PENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABUR
14. Pernikahan Aya


__ADS_3

Aya didudukkan di kursi tersendiri di balik sekat. Kemudian papi meninggalkannya di situ.


Papi pergi ke tempat di mana orang-orang berkumpul. Aya tak bisa melihat siapa calon suaminya dari sekat itu. Dan tak ada juga Radit ataupun istrinya yang mau menemaninya. Dia benar-benar ditinggalkan sendirian. Bahkan para art melewatinya begitu saja.


Sepertinya semua kompak cuek setelah usahanya melarikan diri ketahuan. "Apa aku salah menuntut balas pada orang yang sudah menyakiti keluargaku?" pikirnya bingung.


Aya merasa serba salah. Dia menunduk sedih dan diam di tempatnya. Bahkan saat satu jam kemudian semua orang mulai riuh dan mengucapkan kata sah, dia bergeming. Hatinya membeku.


Kemudian mami datang dengan wajah berseri-seri. Kemarahannya dua jam yang lalu, sudah menghilang entah ke mana. "Ayo, bertemu dengan suamimu!" kata mami seraya menarik tangan Aya untuk segera berdiri.


Tubuh Aya mengikuti mami seperti robot. Tak ada senyuman yang menghias wajahnya. Mami membawa Aya menuju meja di ujung ruangan. Ada papi dan dua pria lain di situ.


Aya berpikir cepat. Selain papi, maka harusnya yang seorang adalah penghulu. "Jadi, yang agak gendut itukah suamiku?" batinnya.


Dan ketika Aya makin dekat, pria yang harusnya lebih tua dari papi itu memamerkan senyumnya. "Apakah ini pengantinnya? Cantik sekali. Masha Allah," katanya memuji.


Namun kata-kata itu membuat telinga Aya panas dan wajahnya memerah. Perutnya ikutan mual membayangkan suami yang dipilih papi, seperti seorang bandot tua yang sinar matanya membuat Aya risih.


"Ayo, duduk di sini," panggil pria itu masih dengan senyuman lebar. Aya memilih duduk di kursi yang sebuah lagi. Jadi masih ada satu kursi kosong lagi antara dirinya dan pria tua itu.


"Kamu tanda tangan surat-surat ini dulu." Penghulu menunjukkan beberapa berkas yang harus ditanda tanganinya. Aya membaca berkas-berkas yang disodorkan padanya. Dia langsung mencari bagian tanda tangan. Matanya membesar melihat nama suami yang tertera di sana.


"Dewananda?" celetuknya tak percaya.


"Apa bukan dia calon suamimu?" tanya penghulu heran.

__ADS_1


Aya menoleh pada pria tua yang juga sama herannya. "Apa pria tua itu juga bernama Dewananda?" pikirnya. Atau keluarganya menutupi dan menggantikan pria itu tanpa mengganti nama yang sudah diajukan ke KUA?


Aya memejamkan matanya dengan pasrah. Setelah membuka mata, dia langsung menanda tangani berkas, tanpa bertanya lagi.


"Dewa! Cepatlah! Apa urusanmu belum selesai juga dari tadi?" panggil pria tua itu ke arah pintu masuk.


"Sebentar!" sahut seseorang dari luar rumah.


Aya terpaku. Dia mendengar suara Dewa di luar. "Jadi benaran Dewa yang jadi suamiku? Lalu siapa pria tua ini?" batin Aya terheran-heran. Meskipun penasaran, Aya tetap menunduk, menunggu Dewa masuk dan menanyakan kenapa dia tak menghubungi selama beberapa hari.


Aya merasakan seseorang duduk di kursi di sampingnya. Dia menoleh untuk memastikan. Benar saja, di sebelahnya adalah Dewa.


Dewa menyodorkan ponselnya pada Aya. Dengan cepat dilihatnya apa yang ditampilkan di sana.


"Orang itu masuk rumah sakit setelah dihajar oleh suami salah seorang selingkuhannya!" Begitu bunyi pesan yang ditunjukkan Dewa.


Aya tak perlu melanjutkan pertanyaannya, karena Dewa langsung mengangguk. Gayatri juga mengangguk dan tersenyum. Itu senyum pertamanya hari ini.


"Terima kasih!" lirihnya.


Dewa mengangguk sekali lagi.


"Jadi, betul dia orangnya?" Pak Penghulu bertanya sekali lagi pada Aya, untuk memastikan bahwa mereka tidak salah menikahkan orang.


Aya mengangguk dengan yakin.

__ADS_1


"Baik, semua surat-surat sudah beres. Kalian sudah sah menjadi suami istri ...."


Penghulu masih memberikan nasehat panjang yang sebagian besar tak didengar oleh Aya. Dia tenggelam dalam kebahagiaan setelah mengetahui bahwa Reynald masuk rumah sakit akibat ulahnya sendiri. Hatinya merasa lega.


"Benar juga kata mutiara di medsos. Melihat mantan kecebur got aja udah bahagia. Apa lagi sampai masuk rumah sakit segala." Aya tersenyum sambil menundukkan kepala. Rasanya dewi keberuntungan sedang berpihak padanya.


Acara berlangsung hingga siang hari. Keluarga Dewa pulang setelah selesai perjamuan. Dan ternyata pria tua itu adalah bapaknya Dewa yang sudah bercerai dari ibunya. Hari itu Aya bisa lihat seperti apa keluarga Dewa. Bapaknya bahkan membawa istrinya yang lain ke tempat Gayatri. Sementara Dewa membawa ibu dan adik-adiknya.


"Apakah dia bisa setia padaku seperti pernikahan papi dan mami? Atau dia akan mengikuti jejak bapaknya?" pikir Aya risau.


Setelah menentukan tanggal resepsi, keluarga Dewa pulang dan meninggalkan pria itu di rumah Aya.


Gayatri lega, karena tak harus tinggal bersama keluarga Dewa. Dia selalu canggung jika bertemu dengan orang baru.


"Om, saya minta ijin membawa Aya pulang ke apartemen saya," kata Dewa pada papi.


"Jangan panggil Om lagi. Panggil papi saja. Dan jika kau mau membawa Aya, maka setelah kami menikahkannya padamu, kami tak punya hak lagi untuk menahannya di sini," jelas papi.


Eyang menoleh pada mami. "Bantu Aya menyiapkan koper dan masukkan semua baju serta perlengkapannya. Dia akan mengikuti suaminya mulai sekarang!" Perintah Eyang sangat jelas dan tegas.


Mami bangkit dan menarik tangan Aya untuk memeriksa barang apa saja yang ingin dibawanya.


"Kamu sekarang harus bersikap lebih dewasa dan bertanggung jawab. Sudah saatnya kau melayani suami. Itu tugasmu sebagai istri. Jangan mudah ngambek. Jangan bersikap egois ...."


Telinga Aya terasa panas mendengar tuturan mami yang tiada henti. Dalam dua jam, semua barang-barangnya sudah siap untuk diangkut. Ada dua koper baju dan satu tas besar berisi aneka pernak-pernik.

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar. Dewa segera pamit untuk pergi, setelah mendengarkan petuah papi dan eyang sekali lagi.


******


__ADS_2