PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
76. Cemburu Pada Dewa


__ADS_3

Hingga sore hari, barulah urusan di kantor polisi itu selesai. Polisi berjanji akan mengusut kasus penculikan Aya lebih dalam. Karena sudah mengakibatkan jatuhnya tiga nyawa. Apa lagi setelah Arjuna mengungkapkan kecurigaannya atas kematian polisi penyidik yang tiba-tiba.


"Bos, Mereka sudah kami amankan!" lapor seseorang dari ponsel Arjuna.


"Jaga dulu. Aku belum sempat ke sana sekarang! Kalau bisa korek infomeasi tentang Robert Giles dari mereka," sahurnya.


"Baik, Bos!" jawab suara tersebut.


"Kita ke alamat ini!" Arjuna memberi satu alamat pada sopirnya yang segera mengangguk.


Petang hari, Arjuna sampai di bangunan pergudangan yang sepi. Tempat itu sudah lama tidak difungsikan. Dia turun dari mobil dan melangkah cepat.


"Bos!" seoranag pria menyapanya dengan wajah gembira.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Arjuna.


"Masih seperti orang linglung, Bos. Seperti orang Stress!" penjaga itu menekankan maksudnya.


"Apa kau memberinya makan tiap hari?" selidik Arjuna.


"Iya, Bos. Dulu dia masih makan biarpun sambil mengomel. Tapi sekarang kalau tidak saya paksa makan, tidak mau makan," lapor penjaga itu serius.


"Menyusahkan!" kesal Arjuna. Sekarang keduanya sudah berdiri sejauh tiga puluh meter dari tempat seorang wanita lusuh yang tidur dengan posisi tidak karuan.


"Bau apa ini?" protes Arjuna.


"Dia pipis dan pup di sana!" tunjuk penjaga itu dengan wajah jijik.


"Menjijikkan!" umpat Arjuna tak senang. Namun, dia tetap mendekat. Kemudian mengambil foto dan memeriksanya sebentar.


"Hei, Sandra. Apa kau ingat pada Robert Giles?" Arjuna mengetes kesadaran wanita di depannya itu.


"Seketika wanita itu mengangkat wajah. Robert? Apakah dia datang menjemputku?" tanyanya cepat.


Arjuna mengamati Sandra. Wanita itu tidak benar-benar kehilangan ingatannya. Dia masih mengingat Robert. Hubungan mereka pasti sudah sangat jauh. "Lalu kenapa dia masih ingin mendekatiku dan mengatakan yang dikandungnya adalah bayiku?"

__ADS_1


"Apa aku sudah cantik?" tanyanya dengan suara yang sedikit manja. Arjuna menggelengkan kepala. Dia melangkah pergi.


"Jaga dia dengan ketat. Dia tak sepenuhnya kehilangan ingatan. Jangan tertipu ucapannya!" Arjuna mengingatakan.


"Baik, Bos. Akan berapa lama lagi dia di sini? Makin lama bisa makin bahaya, Bos!" penjaga itu mengingatkan.


"Akan ada yang menjemputnya nanti. Kau tunggu dan siapkan dia, Dia harus sudah pingsa, agar tidak membuat ulah di jalan!" kata Arjuna.


"Baik, Bos!"


Arjuna kembali pulang. Di mobil dia mengirim pesan tim lain untuk menjemput Sandra dan membawanya ke tempat persembunyian baru. Wanita itu harus aman, agar bisa menjadi alat negosiasi dengan Robert.


"Kita pulang!" kata Arjuna.


"Baik." Sopirnya menyahut cepat. Dia mengendarai mobil dengan hati-hati.


*


*


"Apakah si Robert itu menyiksamu?" tanya Arjuna lagi. Dia ingin menguji reaksi Aya. Dan memang sekejap sinar ketakutan muncul di wajah Aya, lalu berubah sedih. Dia mengelus perutnya pelan, kemudian tersadar sesuatu.


