karena terkejut.
"Aku yakin kau sangat terpukau padaku. Makanya sampai tak bisa berkata-kata, kan?" Aya nyerocos tak peduli. Kemudian melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
Art itu membekap mulutnya sendiri, agar jangan sampai suara tawanya meledak. Dia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol putri pemilik rumah.
"Mbak Aya, bener-bener tak takut kena amarah Eyang," batinnya dalam hati.
"Selamat sore semuanya!" sapa Aya ramah. Keramahan yang memukau semua orang, hingga mulut mereka ternganga tak percaya.
"Apakah saya sudah cukup cantik hari ini?" tanya Aya tanpa malu.
Wajah Eyang merah padam. Namun bibirnya terkunci rapat melihat kelakuan cucu perempuannya ini. Tangan papi memberi kode. Mami segera bangkit dan menyeret tangan Aya kembali ke kamar.
Tak ada yang mengeluarkan suara dalam detik-detik itu. Semua orang yang melihat penampilan Aya sore itu, benar-benar melihat sebuah kejutan besar. Mereka sangat terpukau hingga lupa untuk berkata-kata.
Tapi tak lama. Sihir yang ditebarkan Aya tadi hanya berfungsi dua menit. Di menit ke tiga, ruang tamu seakan dipenuhi oleh satu koloni lebah. Suara semua orang berdengung. Mereka saling bicara berbisik satu sama lain.
Eyang menunduk. Dia jelas kecewa melihat penampilan Aya tadi. Cucunya itu menunjukkan sikap protes secara terang-terangan. Dia bahkan tidak lagi malu membuat penampilannya seperti badut di hadapan keluarga Dewa dan Arjuna.
Papi berdiri dan membungkuk meminta maaf pada para tamu, atas kelakuan konyol putrinya. "Maafkan Aya. Dia sedang stress," jelas papi, membela apa yang dilakukan putrinya tadi.
__ADS_1
"Jika dia tak mau memenuhi wasiat Dewa, maka kami tak akan memaksa. Hal itu urusan dia sendiri dengan yang di atas!" Ayah Arjuna menimpali.
"Kami mohon dimaafkan. Kami akan mendidiknya lebih ketat lagi," janji papi dengan suara lemah. Dia harus menelan harga dirinya karena ulah Aya.
"Apa yang kau lakukan!" Bentakan mami teredam dalam kamar tertutup. Tapi bukan berarti Aya akan lolos begitu saja. Mami, papi dan eyangnya masih menyimpan kemarahan di dalam hati mereka sekarang ini.
"Apa kau sangat ingin membunuh papi? Kau ingin mepermalukan Eyang, papi dan mami?"
Aya menggeleng kaku. Matanya masih menyorotkan tekad kuat untuk memberontak dengan perkawinan yang terus diatur seperti ini.
"Tapi, pemberontakanmu ini, telah menjatuhkan harga diri kita di hadapan besan! Sekarang kita tak punya daya tawar lagi. Kau sendiri yang menghancurkan kesempatan terakhir untuk tawar menawar waktu pernikahanmu dengan Arjuna!"
Kekecewaan dan keletihan tecetak jelas di dahi dan sudut mulut mami. Aya tertegun, mami terlihat sangat tua sekarang.
"Apakah aku yang membuat mereka jadi cepat tua?" batinnya.
Terbersit rasa bersalah di hatinya. "Kenapa aku terlalu kekanakan?" sesalnya. Air matanya menetes perlahan. Dengan segera dibersihkannya wajah. Dia bahkan sampai pergi mencuci muka ke kamar mandi, agar semua jejak make up serampangan tadi, segera hilang dari wajahnya.
"Maafkan Aya, Mi." Gayatri meraih tangan mami yang menangkup di kedua pahanya. Wanita yang sangat dikasihinya itu, masih terus menunduk dan meneteskan air mata ke pangkuannya.
Hati Aya menjadi perih seperti diiris-iris, melihat mami menangis dalam diamnya. Bahunya jatuh. Aura ayunya lenyap seketika. Mami seketika terlihat seperti umumnya ibu-ibu paruh baya yang amat sangat kecewa pada polah anaknya.
"Maafin Aya, Mi. Aya merasa bodoh, merasa bersalah." Kepalanya diletakkan diatas pangkuan mami. Pipinya menerima jatuhnya deraian air mata mami. Hatinya terasa disayat sembilu.
"Aya sungguh bodoh. Tak tahu kalau mami, papi dan eyang akan seperti ini akhirnya. Aya kurang berpikir. Aya kurang dewasa. Maafin Aya, Mi. Jangan nangis lagi."
Diangkatnya tangan dan mengusap pipi mami yang masih terus menunduk dengan mata terpejam.
"Mami, lihat Aya. Semua sudah Aya bersihkan. Aya akan dandan lagi. Kali ini tidak akan membuat ulah lagi."
"Mami lihat Aya dong ...." Gadis itu terisak. Hatinya remuk redam melihat mami bahkan tidak ingin lagi menatap wajahnya.
"Mi ...."
__ADS_1
Lalu suara tangis pecah bersahutan di kamar itu. Di luar, Radit yang semula mengepalkan tangan dengan amarah, kedua bahunya lalu jatuh lunglai. Hatinya sangat sedih jika mami sampai menangis seperti itu.
******