PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
27. Perkembangan Dewa


__ADS_3

Hari kedua dilewati tanpa perubahan berarti. Hanya sesekali jemari Dewa bergerak dengan sendirinya. Tapi matanya tetap terpejam rapat. Menurut dokter, itu adalah gerakan refleks, dan bukan pertanda kesadaran.


Tapi mami bilang, orang koma itu seperti roh yang kehilangan arah. Jadi Aya harus mengajaknya bicara, memanggilnya agar dia kembali dan bisa sadar lagi.


Meskipun penjelasan mami terasa tak masuk akal, tapi bagi Aya, tak ada salahnya mencoba. Mana tahu berhasil membangunkan Dewa.


Radit mengantarkan baju ganti dan makanan untuk Gayatri saat menjenguk siang hari.


"Kata Mbak, kembaran Dewa ada di sini. Kok aku tak melihatnya?" Mata Radit mencari-cari.


"Dia pergi beberapa jam yang lalu," jawab Aya.


"Syukurlah kau membawakan bajuku. Badanku sudah terasa gatal-gatal." Gayatri membuka tas yang dibawa Radit dan melihat isinya.


"Bisakah kau menjaga Dewa sementara aku mandi?" pinta Aya.


"Jangan lama-lama. Aku harus segera kembali ke kantor!" Radit mengingatkan.


"Bentaran doang ...."


Gayatri sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Tak lama terdengar bunti air mengucur dari dalam kamar mandi.


Radit menunggu dengan bosan sambil memainkan ponsel. Dia bolak-balik melihat jam dan memasang wajah cemberut.


"Mbak, cepetan. Aku mesti ke kantor lagi!" teriak Radit sambil mengetuk pintu kamar mandi. Dia menjadi tak sabar saat Aya tak kunjung keluar setelah seperempat jam berlalu.


"Ya ... ya. Gak sabaran!"


Aya muncul dengan rambut basah dan tubuhnya menguarkan aroma sabun yang lembut.


"Rambut basah begitu. Keringkan dulu lah dengan handuk. Nanti Mbak malah masuk angin hlo!" ujar Radit mengingatkan.


"Ya, aku tahu. Makasih udah gantiin aku nungguin Dewa. Kau bisa balik ke kantor sekarang."

__ADS_1


"Aku diusir nih? Apa sekarang Mbak Aya lagi pingin berduaan dengan Dewa?" goda Radit.


"Hush! Kan kamu yang tadi mau pergi buru-buru!" Gayatri membalikkan kata-kata Radit.


Radit melihat jam tangannya. "Aku harus kembali ke kantor sekarang. Mbak Aya baik-baik di sini. Perlu apa-apa, bilang saja. Nanti kubawakan. Yang sabar ya."


Aya memandang heran pada adik lelakinya itu. Tak biasanya dia bersikap lembut dan sangat perhatian pada Aya.


"Kau bisa lembut juga." Aya terkekeh geli. Ditepuknya pundak adiknya beberapa kali.


"Hah ... harusnya aku diam saja!" Radit keluar kamar dengan hati dongkol.


Senyum Aya lenyap setelah pintu kembali tertutup. Dia berbalik ke arah Dewa dengan cepat. Wajah murungnya tak ditutupi. Ditatapnya nanar tubuh yang terbaring tak bergerak di tempat tidur.


"Kumohon, bangunlah ... aku tak punya teman bertengkar lagi. Melihatmu seperti ini, Adikku satu-satunya itu jadi berubah 180 derajat. Dia mulai mengasihaniku. Aku tak suka itu."


Aya menggenggam jemari Dewa. Mengalirkan semangat dan kehangatan lewat jari-jarinya.


Hari ketiga. Arjuna kembali pergi sekitar pukul tujuh. Entah apakah dia akan kembali pukul sepuluh malam seperti tadi malam, atau tidak. Aya tak peduli. Dia hanya perlu menunggui Dewa.


Aya segera memencet bel untuk memanggil perawat. Dia terlihat gembira dan penuh harapan.


"Kau ingin bangun? Maka bangunlah. Kau sudah tidur selama tiga hari. Aku bete sendirian," ujar Aya penuh harap.


Perawat datang dan memeriksa. Tapi Dewa masih belum membuka mata.


"Ibu bisa terus ajak bicara, agar kesadarannya segera pulih," ujar perawat.


"Jadi ini belum akan sadar?" tanya Aya kecewa.


"Kami akan hubungi dokter dan mengatakan perkembangan ini," jawab perawat.


Aya kembali termangu menatap Dewa. "Please, bangunlah!" ujarnya lirih.

__ADS_1


Diambilnya ponsel dan mengabarkan pada Arjuna yang terjadi tadi. Aya meletakkan ponsel itu di meja nakas. Dia ingin menikmati makan siang yang tadi diantarkan adiknya Radit.


Sore hari, Arjuna datang. Aya memandangnya dengan heran. Ada hal apa yang membuat pria itu datang jauh lebih cepat dari pada hari sebelumnya.


"Apa ponselmu mati?" tanya pria itu dengan mimik kesal.


"Tidak! jawab Aya cepat. Aku menaruhnya di situ!" Aya menunjuk ke meja nakas di samping tempat tidur.


"Guna ponsel itu agar mudah menghubungi orang. Bukan untuk jadi hiasan meja!" bentaknya kasar.


Kening Gayatri mengerut. "Ada apa sih? Apa kamu tak bisa bicara dengan baik?" Aya ikut emosi.


"Baca pesan-pesanku!" balas Arjuna makin ketus, karena Aya tak takut untuk berbantahan dengannya.


Aya mengambil ponselnya untuk mencari pesan yang dikirim Arjuna. Tak disangka, terdapat belasan panggilan tak terjawab dari Arjuna yang tak diketahuinya.


"Kau meneleponku berkali-kali. Ada apa?" tanya Aya dengan suara rendah.


"Baca pesanku!" bentak Arjuna kasar.


Tubuh Aya sampai terlonjak karena terkejut mendapat bentakan begitu keras.


Aya merasa sangat emosi dan tersinggung. Belum pernah ada yang membentaknya sekeras itu. Itu memancing rasa marahnya.


Dibacanya pesan berderet yang dikirim pria itu. Tak ada hal lain, selain pesan yang disalin ulang berulang kali. Jadi belasan pesan yang sama, masuk ke dalam ponselnya.


"Kurasa aku sudah menjelaskannya dengan benar padamu. Perawat belum dapat memastikan kondisi terkini Dewa. Mereka sedang menunggu pendapat dokter atas apa yang terjadi hari ini." Gayatri menjelaskan panjang lebar apa yang dikatakan para perawat tadi siang.


"Jadi, dia belum betul-betul siuman?" Arjuna mendekati Dewa. Diletakkannya gepalanya, menempel ke dada Dewa, untuk mendengar detak jantung saudara kembarnya itu.


"Percuma saja aku buru-buru datang ke sini!" gerutunya tak senang.


"Pada kembaranmu saja, Kau begitu perhitungan!" ketus Aya sebal.

__ADS_1


******


__ADS_2