"Di mana bayiku?" teriaknya panik. Bayiku, kau bawa ke mana bayiku!" Aya berteriak marah. Herakannya cepat menjangkau pisau buah yang terletak di piring di atas nakas kamarnya. Dengan gerakan cepat Aya menusukkan pisau itu pada Arjuna.


Lengan Arjuna tergores saat berusaha menahan dan menjatuhkan pisau dari tangan istrinya.


Keributan itu mengundang perhatian pelayan yang membawakan makanan ke kamar atas. Wanita itu segera berteriak memanggil pelayan lain. "Nyonya mengamuk lagi!" teriaknya kencang.


Penjaga di lantai bawah segera menaiki tangga dengan melompatinya sekali dua anak tangga.Kedua pekerja itu bingung saat melihat nyonya rumah itu berusaha menusuk suaminya sendiri


Penjaga segera menahan tangan Aya yang menggenggam pisau dengan kaku. Sementara pelayan yang mengantar makanan, membujuk. "Nyonya, tenang dudu. Anda sekarang ada di rumah. Semuanya aman di sini, jangan khawatir."


"Bayiku! Kalian bawa ke mana bayiku!" teriaknya nyaris histeris.


"Tuan muda sedang dirawat di rumah sakit, Nyonya. Jika dia sudah sembuh, Anda bisa melihatnya lagi," bujuknya lemah lembut.

__ADS_1


"Dia sakit?" mata Aya meredup sebentar. Namun kemudian kembali menyala dengan sinar kebencian yang dalam.


"Kau! Kau yang mencoba membunuh bayiku! Aku akan membunuhmu!" teriak Aya kembali mengamuk. Dia kembali menerjang Arjuna sekuat tenaga.


"Nyonya, Anda salah sasaran. Ini Tuan Arjuna!" kata penjaga yang merasa kewalahan mengatasi tenaga wanita yang sedang mengamuk.


Aya langsung diam. Matanya melihat pada Arjuna dalam-dalam. "Dewa, maafkan aku. Huhuhu .... Maafkan aku." seluruh tubuhnya luruh dan kekuatannya langsung lenyap.


Arjuna terpaku melihat Aya yang langsung mengenali Dewa, tapi tidak ingat pada dirinya.


Dua pekerja rumah itu saling pandang dengan kikuk. Tak tahu mesti mengatakan apa. Jadi petugas keamanan langsung mengambil pisau yang jatuh dan mengamankannya. Pelayan yang membawa makanan ikut keluar. Membiarkan Arjuna berdua dengan Aya yang sedang menangis.


Arjuna menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan berat. Entah kenapa, hatinya sakit. Belum pernah dia cemburu pada Dewa. Tapi kali ini hatinya sangat kesal.


"Istirahatlah," kata Arjuna. Dibantunya Aya untuk berbaring dengan nyaman di tempat tidur.


Setelah memastikan Aya tenang dan kembali seperti patung, Arjuna keluar. Pelayan masih berdiri di balik pintu.


"Beri dia makan," perintah Arjuna.


"Baik, Tuan." Pelayan itu mengangguk. Dia melihat sekilas luka baret pisau di lengan tuannya. Arjuna pergi ke kamarnya dan membersihkan lukanya.


"Sampai kapan aku harus bersaing dengan orang mati?" gerutunya kesal.


Diambilnya ponsel dan mengirimkan foto Sandra pada seseorang.


"Jika mereka tak mau buka mulut, katakan saja, bahwa wanita ini akan mati tanpa ada yang mengetahui!" pesan Arjuna.


"Baik, Bos!" ujar suara di sana.


Pesan lain kembali masuk. "Kami sudah memindahkan paket dengan aman!"


"Bagus!" balas Arjuna senang.


"Robert, mari kita selesaikan apa yang kau mulai. Atau wanita yang kau cintai itu akan meninggalkanmu selamanya!" geram Arjuna.

__ADS_1


******


__ADS_2