PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
65. Perkelahian Polisi dan Penculik


__ADS_3

Dengan mengikuti seorang perawat, Dicky yang menyamar sebagai petugas kebersihan, keluar ruangan sambil membawa ember pel.


Mereka menuju ke ruang perawatan bayi.


Arjuna langsung mengunci pintu ruang persalinan, saat kedua orang itu keluar. Sekarang ruangan itu akan aman untuk sementara. Pria itu menunggu polisi tiba dengan tak sabar.


"Bos!" ujar Dicky, begitu paggilan teleponnya diangkat.


"Bagaimana?" tanya Arjuna tak sabar.


"Petugas di sini tak mengijinkan bayi Anda dibawa ke luar! Dia tidak cukup sehat dan butuh pemantauan khusus!" jelas Dicky.


"Kau jaga di sana dan kunci ruangan bayi!" perintah Arjuna.


"Bos, ini rumah sakit. Bukan rumah Anda yang bisa diatur kapan buka dan tutupnya." Dicky mengingatkan.


Arjuna menoleh pada Dokter Reina. Matanya memohon bantuan pada wanita itu, karena dia tak punya kekuasaan seperti yang dia mau.


Dokter wanita itu meminta ponsel, yang langsung diserahkan oleh Arjuna. "Berikan telepon ini pada kepala perawat di sana," perintahnya pada Dicky setelah membuka panggilan video.


"Ya, Dok?" sapa suara wanita di ujung sana.


"Tolong dengar baik-baik. Kuharap kerjasamamu. Kunci ruangan perawatan bayi itu dan jangan biarkan siapapun masuk ke sana hingga polisi tiba!" kata Dokter Reina.


"Polisi?" tanya suara perawat di seberang.


"Kerjakan dulu! Kita berpacu dengan waktu untuk melindungi bayi Nyonya Gayatri!" bentak Dokter Reina tak sabar.


"Baik, Dok!"


Arjuna dapat melihat kesibukan di ruang perawatan bayi. Dicky membantu mengunci ruangan itu dengan cepat.


Tak lama perawat itu kembali melapor pada Dokter Reina. "Sudah dikunci, Dok. Ada apa sebenarnya?" Perawat itu minta penjelasan.


"Pasien, Nyonya Gayatri adalah korban penculikan. Polisi sudah ada di bawah dan sedang menuju ke sini. Kami sudah menjaga Nyonya Gayatri, Jadi kalian di sana juga harus menjaga bayinya agar tidak dilarikan penculik itu lagi!" terang Dokter Reina singkat.


"Lalu, pria yang bersama kami di sini, siapa?" tanya perawat itu menunjuk Dicky.


"Dia pria tak berguna!" sahut Dokter Reina ketus.


"Hei!" protes Dicky sewot. Tapi panggilan telepon itu sudah diputuskan oleh Dokter Reina.

__ADS_1


Arjuna menggelengkan kepala melihat sikap Dokter wanita di depannya. "Sepertinya masalah kalian sangat rumit. Mungkin seperti benang kusut yang sudah membelit lama, hingga mustahil terurai," komentarnya saat menerima kembali ponsel.


"Bukan urusan Anda!" ketus sang dokter dingin.


"Dok, ada keributan di ruang tunggu!" lapor seorang perawat.


Mereka mengintip dari pintu ruang operasi. Tak ada yang berani terlalu dekat dengan pintu masuk ruang persalinan. Khawatir terjadi baku tembak yang mungkin bisa membahayakan diri sendiri.


Arjuna menghubungi Dicky. "Apa kau mendengar keributan di ruang tunggu?" tanyanya.


"Mereka menggedor ke pintu ruang perawatan bayi tadi," lapor Dicky.


"Jangan buka!" geram Arjuna marah. Dugaannya benar. Para penculik ingin mengambil bayi Aya. Untung mereka sudah berjalan selangkah di muka.


"Lalu sekarang bagaimana?" taya dokter Reina tegang.


Seakan sudah melupakan kata-kata ketus wanita itu, Dicky tetap menjawab. "Sedang terjadi perkelahian di depan pintu. Sepertinya penculik itu orang terlatih bela diri. Tidak akan mudah bagi polisi untuk bisa menaklukkan!" ujarnya menyimpulkan.


Arjuna melihat ke depan pintu ruang persalinan. Suara berdebuk dan berdebam masih terus terdengar dari sana. Sepertinya penilaian Dicky ada benarnya. Dan itu membuatnya khawatir.


