
Pukul lima sore, Arjuna sudah datang menjemput ke kantor Aya. Gadis itu tak punya pilihan selain mengikuti. Direktur memperhatikan keduanya keluar bersama.
"Mau ke mana?" tanya Aya di dalam mobil.
"Makan malam ke tempat yang masakannya sangat enak," kata Arjuna santai.
Aya hanya diam. Dia setuju saja jika pergi makan malam. Dia juga sudah merasa lapar.
Arjuna membawa Aya ke restoran yang ada di rooftop sebuah gedung tinggi di Jakarta. Harusnya itu bisa jadi tempat romantis bagi pasangan yang saling cinta.
"Pacarmu yang mana saja yang pernah kau bawa ke tempat ini?" tanya Aya santai.
Wajah Arjuna menggelap. Dia sedang berusaha menjadi suami yang baik bagi Aya. Namun gadis itu menghancurkan semua rencananya hanya dengan beberapa patah kata yang setajam golok tukang jagal.
"Hanya kau yang kubawa ke sini. Yang lainnya ku traktir makan di tempat yang istimewa!" timpal Arjuna jengkel.
Aya melengos tak peduli. Dianggapnya kata-kata Arjuna tadi adalah kebenaran. Makan malam itu berlalu dalam suasana kaku dan hambar. Keduanya benar-benar hanya makan, kemudian pulang.
Sampai di rumah, Arjuna meninggalkan Aya berjalan sendirian. Sementara dirinya berjalan cepat entah ke mana.
Aya yang lelah tak mempedulikan. Dia membersihkan diri dan bermaksud untuk langsung istirahat.
Tengah malam, terdengar pekikan nyaring dari kamar Aya.
Gadis yang sedang tidur pulas itu terkejut ketika seseorang menimpanya dari atas.
Dalam cahaya remang kamar, Aya mencoba mendorong tubuh itu menjauh. Dia mencium aroma alkohol keluar dari mulut yang sudah mendengkur dengan teratur itu.
Setelah terbiasa dalam kegelapan, Aya dapat melihat bahwa orang yang tadi jatuh menimpanya adalah Arjuna. Pria mabuk itu kemungkinan salah masuk kamar, lalu tidur begitu saja.
Sambil menggeleng dia mengatur posisi tidur Arjuna agar lebih nyaman. Kemudian Aya melanjutkan tidurnya di sofa panjang yang ada di dalam kamar.
Namun menjelang subuh, dia merasa diganggu lagi. Kali ini aroma alkohol basi menguar sangat kuat dari mulut Arjuna yang sedang menceracau sambil mencoba menciumnya.
"Kau gadis nakal dan selalu menyulitkan adikku. Kau membuat dia mati begitu cepat! Kau sudah membunuhnya!" ujar Arjuna tanpa sadar.
Aya mendorong tubuh pria itu menjauh. Tapi tenaga Arjuna tidak sebanding dengannya. Meskipun tidak menyadari keadaan, Arjuna masihlah pria yang kuat. Bagian tubuhnya yang lain tidak ikut mabuk dan hanya bergerak berdasarkan insting.
Aya menangis tersedu-sedu mendapat perlakuan kasar dan tanpa penghormatan dari pria itu. Arjuna justru terus melontarkan sumpah serapah sambil meledakkan laharnya. Aya merasa sangat terluka dan tidak berharga.
Dia beringsut meninggalkan sofa terkutuk yang kembali membuai Arjuna dalam dengkurannya. Kemudian lari ke kamar mandi sambil memunguti semua pakaiannya yang terserak di lantai.
__ADS_1
Di bawah guyuran hangat shower, air mata gadis itu berderai jatuh. "Apakah seperti ini kehidupan pernikahan yang harus kujalani?" batinnya pilu.
Sekarang dia tahu bahwa Arjuna menikahinya bukan untuk melindunginya seperti yang ditunjukkannya semalam. Tapi untuk membalas dendam atas kematian Dewa. Pria itu membencinya dan menganggapnya sebagai peyebab kematian Dewa.
Setelah gigil yang dirasakannya tak dapat lagi ditanggung, Aya kemudian keluar dari kamar mandi. Dilihatnya pria buas itu masih mendengkur di sofa. Sementara matahari mulai menyingsing.
"Apapun juga, inilah pernikahanku. Jika dengan menjalani semua ini bisa membayar kesalahanku pada Dewa, maka akan kujalani," tekadnya.
