PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
67. Pelarian


__ADS_3

Ponsel Dokter Satrio berdering. "Ya!" sahutnya cepat.


"Saya Dudung, yang diminta Pak Direktur untuk membuka gudang," kata satu suara di seberang.


"Cepat!" kata Dokteer Satrio tak sabar. Dan jangan lewat ruang tunggu persalinan!" Dokter Satrio mengingatkan.


"Pintu gudang itu tidak terhubung lagi ke ruang tunggu, Dok. Tapi ke bagian lift barang yang mengarah bagian perawatan gedung," jelas pria itu.


"Bagus kalau begitu!"


"Kita bisa keluar dari gudang itu." Dokter Satrio menginformasikan pada dua orang yang ada di ruangan.


"Lalu bagaimana dengan bayi Aya?" tanya Arjuna agak keberatan.


"Direktur rumah sakit sudah mengetahui kejadian ini. Beliau pasti akan melakukan sesuatu untuk membereskan mereka di luar!"


Betapapun Dokter Reina mencoba membuatnya tenang. Arjuna tetap tak dapat menampik, bahwa dia khawatir pada bayi yang bahkan belum pernah dilihatnya itu. Entah apakah itu putranya atau bukan, yang dia tahu, itu adalah bayi Aya!


Ponsel Dokter Satrio kembali berbunyi. "Saya sudah di gudang, dan sedang memindahkan beberapa barang bersama dua tenaga kebersihan." Pria itu melapor.


Gerakan kepala Dokter Reina, dapat ditangkap oleh Dokter Satrio. Dia langsung mengerti.


"Apa kau mengenal dua orang tenaga kebersihan itu?" selidiknya.


"Tentu, Dok. Mereka adalah kepala dan wakil kepala bagian kebersihan!" jawab suara di seberang.


"Baik!" balas Dokter pria itu.


Ayo, kita harus segera ke sana dan menyembunyikan istrimu. Tentang putramu, kita akan pikirkan cara lain lagi!"


Dokter Satrio membuka pintu ruang operasi. Dilihatnya wajah tegang para perawat. Hantaman dari luar pintu masuk yang terbuat dari besi itu, makin kencan. Dokter itu dapat melihat bahwa pintu mulai bergetar. Artinya, mulai terjadi pergeseran kedudukan pintu pada tiangnya.


"Cepat! Sebelum pintu itu jebol!" ujarnya dengan suara keras. Dokter Reina membantu Arjuna mendorong brankar Aya ke pos para perawat, untuk mencapai pintu akses lama.


"Kau!" Dokter Satrio menunjuk perawat yang menjadi penanggung jawab ruangan.


"Ya, Dok." Perawat itu mengangguk.


"Kau pergi menemani pasien hingga berhasil keluar dari rumah sakit dengan selamat!"


Perawat yang ditunjuk mengangguk.


"Dok!" sebuah suara terdengar, disertai munculnya sebuah kepala pria usia empat puluhan.

__ADS_1


Semua menoleh ke balik rak dinding besar yang sebelumnya digeser.


"Anda bisa lewat sini. Sudah kami bersihkan beberapa barang dan membuat jalur untuk sebuah kursi roda lewat," katanya.


Seorang perawat degan cekatan mengambil kursi roda untuk digunakan oleh pasien yang baru operasi itu.


Dokter Reina membantu menurunkan Aya dan mendudukkannya di kursi roda. Botol infus yang ada di tiang, diletakkan di atas pangkuannya. Seorang perawat lain dengan cepat mengambil beberapa jenis obat dan botol infus lain, lalu dimasukkan dalam kantong belakang kursi roda.


"Ini semua obat yang sudah dipersiapkan untuk Nyonya Gayatri di pemberian obat berikutnya!" Perawat itu menjelaskan tanpa diminta. Dokter Satrio mengangguk.


Arjuna mendorong kursi roda ke celah belakang rak dinding. Perawat yang ditugaskan, mengikuti dari belakang. Kemudian pria yang membuka pintu juga menyusul. Lalu, pintu itu kembali ditutup.


Memang benar yang dikatakan oleh pria tadi. Beberapa barang yang disimpan di situ telah disusun agar sebuah kursi roda bisa lewat dengan aman.


Keluar dari gudang, pria yang memegang kunci kembali mematikan lampu dan mengunci pintu gudang. Sekarang mereka harus melewati lorong gelap pada bagian rumah sakit yang terabaikan.


"Liftnya di mana?" tanya Arjuna tak sabar.


"Lift ada setelah belokan di depan," jawab pria itu. Dia terus berjalan. Perawat mengikuti dengan langkah cepat. Di belakang, Arjuna mendorong kursi roda dengan hati-hati.


"Direktur minta kita lewat Lift barang." Pria itu menunjuk lift yang sedang dijaga dua pria berpakaian tenaga kebersihan.


"Oke!" sahut Arjuna. Mereka semua masuk ke dalam lift yang besar itu dan turun ke bawah.


