PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
60. Dicky dan Amplop Coklat


__ADS_3

"Apa isinya?" tanya Arjuna tak sabar.


"Sebuah catatan dan amplop lain," jawab Dicky.


"Catatan apa? Amplop apa?" Arjuna sudah tak sabar dengan informasi Dicky yang terpotong-potong.


"Catatan itu untuk saya. Pesan agar menyampaikan amplop yag ada bersamanya, kepada Anda!"


"Mana Amplopnya!" Arjuna tak sabar.


Dicky memasukkan tangan ke balik jaket kulit dan mengeluarkan sebuah amplop coklat sederhana. Amplop itu diletakkannya di meja dan disorongkan ke hadapan Arjuna.


Dengan tangan gemetar dan pikiran kacau Arjuna mengambil amplop itu.


"Apa maksudnya ini? Kemarin aku bertemu dengan keluarga Pak Salam. Aku masih merasa kebetulan, ketika menerima brangkas besi dari mereka."


Pikiran Arjuna terlalu pusing sekarang. Tak dikiranya Dewa yang terlihat polos itu, ternyata penuh dengan teka-teki.


"Melihat amplop ini, aku yakin semua ini bukanlah suatu kebetulan. Kau telah mengatur dan mempersiapkan banyak hal. Seakan kau tahu bahwa hal buruk akan menimpamu, cepat ataupun lambat!" Arjuna membatin, seperti sedang mengomeli Dewa.


"Apa kau tahu apa isi amplop ini, kira-kira?" Arjuna menunjukkan amplop itu pada Dicky.


Pria itu hanya menggeleng. Dia mengambil sesuatu di saku jaket dan meletakkannya di meja.


"Ini kartu nama saya. Anda bisa hubungi saya, jika membutuhkan jasa investigator profesional," katanya.


Pria itu berdiri dari duduk "Tugas sudah diselesaikan. Saya pamit."


"Tunggu!" cegah Arjuna. Tangannya yang satu sudah memegang kartu nama pria itu dan membacanya sekilas.


OB masuk dan menghidangkan minuman segar untuk keduanya, lalu keluar.


"Ada apa?" tanya orang itu setelah pintu ruangan ditutup kembali.


"Istriku hilang. Sudah berbulan-bulan, tidak dapat ditemukan!" kata Arjuna. Pria itu berharap bisa punya kemajuan, jika memakai jasa investigator yang sebelumnya bekerja untuk Dewa.


Dicky kembali duduk, setelah mendengar masalah Arjuna. "Anda ingin saya mencarinya? Bisa katakan bagaimana kejadian itu bermula?" Dicky mengeluarkan mesin perekam. Alat itu diletakan di atas meja, siap untuk mendengarkan uraian Arjuna.


Untuk kesekian kali Arjuna harus mengulang cerita yang sama pada setiap investigator baru yang direkrutnya.


"Tunggu sebentar. Istri Anda adalah Mbak Gayatri? Yang dulu juga istri Dewa?" Dicky ingin memastikan kebenarannya. Apakah itu orang yang sama, ataukah hanya namanya saja yang sama.

__ADS_1


"Orang yang sama! Dewa yang meminta kami menikah, setelah dia meninggal. Sampai sekarang, aku tidak mengerti alasan dia membuat wasiat konyol seperti itu!" dengus Arjuna sedikit kesal.


Dahi Dicky sedikit mengerut, mencoba merangkai beberapa hal yang diperiksanya untuk Dewa. "Sebelum menikah dengan Mbak Aya, Dewa meminta saya menyelidiki pria yang bernama Reynald yang sebelumnya pernah menjadi calon suami kedua Mbak Aya."


"Apa? Untuk apa dia melakukan hal itu? Apa Dewa cemburu pada pria itu, karena Aya terus menolak untuk menikahinya?" tanya Arjuna heran.


Dicky menggeleng. "Investigasi itu untuk mengetahui kehidupan pria itu yang sebenarnya. Untuk mencocokkan dengan laporan dari Mbak Aya," jelas Dicky.


"Apa perlunya itu?" tanya Arjuna yang masih belum mengerti inti masalahnya.


"Untuk membalas pria yang sudah menipu keluarga Mbak Aya!" Dicky mengakhiri penjelasannya.


"Kau ... Membalaskan dendam Aya pada pria itu?" Mata Arjuna melebar. "Kau juga bersedia bermain kotor ternyata."


Senyum sinis Arjuna tak dapat diterima Dicky. "Kami tidak berbuat kotor. Saya bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Orang keji seperti itu, akan mendapatkan karmanya sendiri. Kita hanya perlu membuka jalan agar karma itu langsung menuju ke sana!" Dicky merasa bangga dan puas dengan kepintarannya.


"Hah! Si Reynald itu akhirnya kena karma lewat tangan yang lain? Ahahahaa ...." Arjuna tertawa terbahak-bahak.