Hatinya terasa membeku. Dia tak berharap akan jatuh cinta lagi pada pria mana pun. Dia hanya akan menjalani hari-hari seperti seharusnya seorang istri menjalani kewajiban.
"Tuan tidak berangkat kerja, Nyonya?" tanya pelayan wanita.
"Biarkan saja. Dia masih tidur," jawab Gayatri.
"Baik, Nyonya. Anda ingin sarapan sup atau sesuatu untuk menambah tenaga?" tanya wanita tua itu seraya tersenyum penuh arti.
"Aku agak pusing. Berikan sesuatu seperti sup yang hangat," pinta Aya sambil mengalihkan pandangan ke jendela.
Pelayan wanita itu segera menghidangkan sup ayam yang harumnya menggugah selera. Aya segera menikmati sup itu dengan nikmat. Dia tak menyadari pandangan penuh arti pelayan tua itu.
Setelah sarapan, Aya langsung menuju ke halaman. Sopir yang tak menyangka Aya akan keluar lebih pagi, terkejut. Pria itu segera meninggalkan tehnya di meja taman dan mendekati Aya.
"Ya. Apa mobil sudah siap?" tanya Aya.
"Siap, Nyonya. Mari saya antar."
*
*****
Arjuna terkejut saat bangun, hari sudah tinggi. Kepalanya pusing dan dalam keadaan polos di atas sofa. Dia lebih terkejut lagi ketika melihat sekitar. Itu kamar Aya!
"Apa yang terjadi?" pikirnya bingung. Kemudian berusaha bangun. Alangkah terkejutnya Arjuna melihat sisa pertempuran semalam dan noda darah di atas kain sofa.
"Ya Tuhan!" serunya tak percaya. "Dia masih suci!" desisnya sekali lagi.
Bergegas dia menuju kamarnya sendiri sambil menjambak rambut penuh penyesalan. "Maafkan aku, Dewa. Aku memang monster. Bahkan tidak dapat menjaga permata yang kau titipkan padaku!"
Satu jam kemudian Arjuna sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kantor.
"Sarapan dulu, Tuan," sapa pelayan wanita tua itu.
__ADS_1
Arjuna menggeleng. "Apakah nyonya sudah berangkat?" tanyanya sambil terus berjalan.
"Nyonya berangkat pagi sekali, Tuan."
"Bersihkan kamarnya!" perintah Dewa sebelum berlalu.
*
*****
Di kantor Gayatri, seorang kurir dari sebuah florist ternama, datang membawa satu buket besar mawar putih. Gayatri dipanggil ke resepsionis untuk menerima paketnya.
Dengan heran dia membaca kartu yang terselip. "Maafkan aku, My Jewel. Dari suamimu yang penuh penyesalan, Arjuna."
Wajah Gayatri langsung memerah. Kata-kata itu segera mengingatkannya pada pengalaman kemarin malam yang membuatnya sakit hati dan makin membenci pria itu.
Dia ingin sekali melempar buket mawar itu ke tempat sampah. Tapi itu tak boleh dilakukannya di depan mata rekan kantor yang sedang mencari-cari kejelekannya. Akhirnya bunga itu dibawa ke mejanya.
Baru saja dia duduk, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari pria yang paling dibencinya. Dia mematikannya dan berusaha tak peduli. Tapi ponsel itu menjerit lagi, minta diangkat.
"Apa lagi!" desisnya dengan suara tertahan, agar tak terdengar oleh orang lain. Wajahnya membeku melihat Arjuna tidak puas hanya mendengar suaranya, tapi membuka panggilan video call.
"Aku sedang sibuk!" tolak Aya sewot.
"Aku akan terus memanggilmu. Kalau perlu aku akan memanggil direkturmu agar aku bisa melihat wajahmu sebentar!" ancam Arjuna tak tahu malu.
"Tak tahu malu!" geram Aya sebal. Dengan terpaksa diterimanya panggilan video Arjuna.
"Apa kau sudah puas?" Aya berkata dengan ketus.
"Puas! Sangat puas. Terima kasih. Apa kau sudah menerima bunga yang kukirim? Apa kau suka?" berondong Arjuna begitu melihat wajah Aya.
"Tidak!" sahut Aya masih dengan suara ketus.
"Tidak suka? Kau suka apa? Emas? Berlian? Permata? Sebut saja!" tanya Arjuna bersemangat.
"Aku lebih suka kau enyah dari hidupku!" ujar Aya lirih, namun penuh penekanan.
"Sayang, maafkan ak---"
Belum selesai Arjuna bicara, panggilan itu diputus Aya.
__ADS_1