PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
80. Kau Akan Mati!


__ADS_3

Arjuna memeriksa chat dengan Dicky. Tak ada balasan soal uang yang tadi ditransfernya. "Apa kau mau menipuku?" gumamnya sdikit curiga.


"Kami sudah di lokasi, Bos. Aku melihat seekor ayam sedang diseret anjing ke kandang!" Anak buahnya melapor.


"Seseorang diseret?" batin Arjuna. Dilacaknya lokasi ponsel Dicky. Rahangnya mengeras. Dicky tertangkap dan dibawa ke tempat Robert Giles.


"Ini bahaya!" batinnya.


"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya Arjuna pada Sopir.


"Masih lima belas menit lagi, Bos," jawab sopir. Dia sudah ngebut dan mengejar mobil angota lain yang sudah berangkat lebih dulu.


Arjuna tak mengatakan apapun. Namun, kecemasannya terbaca oleh sopir. Pria itu mempercepat laju kendaraannya saat situasi memungkinkan.


"Kalian sudah di sampai?" tanya Arjuna.


"Sudah, Bos. Beberapa pohon yang mengganggu sudah kami bereskan!" lapor bawahannya.


"Apa sema bunga sudah disiapkan?" tanya Arjuna.


"Siap, Bos. Semua bunga yang indah sudah kami persiapkan untuk acara!" balas suara dari seberang.


"Bagus!" Arjuna menutup panggilan telepon. Dia menutup wajah dengan telapak tangan.


"Mama, maafkan aku karena melanggar laranganmu. Kali ini aku harus kembali, untuk membalaskan perbuatan keji putra papa pada saudara kembar, istri dan bayiku!" bisiknya dalam hati. "Semoga ini tidak membuatku jadi anak yang tidak berbakti,"


"Kita sampai, Bos!" sopir mengingatkan Arjuna.

__ADS_1


Pria muda dan tampan itu mengangkat pandangan. Lokasi sekitar sangat gelap. Masih ada hutan cemara di sekitar yang menyamarkan jalan masuk saat malam hari.


"Aku sampai. Di mana kalian?" pesan dikirim Arjuna pada semua angota geng Kalajengking Hitam.


"Masuk ke dalam, Bos. Jika anda menemukan mobil kami, maka tidak akan jauh lagi," salah seorang membalas.


Arjuna keluar setelah sopir menghentikan kendaraan mereka tepat di sebelah dua mobil anggotanya.


Dua orang itu turun dari mobil dan berjalan hati-hati mengikuti jalur tikus, di bawah cahaya gemintang.


Sebuah cahaya berkelip halus dan dimainkan, menjadi petunjuk bagi Arjuna dan sopirnya. Keduanya pergi ke sana.


"Apa tempat. Ini aman?" tanya Arjuna.


"Aman, Bos. Para penjaganya sudah pingsan!" sebuah cahaya kembali dipakai untuk menerangi dua orang yang tergeletak di tanah.


"Bagus. Lalu, dari mana kalian mengetahui ada seseorang yang diseret?"


"Meskipun buram dan sangat jauh. Namun, Arjuna masih bisa mengenali Dicky.


"Dia detektif yang kusewa untuk mencari informasi. Dia juga yang membagi lokasi ini tadi," kata Arjuna.


"Sepertinya, dia kalah cepat dengan para penjaga ini, hingga ketahuan setelah mengirim lokasi pada kita," timpal pria itu.


"Jika Robert mengetahui bahwa Dicky membocorkan lokasi persembunyiannya, maka dia pasti akan disiksa hingga mati!" Geraham Arjuna saling gemeletuk karena menahan amarah.


"Sebaiknya kita langsung ke sana, sebelum dia melarikan diri dan membunuh pria itu," saran bawahannya.

__ADS_1


"Mau lari ke mana dia?" Kita menjaga jalan masuknya!" ketus seseorang.


"Bagaimana kalau dia punya helikopter?" bantah yang lain.


"Kau benar. Dia orang berpengaruh. Dan mampu berbuat keji. Dia pasti punya alat penyelamatan!" Arjuna mengangguk setuju.


Setelah membagi tugas masing-masing, mereka berpencar dan mengelilingi bangunan di tengah hutan itu.


Beberapa penjaga kembali dilumpuhkan dalam perjalanan mereka. "Ini senjata Anda, Bos!" Sopir menyerahkan dua pisau berbentuk sabit dan bergerigi, serta dua senjata genggam yang biasa digunakan Arjuna untuk bertarung satu lawan satu.


Bangunan di depan mereka tinggal lima puluh meter lagi. Semakin banyak penjaga yang berdiri di sekitarnya.


"Ini lebih sulit. Kita harus melumpuhkan mereka sekaligus!" kata Arjuna.


"Baik, Bos. Saya ambil yang kiri," jawab sopirnya. Ternyata dia bukanlah sopir biasa, melainkan tangan kanan Arjuna jika ingin turun ke jalan.


"Setelah angka tiga!" kata Arjuna. Pria di sebelahnya mengangguk. Mereka berlindung di balik guci besar yang diisi tanaman hias.


"Satu. Dua. Tiga!" kata Arjuna.


Keduanya melompat tinggi dua kali dan langsung menyerang dua orang penjaga yang tidak menyadari bahaya mengancam.


"Beritahu Bos!" perintah pria yang diserang Arjuna. Dia tak mengetahui bahwa temannya juga mendapat serangan kilat dari sopir jagoan itu.


Pertarungan sengit terjadi. Pria itu berusaha keras mempertahankan nyawanya. Tangannya meraih pisau yang terselip di kaus kaki. Hanya saja sikut Arjuna yang keras mendarat lebih cepat di punggungnya, hingga terdengar bunyi tulang patah. Pria itu langsung jatuh tertelungkup, tak bergerak lagi. Rintihannya mengisahkan rasa sakit tak terperi karena tulang punggungnya dipatahkan lawan.


"Kau- a-kan ma-ti!" ancamnya sambil menggeram seperti binatang disembelih.

__ADS_1


Tiba-tiba bunyi sirine mengaung nyaring di sekitar rumah. Semua lampu sorot menyala dan menerangi seluruh tempat dalam radius seratus meter!


********


__ADS_2