"Kau sangat pintar. Tapi masih belum cukup pintar, jika tidak dapat menemukan istriku!" tantang Arjuna.


Dicky tersenyum miring. Pria di depannya typical orang yang sulit untuk memuji dengan tulus.


"Selama bayarannya sesuai, tentu saja akan saya kerjakan secara maksimal!" jawab Dicky tegas. Dia tak merasa kecil hati sama sekali, meskipun Arjuna berbeda dengan Dewa.


"Uang yang saya minta di muka adalah untuk biaya perjalanan mencari informasi. Bukan bayaran saya. Anda bisa membayar saya setelah mendapatkan hasilnya saja!" tegas Dicky.


Ruangan kerja Arjuna terus tertutup hingga pukul empat sore. Dicky keluar dari ruangan dengan wajah serius. Dia melewati Luna begitu saja.


Arjuna masih memandangi amplop coklat yang tadi diantarkan Dicky padanya.


"Bagaimana Dewa bisa mengirim amplop ke tempat Dicky, sementara dia sudah meninggal cukup lama?" Arjuna terus berpikir hingga merasa sakit kepala dan sedikit rasa mual, menderanya.


"Bos, apa anda tidak ingin makan?"


Pertanyaan Luna mengingatkan Arjuna bahwa dia melewatkan makan siang karena kedatangan Dicky tadi. Pantas saja dia merasa sedikit tidak nyaman.


"Pesankan makanan hangat dan berkuah untukku. Aku merasa tidak enak badan," perintah Arjuna.


"Baik, Bos!"


Setengah jam kemudian, makanan diantarkan Luna ke ruangan Arjuna. Piring yang dipegangnya jatuh ke lantai dan pecah.

__ADS_1


"Bos!" teriaknya panik.


Di depannya, Arjuna jatuh pingsan di lantai, dekat meja kerjanya.


Luna berlari ke resepsionis dan mengabarkan keadaan Arjuna pada Security.


"Panggilkan ambulans!" perintahnya.


Bersama dua security, Luna masuk ruangan. Dua pria itu memindahkan tubuh Arjuna ke sofa ruang kerja. OB dengan sigap membersihkan piring yang pecah dan makanan yang tumpah membasahi lantai.


Luna menggunakan minyak kayu putih untuk digosok di dahi Arjuna dan didekatkan ke hidung, untuk membangkitkan kesadarannya. Tapi pria itu tidak memberi reaksi apapun.


"Bagaimana, ini," Luna menjadi cemas. Dewa baru saja meninggal, jangan sampai Arjuna juuga menyusul. Bagaimana nasib kantor ini? Ditambah lagi, dengan Aya yang belum juga ditemukan.


"Bos sangat sress beberapa bulan ini, karena masalah hilangnya Bu Aya," kata salah seorang security.


"Bos bahkan baru diantarkan makan siang jam segini. Gimana enggak pingsan toh." OB ikut nyeletuk sambil menyeka lantai.


Para karyawan itu melihat Arjuna dengan prihatin. "Cepat sadar, Bos. Kita masih butuh Bos di sini, biarpun galak, juga," timpal Luna.


Tiga karyawan lain memandangnya dengan takjub. Berani mengungkapkan hal sesensitif itu d depan Arjuna.


"Ambulan sudah datang!" Gadis resepsionis berlari masuk, mengantarkan petugas ambulans.


Luna ditanyai macam-macam tentang sebab Arjuna jatuh pingsan.


"Tidak tahu. Saya berada di meja saya. Bos sudah tertelungkup di lantai, saat say masuk mengantar makan siang."


Dua petugas ambulans memeriksa denyut nadi dan semuanya yang tak dimengerti Luna.


"Kami harus membawanya ke rumah sakit. Salah seorang dari kalian harus ikut!" ujar petugas itu.


"Saya ikut!" Luna mengajukan diri dengan cepat. Bagaimana pun, dia harus membereskan urusan administrasi rumah sakit, nanti.


*


*


Arjuna sedang didorong masuk ke ugd, ketika sebuah brankar lain didorong lebih cepat, untuk mendahului Arjuna. Luna kesal melihat orang lain menyerobot antriannya dan mendapatkan layanan lebih dulu.


Namun, sebelum Luna berkata apa-apa, seorang pria berkulit gelap dan bertubuh tinggi tegap, menatapnya dengan tajam, mengisyaratkan jangan berbuat macam-macam.

__ADS_1


Gadis itu mengkerut di tempatnya dan membiarkan kelompok baru itu dilayani lebih dulu. Diliriknya brankar pasien yang mereka dorong. Pasiennya ditutupi hingga rambutnya pun tak terlihat. Tapi Luna yakin, itu adalah pasien wanita yang sedang hamil cukup besar.


*******


__ADS_2