PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
13. Menuju Pernikahan


__ADS_3

Aya mencari celah antara plafon yang dipasang dengan sangat rapi. DIcobanya mencungkil lembaran kayu tipis itu dengan jarinya. Namun tidak berhasil.


"Kenapa sih dipaku begini kuat!" gerutunya.


Ceklek!


Tangan Aya menjadi goyah setelah mendengar suara kunci pintu diputar. Dengan cepat telapak tangannya menjejak permukaan plafon agar tidak jatuh. Kursi di bawah dingklik itu sudah mulai bergoyang karena kegugupannya.


"Mbak Aya!"


Teriakan Radit yang tak menyangka menyaksikan kakaknya seperti itu, mengagetkan mami dan dua security di luar pintu. Semua masuk dan terpana.


Aya juga terkejut mendengar teriakan Radit yang menggelegar. Kakinya tak bisa lagi menstabilkan posisi bangku plastik dan dingklik yang tidak pas.


Kedua pijakannya itu bergeser. Sialnya, Aya tidak menemukan pegangan sama sekali. Saat dingklik tergelincir ke lantai dengan bunyi berdebum. Aya pasrah jika harus jatuh juga ke lantai seperti nangka busuk.


"Aaaaaaaa ...!" teriaknya keras.


"Aya!" mami berteriak ketakutan.


Radit dan dua security dengan cepat berlari ke dekat meja dan mencoba menangkap tubuh Aya yang terbang melayang.


Tubuh Aya jatuh dengan menimpa dua Security yang apes. "Aduuuhhh ...," keluhnya sambil memegang pinggangnya yang sakit.


"Yang seharusnya mengeluh sakit itu Pak Sarpan dan Mas Ipung!" kata mami sambil membantu Aya berdiri.


"Kasihan kalian berdua, ketiban nangka bosok!"

__ADS_1


Sindiran Radit diarahkan pada kakaknya. Tapi Aya terlalu sibuk dengan rasa sakit di punggungnya, hingga tak mempedulikan kata-kata pedas adiknya.


Dua security itu meringis pasrah. Punggung keduanya seperti mau patah ditimpa Aya dengan kerasnya. Keduanya masih melihat ke plafon, apakah ada kerusakan atau tidak.


"Sudah. Pergi istirahat sebentar sana. Biar saya yang menjaga di sini," ujar Radit pada dua orang security rumahnya itu.


"Terima kasih, Mas Radit," jawab mereka serempak, lalu keluar kamar.


Kali ini mami tidak bersikap lembut lagi pada putrinya. "Apa kamu sangat ingin meninggalkan mami dengan cara seperti ini? Apa kamu tidak pernah mami ajari untuk bertanggung jawab?" suara mami sangat tegas. Sedih campur marah.


Aya menunduk, matanya berair. Bukan karena sedih dimarahi mami, tapi karena tak berhasil kabur dan malah menderita sakit punggung. Sekarang dia hanya ingin berbaring sejenak.


"Aya ingin istirahat," ujarnya lemah.


"Tidak ada lagi akal-akal bulus, Aya. Mami sudah tidak mempercayaimu lagi!" jawab mami tegas.


"Jangan menganggap mami, papi dan eyang, kejam padamu. Tapi cobalah lihat tingkah lakumu selama ini. Aya lah yang sudah bertindak sangat kejam pada keluarga ini!" Kata-kata mami menohok. Seakan bisa menjawab pertanyaan di dalam hatinya.


"Apa Aya sudah bosan menjadi putri kami? Bosan tinggal bersama mami dan papi? Bosan mendengar nasehat eyang?" tanya mami.


"Begini saja. Jika Aya memang sudah tak ingin menjadi bagian dari keluarga ini, Aya boleh pergi. Silakan pergi ke mana pun yang kamu mau. Dan lakukan apa pun yang kamu inginkan. Mungkin kami terlalu mengekang kehidupanmu. Kalau kau ingin bebas, mami tidak akan melarangmu lagi. Silakan! Pintu terbuka lebar untuk kau pergi. Tapi, jangan pernah kembali lagi ke mari! Mami akan anggap tidak pernah melahirkanmu!"


Mami keluar setelah mengucapkan kata-kata paling menyakitkan yang mungkin bisa diucapkan oleh seorang ibu.


Aya terbengong melihat punggung mami. Dan benar, pintu kamar tidak lagi ditutup. Pintu itu dibiarkan terbuka lebar. Aya bisa melihat kesibukan orang-orang yang hilir mudik di rumah itu. Aya dapat melihat adiknya Radit memapah mami pergi ke arah kamar mami dan papi.


"Ayo Aya, kalau mau pergi, inilah kesempatanmu!" sebagian dari dirinya mengajaknya pergi. Tapi kakinya terasa seberat batu setelah mendengarkan kata-kata mami barusan.

__ADS_1


"Aku sudah menyakiti mami seperti itu," gumamnya sedih. Air matanya mengalir. Ternyata, melihat mami sakit hingga dipapah Radit, membuat hatinya ikut terluka juga.


Gayatri menatap gaun pengantin yang tergantung di sudut ruangan, dekat lemari pakaian. Dihelanya napas panjang dan diembuskan perlahan. Begitu dilakukannya beberapa kali, hingga hatinya jadi seringan kapas. Dia tak lagi memikirkan hal lain. Aya hanya ingin menghapus air mata mami dan mengobati luka hati maminya dengan menuruti apa pun yang diputuskan keluarga.


Aya bangkit dari tidurnya dan melangkah untuk menutup pintu lagi. Sekarang dia ingin mengenakan gaun pengantin yang telah dipilihnya beberapa hari yang lalu.


Aya mengenakan pakaian sendiri. Dengan duduk di depan cermin, dia dapat melihat dandanannya yang jadi sedikit rusak akibat insiden sebelumnya.


Setelah mengenakan kebaya pengantin, dirapikannya lagi make up yang sebelumnya sudah dipakaikan oleh mami.


Gadis itu kemudian duduk dengan tenang di tempat tidur. "Baiklah. Menikah dengan siapa pun tak penting lagi. Semua konsekwensi ini harus kutanggung!" gumamnya.


Aya sudah pasrah dengan keadaannya.


Dua jam kemudian, pintu kamarnya kembali dibuka. Papi masuk dan bermuka masam.


"Sudah waktunya. Calon suamimu sudah datang," ujar papi.


"Siapa, Pi?" Aya memberanikan diri untuk bertanya.


"Itu tak penting lagi. Yang penting, kamu menikah hari ini! Setelah itu kau mau bersikap seaneh apapun, maka itu bukan lagi urusan kami lagi!" jawab papi kejam.


Aya menunduk dalam. Dia berdiri dan siap untuk mengikuti langkah kaki papi menuju ke tempat yang sudah ditentukan.


Aya menyelipkan tangannya ke lengan papinya. Dia tidak menolak sama sekali. Dia sudah tenang sekarang. Keduanya melangkah pelan ke ruang pernikahan.


*******

__ADS_1


__ADS_2