Sementara di depan ruang tunggu tempat persalinan, para keluarga korban yang ketakutan, mulai kesal melihat polisi berhasil dikalahkan. Ada tiga petugas keamanan yang menjaga agar para keluarga pasien tidak mendapat bahaya dari perkelahian itu. Melihat pintu yang terus dihantam dengan kuat oleh pria kekar dan berkulit gelap itu, mereka juga khawatir jika pintu ruang persalinan berhasil dijebol.


"Mari kita bantu polisi itu," usul salah satu pengunjung pria. Dia khawatir istrinya yang sedang ada di dalam ruangan, terkena bahaya.


"Tidakkah itu bahaya? Polisi itu saja pingsan dipukulnya!" kata yang lain takut.


"Lihat! Pintu itu hampir jebol dihantamnya. Sebentar lagi, keluarga kita yang di dalam akan berada dalam bahaya!" tunjuk yang lain.


"Ayolah kalau begitu!" Seorang pria bertubuh ringkih, berdiri dari balik susunan bangku panjang tempat dia bersembunyi.


"Demi istriku, apapun aku tidak takut!" ujar pria lain yang tubuhnya penuh lemak.


Berama-sama, enam pria berjalan menghampiri pria kekar yang terus menghantam pintu dengan badannya.


"Hei, kalian mau apa? Bahaya! Ini urusan polisi!" cegah securiti.


"Polisinya pingsan! Maka ini sekarang urusan kami, karena dia mengganggu keamanan istri kami di dalam!" kata seorang pria bertato tapi berhati lembut itu.


"Betul! Ini urusan para suami. Kau berdiri saja di sana, kalau takut!" ejeknya pedas.

__ADS_1


Wajah securiti itu terasa panas, karena dianggap kalah berani dengan para pria biasa itu. Dengan emosi dia berjalan cepat menyusul para bapak yang sudah berdiri di depan orang yang membuat keributan.


"Bisakah kita bicara baik-baik? Ini rumah sakit dan jelas dilarang berbuat onar!" kata salah seorang pria, memulai diplomasi.


"Minggir!" pria itu mendorong salah satu pengunjung pria yang mendekatinya, hingga mundur ke belakang dan menabrak securiti.


"Berhenti!" teriak securiti itu sambil mengacungkan tongkat saktinya.


Namun, pria itu tak mengacuhkan. Dia trus saja menabrak pintu ruang persalinan. Dan makin bersemangat, saat melihat kusen pintu dari baja ringan itu, mulai lepas dari tempatnya dipakukan.


"Aku bilang, hentikan!" Sekuriti itu bergerak menahan hantaman tangan pria itu dengan tangan juga. Dua sekuriti lain ikut bergabung, mengerubungi pria tersebut. Bapak-bapak pengunjung yang lain juga ikut serta merubung, ikut menjitak dan menonjok pria yang terus membuat onar.


Kekacauan besar tak terhindarkan. Para wanita akhirnya menjerit-jerit ketakutan melihat pengeroyokan itu.


"Pak polisi, ayo cepat sadar. Anak saya bisa babak belur kalau begini!" keluh seorang ibu hampir tua. Tangannya mengguncang tubuh polisi itu agar segera sadar.


"Aduh, jangan memukul wajahku yang tampan ini!" protes salah satu pria sambil mengusap pipinya yang kena pukulan dari pria tinggi tegap perusuh itu.


"Aww! Kau salah pukul! Bukan aku penjahatnya!" teriak pria lain dan melotot pada sekuriti yang salah pukul.


Kekacauan itu berlangsung cukup lama, hingga tak ada yang menyadari polisi sudah bangun, kemudian menyeruak kerumunan. Tangannya memegang sesuatu. Wajahnya sudah sangat geram, karena tadi dikalahkan oleh penjahat.


"Berhenti! Teriaknya degan suara menggelegar.


Tawuran itu seketika berhenti. Para wanita yang jadi penonton, bisa melihat posisi. Para pria itu yang sangat aneh, ambigu, bahkan lucu.


"Menyingkir!" perintah polisi.


"Kami hampir mengalahkannya!" protes seorang pria yang sedang memiting tangan pria perusuh itu sampai tak bisa bergerak, agar mudah dipukuli.


"Penculikan adalah urusan polisi!" kata polisi itu dengan pandangan tajam.


Bapak-bapak dan tiga sekuriti menyingkir. Membiarkan polisi menghadapi lawannya sendiri.


"Sayang banget. Kita hampir saja mengalahkannya," gerutu salah seorang.


"Aku belum puas memukulinya!" timpal yang lain dengan wajah kesal.


Pria itu mencoba bangkit dari posisinya yang tergeletak di lantai. Itu posisi yang sangat memalukan baginya. Kalah menghadapi sekelompok amatir!


Polisi itu tak mau buang waktu menunggu lawannya berdiri. Dia langsung mengeluarkan senjata andalannya dan tersenyum mengerikan.


***********

__ADS_1


__ADS_2