"Adakah jalan keuar lain dari sini?" tanyanya pada Dokter wanita itu.


"Apa kau tidak yakin para polisi itu bisa mengalahkan mereka?" tanya dokter itu kritis.


Dokter menoleh pada para perawat yang ada di situ. "Menurut kalian, apakah pintu lama itu masih bisa diakses?" tanyanya.


"Pintu itu sekarang menuju gudang, Dok." Seorang perawat menjelaskan.


"Ada pintu satu lagi, yang sebelumnya biasa kami pakai sebelum penataan ulang. Tapi ruangan di sebelahnya sekarang sudah berubah jadi gudang, tempat beberapa tempat tidur tua dan kursi roda rusak dikumpulkan." Dokter Reina menjelaskan situasinya.


"Tidak apa-apa. Jika bisa kabur lewat sana, juga boleh." Arjuna seperti mendapatkan harapan.


"Tapi, kita tak tahu, apakah di belakang pintu itu disusun barang-barang atau tidak.Jika ada tumpukan barang, maka itu tak akan bisa diakses!" jelasnya lagi.


"Mari kita lihat dulu!" desak Arjuna.


"Kau jaga Nyonya Gayatri!" perintah dokter pada perawat. Kemudian dibawanya Arjuna melintasi beberapa bed pasien yang sedang menunggu masa pemantauan mereka selesai, sebelum dikirim ke kamar rawat.


Di balik sebuah rak di belakang ruang perawat jaga, ada satu pintu yang tak diketahui orang lain. Dengan bantuan dokter dan perawat, Arjuna menggeser lemari besar yang berisi peralatan medis.


Setelah mendapat sedikit celah, Arjuna berhenti. "Biar kucoba dulu membukanya."

__ADS_1


"Dikunci!" ujarnya kecewa. Perawat yang tadi membantu, berlari ke mejanya. Tak lama dia balik.


"Coba ini!" ujarnya memberikan sebuah pinset dan peniti besar,.


Arjuna sedikit bingung dengan dua benda yang disodorkan padanya. "Apakah seperti ini kunci pintu rumah sakit ini?" wajahnya benar-benar keheranan.


"Bukan! Tapi, di filem-filem detektif, mereka biasa membuka pintu terkunci dengan benda-benda seperti ini," jawab perawat itu polos.


"Dan kau percaya?" Mata Arjuna melebar dengan takjub. Dia bukan termasuk pecinta filem-filem dan tidak percaya trik murahan dan remeh seperti itu akan berhasil.


"Jika tak dicoba, siapa yang bisa membuktikan, apakah yang ada di tivi benar atau salah!" jawab perawat itu enteng.


"Coba saja. Lagi pula tak ada cara lain untuk membukanya!" Dokter Reina juga mendesak.


"Oke!" Arjuna menerima kawat peniti dan pinset yang diberikan perawat. Dia juga pernah melihat trik semacam itu.


Jadi, dimasukkanlah kawat peniti ke dalam lubang kunci. Dibantu dengan pinset, dia mengutak-atik kunci agar terbuka.


"Ini tak bisa!" Arjuna menyerah. Punggungnya sedikit lelah akibat membungkuk cukup lama.


Ponselnya berbunyi. Arjuna menjawab cepat, saat melihat nomor polisi di layar.


"Bagaimana?" tanya Arjuna tak sabar.


"Kami sudah meringkus kedua orang itu. Anda bisa membuka pintu ruangan. Kami harus melihat istri Anda lebih dulu."


"Polisi berhasil meringkus mereka!" Senyum lebar Arjuna terlihat. Dokter dan perawat juga merasa lega. Bergegaas mereka ke depan pintu.


Ponsel Arjuna kembali berdering. Itu panggilan Dicky.


"Bagaimana di sana?" tanya Dicky.


"Polisi bilang sudah berhasil meringkus penculik dan memintaku membuka pintu.


"Jangan!" teriak Dicky cepat, nyaris histeris.


"Apa maksudmu jangan?" tanya Arjuna heran. Kakinya langsung berhenti melangkah. Dilihatnya pintu masuk ruang persalinan dengan ragu.


"Karena aku masih mendengar perkelahian di depan pintu ruang perawatan bayi!" jelas Dicky khawatir.


Reina, Perawat dan Arjuna menoleh ke pintu dengan khawatir.

__ADS_1


"Apakah polisi sudah dikalahkan dan dipaksa untuk menyuruh buka pintu?"


*******


__ADS_2